JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Coba tanyakan orang tua Anda, merek mobil apa yang mereka percaya? Atau merek pasta gigi apa yang mereka gunakan sejak dulu? Kemungkinan besar, mereka akan menyebut satu nama dan setia pada nama itu selama puluhan tahun.
Generasi Boomer dan Gen X memang membangun loyalitas merek yang kuat. Akan tetapi, tanyakan pertanyaan yang sama pada Generasi Z (kelahiran 1997-2012), dan jawabannya akan sangat berbeda. Bagi mereka, loyalitas adalah konsep yang cair.
Generasi ini bisa mencoba kopi D2C pagi ini, memesan dari brand lokal besok, dan beralih ke brand besar lusa. Namun, ini bukan berarti mereka plin-plan. Sebaliknya, ini adalah runtuhnya model loyalitas lama dan lahirnya standar yang baru.
Paradoks Banjir Pilihan
Generasi sebelumnya hidup di dunia dengan pilihan terbatas. Generasi Z, di sisi lain, tumbuh di era digital dengan akses tak terbatas.
Ribuan brand D2C (Direct-to-Consumer) di Instagram, brand lokal yang viral di TikTok, dan ulasan instan dari seluruh dunia membombardir mereka. Akibatnya, ketika ada begitu banyak pilihan yang “cukup bagus” dan mudah diakses, konsep untuk “setia pada satu” menjadi tidak relevan.
Loyal pada ‘Nilai’, Bukan ‘Nama’
Kesalahan terbesar brand lama adalah berpikir Gen Z tidak loyal. Faktanya, mereka sangat loyal. Hanya saja, mereka tidak menujukan loyalitas itu pada nama korporasi, melainkan pada nilai-nilai yang brand usung.
Gen Z akan meneliti apakah brand ini ramah lingkungan, bagaimana rantai pasok mereka, dan apakah mereka mendukung inklusivitas. Mereka tidak akan ragu “menghukum” brand yang hanya bicara (greenwashing) dan memberi penghargaan pada brand yang transparan. Pada akhirnya, mereka membeli apa yang mereka yakini, bukan sekadar apa yang diiklankan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keaslian Mengalahkan Gengsi
Era iklan TV mahal yang menampilkan selebritas papan atas sudah berakhir. Selain itu, Gen Z memiliki “radar anti-gimik” yang sangat tajam. Mereka jauh lebih percaya pada ulasan jujur (bahkan ulasan jelek) dari micro-influencer yang mereka anggap otentik, daripada iklan polesan.
Bagi mereka, gengsi tidak lagi datang dari logo besar. Malahan, gengsi datang dari “penemuan cerdas”—mendukung brand kecil yang otentik, atau menemukan produk yang benar-benar berkualitas tanpa harus membayar biaya marketing yang mahal.
Buktikan Setiap Hari
Bagi brand, memenangkan hati Gen Z adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Brand tidak bisa membeli loyalitas mereka dengan nama besar atau warisan (heritage) dari masa lalu.
Untuk tetap relevan, brand tidak bisa lagi mengandalkan gengsi. Mereka harus transparan, otentik, dan membuktikan nilai mereka setiap hari. Di era baru ini, brand tidak mewarisi loyalitas, tetapi harus meraihnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
















