BNPB mencatat korban meninggal akibat gempa M 7,7 di Nusa Tenggara Timur bertambah menjadi 14 orang hingga Sabtu siang. Ribuan warga mengungsi setelah guncangan kuat dan peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan BMKG.
NUSA TENGGARA TIMUR, POSNEWS.CO.ID – Duka mendalam menyelimuti Nusa Tenggara Timur (NTT).
Korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB bertambah menjadi 14 orang berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 12.30 WIB.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain korban meninggal, BNPB juga mencatat dua orang mengalami luka berat dan 11 orang luka ringan.
Pendataan korban dan kerusakan masih terus dilakukan sehingga jumlah tersebut dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan korban meninggal sementara tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak enam orang, Kabupaten Manggarai Timur lima orang, dan Kabupaten Sikka tiga orang.
โData korban merupakan data sementara dan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi oleh BPBD bersama unsur terkait,โ ujar Berton.
Ribuan Warga Mengungsi
Selain menelan korban jiwa, gempa besar tersebut juga memicu kepanikan di berbagai wilayah.
Sekitar 2.000 warga melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri, sementara sedikitnya lima kepala keluarga dilaporkan terdampak langsung.
Sebagian besar warga memilih meninggalkan rumah mereka setelah merasakan guncangan kuat selama sekitar satu menit dan mendengar adanya peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan BMKG.
Guncangan Terasa Hingga Sulawesi Selatan
Gempa utama berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Guncangan kuat dirasakan di Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat, dan Kota Bima, serta menjalar hingga Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros di Sulawesi Selatan.
โGempa utama sempat memicu peringatan dini tsunami. BPBD bersama unsur terkait segera mengarahkan masyarakat di wilayah pesisir untuk melakukan evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi dan aman,โ kata Berton.
Peringatan Tsunami Resmi Dicabut
BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.31.30 WIB setelah tidak ditemukan kenaikan muka air laut yang signifikan.
Namun, aktivitas seismik masih berlangsung. Pascagempa utama, tercatat sedikitnya empat gempa susulan berkekuatan M5,5 hingga M6,2, dan seluruhnya tidak berpotensi tsunami.
BNPB Terus Lakukan Pendataan dan Penanganan
BPBD bersama TNI, Polri, dan pemerintah daerah terus mendata korban, kerusakan, dan kebutuhan warga terdampak.
BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang, menghindari bangunan rusak, dan hanya mengikuti informasi resmi.
Warga di wilayah pesisir juga diminta terus mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah meskipun peringatan dini tsunami telah dicabut.
Kesiapsiagaan Menyelamatkan Nyawa
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang memiliki aktivitas tektonik tinggi.
Kesiapsiagaan, kepatuhan jalur evakuasi, dan informasi resmi penting untuk mengurangi risiko korban jiwa. BNPB akan terus memantau dan memperbarui data gempa melalui kanal resmi pemerintah, BNPB, dan BMKG.**
Editor : Hadwan














