Mengapa Gen Z Tidak Setia pada Merek?

Rabu, 5 November 2025 - 06:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Gen Z gampang sekali ganti merek, tidak seperti generasi sebelumnya. Ini bukan ketidaksetiaan, ini adalah standar loyalitas yang baru: nilai dan keaslian. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Gen Z gampang sekali ganti merek, tidak seperti generasi sebelumnya. Ini bukan ketidaksetiaan, ini adalah standar loyalitas yang baru: nilai dan keaslian. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Coba tanyakan orang tua Anda, merek mobil apa yang mereka percaya? Atau merek pasta gigi apa yang mereka gunakan sejak dulu? Kemungkinan besar, mereka akan menyebut satu nama dan setia pada nama itu selama puluhan tahun.

Generasi Boomer dan Gen X memang membangun loyalitas merek yang kuat. Akan tetapi, tanyakan pertanyaan yang sama pada Generasi Z (kelahiran 1997-2012), dan jawabannya akan sangat berbeda. Bagi mereka, loyalitas adalah konsep yang cair.

Generasi ini bisa mencoba kopi D2C pagi ini, memesan dari brand lokal besok, dan beralih ke brand besar lusa. Namun, ini bukan berarti mereka plin-plan. Sebaliknya, ini adalah runtuhnya model loyalitas lama dan lahirnya standar yang baru.

Paradoks Banjir Pilihan

Generasi sebelumnya hidup di dunia dengan pilihan terbatas. Generasi Z, di sisi lain, tumbuh di era digital dengan akses tak terbatas.

Baca Juga :  Seribu Buruh Besok Geruduk DPR dan Kemnaker, KSPI dan Partai Buruh Tegaskan Tuntutan

Ribuan brand D2C (Direct-to-Consumer) di Instagram, brand lokal yang viral di TikTok, dan ulasan instan dari seluruh dunia membombardir mereka. Akibatnya, ketika ada begitu banyak pilihan yang “cukup bagus” dan mudah diakses, konsep untuk “setia pada satu” menjadi tidak relevan.

Loyal pada ‘Nilai’, Bukan ‘Nama’

Kesalahan terbesar brand lama adalah berpikir Gen Z tidak loyal. Faktanya, mereka sangat loyal. Hanya saja, mereka tidak menujukan loyalitas itu pada nama korporasi, melainkan pada nilai-nilai yang brand usung.

Gen Z akan meneliti apakah brand ini ramah lingkungan, bagaimana rantai pasok mereka, dan apakah mereka mendukung inklusivitas. Mereka tidak akan ragu “menghukum” brand yang hanya bicara (greenwashing) dan memberi penghargaan pada brand yang transparan. Pada akhirnya, mereka membeli apa yang mereka yakini, bukan sekadar apa yang diiklankan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keaslian Mengalahkan Gengsi

Era iklan TV mahal yang menampilkan selebritas papan atas sudah berakhir. Selain itu, Gen Z memiliki “radar anti-gimik” yang sangat tajam. Mereka jauh lebih percaya pada ulasan jujur (bahkan ulasan jelek) dari micro-influencer yang mereka anggap otentik, daripada iklan polesan.

Baca Juga :  Logika Massa di Balik Amuk Digital

Bagi mereka, gengsi tidak lagi datang dari logo besar. Malahan, gengsi datang dari “penemuan cerdas”—mendukung brand kecil yang otentik, atau menemukan produk yang benar-benar berkualitas tanpa harus membayar biaya marketing yang mahal.

Buktikan Setiap Hari

Bagi brand, memenangkan hati Gen Z adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Brand tidak bisa membeli loyalitas mereka dengan nama besar atau warisan (heritage) dari masa lalu.

Untuk tetap relevan, brand tidak bisa lagi mengandalkan gengsi. Mereka harus transparan, otentik, dan membuktikan nilai mereka setiap hari. Di era baru ini, brand tidak mewarisi loyalitas, tetapi harus meraihnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

He Lifeng Serukan Penguatan Kerja Sama China-Belgia
Bocah 4 Tahun di Rokan Hilir Meninggal Diduga Diperkosa, Polisi Usut Tuntas
Pakistan Resmikan Kapal Selam Kelas Hangor Pertama di China
Australia dan Korea Selatan Perkuat Pasokan di Tengah Krisis
150 Massa Bertopeng Bikin Ricuh May Day Bandung, Polisi Buru Pelaku
May Day Bandung Ricuh, Massa Bakar Videotron dan Pos Polisi di Dago
Heboh May Day 2026: Polda Metro Jaya Tangkap 101 Orang, Sita Bom Molotov
Ukraina Siap Berbagi Keahlian Drone Tempur dengan Jepang

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:49 WIB

He Lifeng Serukan Penguatan Kerja Sama China-Belgia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:07 WIB

Bocah 4 Tahun di Rokan Hilir Meninggal Diduga Diperkosa, Polisi Usut Tuntas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 09:46 WIB

Pakistan Resmikan Kapal Selam Kelas Hangor Pertama di China

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:41 WIB

Australia dan Korea Selatan Perkuat Pasokan di Tengah Krisis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:36 WIB

150 Massa Bertopeng Bikin Ricuh May Day Bandung, Polisi Buru Pelaku

Berita Terbaru

Visi kemitraan masa depan. Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengajak Belgia untuk mempererat tradisi kerja sama yang saling menguntungkan dan menjaga sistem perdagangan dunia yang terbuka di tengah dinamika hubungan China-Uni Eropa.  Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

He Lifeng Serukan Penguatan Kerja Sama China-Belgia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:49 WIB

Modernisasi armada laut. Presiden Pakistan Asif Ali Zardari meresmikan kapal selam pertama dari delapan unit kelas Hangor di Sanya, China, sebagai langkah strategis memperkuat pertahanan maritim dan deterensi di kawasan Samudra Hindia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pakistan Resmikan Kapal Selam Kelas Hangor Pertama di China

Sabtu, 2 Mei 2026 - 09:46 WIB

Ketahanan energi lintas benua. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dan pemerintah Korea Selatan menyepakati kerja sama strategis untuk menjamin kelancaran pasokan LNG dan produk minyak olahan guna meredam dampak penutupan Selat Hormuz. Dok: Yonhap.

INTERNASIONAL

Australia dan Korea Selatan Perkuat Pasokan di Tengah Krisis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:41 WIB