E-Textile Diklaim Revolusioner, Namun Ancam Limbah

Minggu, 16 Agustus 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peneliti tengah mengembangkan tekstil elektronik pintar yang mampu memantau kesehatan tanpa sumber daya eksternal. Dok: Istimewa.

Peneliti tengah mengembangkan tekstil elektronik pintar yang mampu memantau kesehatan tanpa sumber daya eksternal. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, JAKARTA — Peneliti tengah mengembangkan tekstil canggih yang tampak seperti pakaian biasa, namun dilengkapi fungsi elektronik tertanam. Teknologi ini dikenal dengan sebutan e-textile, electronics textile, atau smart fabric.

Teknologi Kain Pintar yang Menyerupai Pakaian Biasa

E-textile mengintegrasikan sensor, komputasi, dan sumber daya langsung ke dalam serat kain. Benang berfungsi sebagai sensor, sementara jahitan berperan sebagai sirkuit elektronik.

Tekstil ini mampu memantau kesehatan, suhu, gerakan, dan kualitas udara penggunanya. Selain itu, e-textile juga dapat berkomunikasi secara nirkabel dan memanen berbagai bentuk energi dari tubuh manusia sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Prototipe dari universitas dan industri kini tengah menjalani uji klinis dan pengujian di luar laboratorium. Pasar global e-textile diproyeksikan mencapai lebih dari $15 miliar pada 2028.

Perkembangan e-textile berpotensi merevolusi cara manusia memandang pakaian. Namun, pertanyaan besar tetap muncul soal biaya lingkungan yang harus dibayar.

Ancaman Jenis Limbah Baru

Limbah elektronik menjadi aliran limbah dengan pertumbuhan tercepat di Uni Eropa, mencapai rekor 62 juta ton pada 2022. Di sisi lain, limbah tekstil global mencapai 92 juta ton dan diperkirakan meningkat hingga 134 juta ton pada 2030.

Tekstil saja menyumbang 6,7 persen emisi gas rumah kaca global. Rata-rata warga Eropa membuang 11 kilogram tekstil setiap tahun.

E-textile akan membawa jenis limbah hibrida baru ke dalam persoalan ini. Produk ini umumnya menggunakan campuran polimer, tinta nanopartikel logam, dan komponen yang menciptakan risiko kebakaran dalam proses daur ulang tekstil konvensional.

Baca Juga :  Mencuri Bintang: Bahaya Polusi Cahaya yang Terlupakan

Bahan Berharga yang Terjebak dalam Limbah

E-textile dapat melepaskan residu beracun jika dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan akhir. Kondisi ini menjebak material berbahaya sekaligus berharga di dalam pakaian, termasuk graphene dan elemen tanah jarang.

Industri menggunakan perak dalam benang konduktif, pelapis antimikroba, sensor, dan elektroda. Perak tergolong berharga sekaligus beracun bagi kehidupan akuatik dalam bentuk tertentu, sehingga peneliti perlu menemukan cara memulihkannya.

Saat ini, memulihkan material berharga dari pakaian pintar yang sudah dibuang masih sangat sulit dilakukan. Metode pembuangan yang ada perlu berubah untuk mengatasi material baru ini, terutama dalam aspek kemampuan pakai ulang dan daur ulang.

Regulasi Uni Eropa Mulai Bergerak

Strategi tekstil berkelanjutan dan sirkular Uni Eropa menjadi bagian dari rencana besar kawasan tersebut menjadi benua netral iklim pertama di dunia. Regulator kini menuntut aturan lebih jelas soal daur ulang, keamanan kimia, dan masa pakai produk.

Regulator juga mulai mempertanyakan bagaimana e-textile akan memenuhi persyaratan tersebut. Praktik industri secara lebih luas mulai menyesuaikan diri, dan tanggung jawab produsen pakaian semakin besar.

Paspor produk digital, yang memuat informasi material dan dampak lingkungannya, kini mulai berkembang bersama teknologi daur ulang baru. Perubahan ini berarti produsen berpotensi menghadapi risiko hukum dan komersial jika mengabaikan dampak jangka panjang produk mereka.

Solusi Praktis Mencegah Limbah Baru

Kabar baiknya, e-textile berkelanjutan sebenarnya merupakan persoalan rekayasa dengan solusi praktis. Industri dan penyandang dana dapat segera menerapkan sejumlah langkah kunci berikut.

Desain untuk pembongkaran memungkinkan komponen elektronik dilepas secara terpisah dari tekstil untuk didaur ulang. Paspor material dan transparansi lewat catatan digital berbagai komponen turut memungkinkan penyortiran dan pemulihan yang aman.

Baca Juga :  Budaya Over-Sharing di Media Sosial: Ketika Privasi Menjadi Komoditas Publik

Konduktor biodegradable dan dapat didaur ulang menjadi prioritas berikutnya, dengan menghindari logam berharga dan beralih ke pasta karbon cetak atau tinta serta benang konduktif yang dapat didaur ulang. Desain berorientasi energi juga penting, mengintegrasikan pemanenan energi tekstil lewat panel surya, termoelektrik, atau nanogenerator piezo/triboelektrik untuk mengurangi ketergantungan baterai.

Standar untuk daya tahan cuci, ketahanan, dan pengujian akhir masa pakai turut diperlukan agar produk mampu bertahan dalam penggunaan nyata dan dapat diperbaiki, bukan langsung dibuang.

Tanggung Jawab Bersama Berbagai Pihak

Langkah-langkah ini bukan sekadar opsi tambahan, melainkan penentu apakah e-textile akan menjadi kebaikan publik atau justru beban lingkungan baru. Kelompok riset universitas dan konsorsium industri kini mulai mendemonstrasikan komponen elektronik yang dapat dicetak dan direntangkan, sekaligus menguji coba transmisi daya nirkabel untuk mengurangi ketergantungan baterai.

Komponen elektronik yang dapat dicetak dan direntangkan ini tetap berfungsi meski kain melengkung atau meregang. Fitur ini membuat pakaian pintar terasa nyaman, ringan, dapat dicuci, dan bergerak alami mengikuti tubuh penggunanya.

Pemerintah perlu menetapkan aturan jelas soal daur ulang dan keamanan kimia untuk e-textile. Peneliti universitas harus menemukan metode agar e-textile tetap fungsional, terjangkau, berkelanjutan, dan aman.

Merek pakaian wajib mempublikasikan detail material dan panduan perbaikan, serta memastikan praktik berkelanjutan diterapkan sepanjang rantai pasoknya. Investor sebaiknya tidak mendanai produk sekali pakai yang sekadar tren sesaat, sementara badan standar perlu menetapkan metode pengujian untuk pencucian, pemakaian, dan pemulihan di akhir masa pakai produk.

Jika pemerintah dan pelaku industri segera mengadopsi desain berkelanjutan, langkah ini berpotensi mengarahkan pasar menuju produk yang lebih tahan lama, dapat diperbaiki, dan dapat didaur ulang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Meta Hapus Lebih dari 750.000 Akun Anak di Bawah 16 Tahun
Komunitas Kolektor Komputer Vintage Kian Berkembang
Qualcomm Snapdragon C Resmi Diumumkan untuk Laptop
TECNO Resmi Perkenalkan POVA 8 Pro 5G
Xbox Luncurkan Controller Limited Edition Gears of War
Harga Kartu Grafis AMD Radeon RX 9000 Series Resmi Naik
Modder Ubah Nubia Z70 Ultra Menjadi PC Linux
Commodore Hidupkan Kembali Joystick Legendaris Suncom TAC-2

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Meta Hapus Lebih dari 750.000 Akun Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 16 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Komunitas Kolektor Komputer Vintage Kian Berkembang

Minggu, 16 Agustus 2026 - 07:00 WIB

E-Textile Diklaim Revolusioner, Namun Ancam Limbah

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Qualcomm Snapdragon C Resmi Diumumkan untuk Laptop

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:35 WIB

TECNO Resmi Perkenalkan POVA 8 Pro 5G

Berita Terbaru

Meta mengumumkan telah menghapus lebih dari 750.000 akun Facebook dan Instagram yang diduga milik warga Australia. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Meta Hapus Lebih dari 750.000 Akun Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 16 Agu 2026 - 09:00 WIB

Komunitas kolektor komputer vintage terus berkembang di berbagai negara, melestarikan mesin-mesin klasik seperti Atari, Commodore, dan IBM. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Komunitas Kolektor Komputer Vintage Kian Berkembang

Minggu, 16 Agu 2026 - 08:00 WIB

Ilustrasi, kaca retak. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Diduga Flare Jatuh, Kaca Mobil Warga Retak Saat Gladi Demo Udara

Minggu, 16 Agu 2026 - 07:05 WIB

Peneliti tengah mengembangkan tekstil elektronik pintar yang mampu memantau kesehatan tanpa sumber daya eksternal. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

E-Textile Diklaim Revolusioner, Namun Ancam Limbah

Minggu, 16 Agu 2026 - 07:00 WIB