JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Selama lebih dari seabad, para ahli biologi memegang teguh satu prinsip: evolusi tidak bisa berjalan mundur. Mereka meyakini bahwa sekali suatu spesies kehilangan sebuah fitur—seperti kaki atau jari—fitur itu akan hilang selamanya.
Namun, serangkaian penemuan aneh, yang didukung oleh genetika modern, memaksa penulisan ulang prinsip itu. Evolusi ternyata bisa ‘mundur’, dan kemunculan kembali fitur-fitur kuno ini—dikenal sebagai Atavisme—memainkan peran penting dalam masa depan spesies.
Hukum Dollo: Mitos yang Bertahan Seabad
Istilah teknis untuk “kemunduran evolusi” ini adalah ‘Atavisme’, dari bahasa Latin atavus yang berarti leluhur.
Selama puluhan tahun, ide ini dianggap tabu. Pada tahun 1890, seorang ahli paleontologi Belgia bernama Louis Dollo mengemukakan bahwa evolusi tidak dapat diubah. Ia menyatakan, “Sebuah organisme tidak dapat kembali, bahkan sebagian, ke tahap sebelumnya yang telah direalisasikan oleh nenek moyangnya.”
Teori ini begitu kuat sehingga para ilmuwan mengenalnya sebagai “Hukum Dollo”. Para ahli biologi setuju bahwa secara statistik, kemungkinan evolusi berjalan mundur sangatlah kecil, sehingga mustahil terjadi.
Anomali yang Mengguncang: Paus Berkaki
Jika Hukum Dollo benar, atavisme seharusnya tidak pernah terjadi. Namun, anomali terus bermunculan.
Pada tahun 1919, sebuah penemuan mengguncang dunia sains. Seseorang menangkap seekor paus bungkuk di lepas Pulau Vancouver, Kanada, dengan sesuatu yang mustahil: sepasang organ mirip kaki yang menonjol di tubuhnya. Organ ini memiliki panjang lebih dari satu meter dan berisi satu set lengkap tulang tungkai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penjelajah Roy Chapman Andrews pada saat itu menulis, “Ini pastilah kemunduran ke nenek moyang paus yang hidup di darat. Saya tidak melihat penjelasan lain.”
Misteri Gen ‘Diam’
Sejak saat itu, para ilmuwan menemukan lebih banyak contoh atavisme. Ini memunculkan teka-teki: bagaimana karakteristik yang telah hilang jutaan tahun bisa tiba-tiba muncul kembali?
Pada tahun 1994, tim peneliti di Indiana University, AS, mengajukan teori “gen diam”. Mereka berpendapat bahwa beberapa perubahan evolusi bukanlah kehilangan gen, melainkan gen yang “non-aktif” atau “bungkam”. Jika gen-gen yang tertidur ini entah bagaimana “aktif” kembali, sifat-sifat yang telah lama hilang dapat muncul kembali.
Namun, ada batasnya. Tim menghitung bahwa gen yang diam akan menumpuk mutasi acak dan menjadi tidak berguna seiring waktu. Perkiraan mereka: gen hanya bisa bertahan dalam kondisi “diam” selama 6 hingga 10 juta tahun.
Melampaui Batas: Rahasia di Dalam Rahim
Teori gen diam menjelaskan beberapa kasus, tetapi penemuan yang lebih baru mematahkan batas waktu 10 juta tahun tersebut.
Sebuah studi oleh Gunter Wagner dari Yale University meneliti kadal Bachia di Amerika Selatan. Banyak dari kadal ini terlihat seperti ular dan telah kehilangan jari kaki mereka. Anehnya, analisis pohon keluarga mereka menunjukkan bahwa beberapa spesies berjari kaki ternyata berevolusi dari leluhur yang tidak memiliki jari kaki.
Mereka “menumbuhkan kembali” jari kaki setelah puluhan juta tahun kehilangannya. Ini jauh melampaui batas hidup gen diam.
Jadi, apa rahasianya? Jawabannya mungkin terletak pada perkembangan embrio di dalam rahim. Embrio awal dari banyak spesies—termasuk manusia—sering kali menumbuhkan fitur-fitur kuno. Embrio ular, misalnya, menumbuhkan kuncup kaki belakang.
Pada perkembangan normal, sebuah program genetik akan aktif dan berkata, “Hilangkan kaki itu.” Fitur kuno itu pun lenyap sebelum lahir. Tetapi, jika karena alasan tertentu program “hilangkan kaki” itu gagal aktif, fitur leluhur itu akan tetap ada. Hasilnya, seekor ular (atau paus) lahir dengan sisa-sisa kaki. Atavisme pun terjadi.
Evolusi ternyata jauh lebih fleksibel daripada yang kita duga. Atavisme menunjukkan bahwa cetak biru kuno spesies kita tidak benar-benar terhapus, melainkan hanya tersembunyi di dalam kode genetik, siap untuk aktif kembali saat dibutuhkan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















