POSNEWS.CO.ID, KATHMANDU — Tim penyelamat menyisir lembah dan perbukitan Himalaya pada Kamis. Banjir bandang yang melanda kawasan tersebut menewaskan sedikitnya 359 orang, sementara hampir 1.000 orang lainnya masih hilang.
Ancaman Banjir Susulan dari Dua Danau
Kedua negara menyatakan longsoran gletser pada Rabu pagi memicu aliran deras batu, es, lumpur, dan puing. Aliran tersebut melalui sistem sungai pegunungan Himalaya, lalu menyapu desa-desa dan infrastruktur penting di jalur penghubung Kathmandu dengan Lhasa, Tibet.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal memperingatkan danau yang terbentuk akibat sumbatan Sungai Bhotekoshi terus meninggi. Danau tersebut kini berisiko jebol kapan saja. Sementara itu, China melaporkan sekitar 3 juta meter kubik air diperkirakan mengalir ke danau yang sudah tersumbat dalam tiga hari mendatang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Media pemerintah China mengutip kementerian sumber daya air soal risiko jebolnya danau tersebut. Risiko ini tergolong tinggi, dengan puncak aliran diperkirakan sekitar 1 September.
Kehancuran di Perlintasan Perbatasan Gyirong
Tim penyelamat China belum menjangkau area terparah di sisi perbatasan China hingga Kamis sore. Area tersebut adalah perlintasan Gyirong, salah satu titik terdampak paling parah.
Rekaman dramatis menunjukkan seluruh bangunan di kompleks perlintasan tersebut hancur akibat longsoran lumpur. Gerbang perbatasan turut menjadi salah satu bangunan yang rata dengan tanah.
China melaporkan 558 orang hilang di Kabupaten Gyirong, termasuk 260 warga negara asing. Sementara itu, jumlah korban tewas di sisi China tetap tercatat tiga orang.
Perdana Menteri China Li Qiang tiba di lokasi bencana pada Kamis sore. Kunjungan ini menandakan Beijing memperlakukan bencana tersebut sebagai prioritas nasional tertinggi.
Pencarian Korban di Nepal
Palang Merah Nepal melaporkan seluruh desa hancur akibat bencana ini. Selain itu, jalan dan jembatan yang rusak mengisolasi komunitas setempat dari bantuan.
Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudhan Gurung, menegaskan fokus utama tetap mencari korban selamat. Korban hilang di Nepal sendiri berasal dari lebih 24 negara berbeda.
Rincian korban mencakup 288 dari India, 63 dari AS, dan 51 dari Malaysia. Selain itu, tercatat pula 34 korban dari Australia, 33 dari Inggris, dan 25 dari Kanada.
Administrator Distrik Chitwan, Ganesh Aryal, melaporkan pihaknya menemukan 103 jenazah dari sistem sungai di distrik tersebut.
Peran Perubahan Iklim dalam Bencana
Ahli geologi pemerintah China, Guo Zhaocheng, menjelaskan detail teknis longsoran ini. Aliran puing akibat longsoran es tersebut bergerak sekitar 50 meter per detik sejauh lebih dari 20 kilometer.
Badan Survei Geologi AS mengonfirmasi getaran awal yang tercatat sebagai gempa 4,4 magnitudo. Getaran tersebut sebenarnya berasal dari energi seismik akibat longsoran batu dan es.
Ilmuwan menegaskan perubahan iklim kemungkinan turut berperan, meski bukan pemicu tunggal bencana ini. Simon Cox, ilmuwan kepala program Mountains to Sea di Earth Sciences New Zealand, menjelaskan perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat mendestabilkan batuan dan es di pegunungan tinggi.
Peziarah Hindu Jadi Korban Terbanyak
Banyak korban minggu ini merupakan peziarah menuju Kailash Mansarovar. Situs ini merupakan lokasi suci di Tibet yang umat Hindu dan Buddha hormati.
Sagar Pandey, eksekutif operator wisata Himalaya, menceritakan kondisi lokasi setelah terbang mengelilingi area tersebut dengan helikopter. Ia menyebut tidak ada lagi bangunan maupun permukiman yang tersisa, semuanya rata dengan tanah.
Sementara itu, kerabat korban di seluruh dunia kini putus asa mencari informasi keberadaan orang-orang tercinta mereka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














