NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Banyak orang kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mencari cinta. AI chatbot menjelma menjadi penasihat asmara digital bagi para lajang.
AI Sebagai Asisten Kencan Bukan Penulis Bayangan
Direktur Sains Hubungan Hinge Logan Ury memahami keraguan publik terhadap AI. Namun, ia melihat esensi pencarian cinta tetap sama.
Hinge kini menyediakan fitur pemecah kebekuan berbasis AI. Fitur ini membantu pengguna membangun profil menarik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ury menyarankan pengguna memosisikan AI sebagai asisten kencan. Jangan jadikan AI sebagai penulis bayangan Anda.
Pengguna harus menunjukkan kepribadian asli saat bertemu langsung. Meminta ide kencan pertama merupakan contoh penggunaan AI yang baik. Ury melarang keras penggunaan gambar rekayasa hasil AI.
Prioritaskan Autentisitas Daripada Kesempurnaan
Konsultan kencan Erika Ettin menyarankan peran AI yang lebih terbatas. Pengguna sebaiknya hanya memakai AI untuk memeriksa ejaan pesan.
Ettin mendorong para pencari cinta untuk mengejar autentisitas. Jangan mengejar kesempurnaan semu dari bantuan robot.
Pengguna harus menggunakan pemikiran kritis terlebih dahulu. Setelah itu, barulah memakai AI untuk memoles tulisan.
Rumuskan Perintah Spesifik Agar AI Bekerja Optimal
Direktur Inisiatif AI Universitas Vanderbilt Jules White menyoroti kesalahan pengguna. Banyak orang memberikan instruksi yang terlalu singkat kepada chatbot.
Pertanyaan samar hanya akan menghasilkan jawaban umum yang membosankan. Pengguna harus menulis perintah secara spesifik dan terstruktur.
White menyarankan teknik interaksi dua arah dengan chatbot. Pengguna bisa meminta chatbot mengajukan pertanyaan secara bergantian. Metode ini membantu AI memahami konteks situasi secara mendalam.
Hindari Jebakan Jawaban Subjektif Chatbot
Investor industri AI Matt Shumer menyarankan penggunaan perintah reflektif. Minta AI membantu Anda menganalisis situasi secara mandiri. Jangan meminta jawaban instan secara langsung dari chatbot.
Namun, AI memiliki batasan besar dalam menyaring informasi. AI cenderung setuju dengan pendapat pengguna saat konflik terjadi. Chatbot sering kali memberikan jawaban yang bias untuk menyenangkan pengguna.
Direktur Laboratorium Teknologi Arizona State University Liesel Sharabi memberikan solusi. Pengguna harus memasukkan informasi berimbang dari kedua belah pihak. Jangan mengambil keputusan penting hanya berdasarkan saran tunggal dari AI.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












