Kecemasan Iklim: Beban Psikologis Baru Generasi Muda

Jumat, 14 November 2025 - 20:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Gen Z dan milenial merasakan beban psikologis baru: Eco-Anxiety. Ini adalah kecemasan kronis dan rasa duka melihat lambatnya aksi penyelamatan iklim global. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Gen Z dan milenial merasakan beban psikologis baru: Eco-Anxiety. Ini adalah kecemasan kronis dan rasa duka melihat lambatnya aksi penyelamatan iklim global. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah kesadaran global akan perubahan iklim, sebuah beban psikologis baru telah muncul, terutama di kalangan generasi muda. Ini bukan sekadar kekhawatiran biasa. Sebaliknya, para ahli psikologi menyebutnya Eco-Anxiety (Kecemasan Iklim).

Secara definisi, eco-anxiety adalah “kecemasan kronis, rasa duka, atau ketakutan eksistensial terhadap kerusakan lingkungan dan malapetaka iklim.”

Bagi Gen Z, ini bukanlah ancaman abstrak di masa depan; melainkan krisis yang terjadi di sini dan saat ini. Parahnya lagi, mereka merasa generasi sebelumnya dan para pemimpin politik telah gagal mengatasinya secara serius.

Dari Marah hingga “Birth Strike”

Kecemasan ini memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk emosi yang kuat dan terkadang melumpuhkan:

  1. Rasa Marah dan Bersalah: Pertama, ada rasa marah yang mendalam terhadap generasi sebelumnya dan pembuat kebijakan. Gen Z merasa para pemimpin telah “mencuri” masa depan mereka. Selain itu, banyak juga yang melaporkan perasaan bersalah secara personal atas jejak karbon mereka sendiri.
  2. Depresi dan Keputusasaan: Selanjutnya, kecemasan ini dapat berkembang menjadi depresi klinis atau keputusasaan eksistensial—perasaan bahwa “semuanya sudah terlambat”.
  3. Birth Strike (Mogok Punya Anak): Bahkan, fenomena ini telah mendorong keputusan drastis. Beberapa anak muda secara terbuka mempertimbangkan atau memutuskan untuk tidak memiliki anak (birth strike). Alasan mereka: mereka tidak ingin membawa anak ke dunia yang mereka yakini sedang menuju kehancuran ekologis.
Baca Juga :  Pindah Rumah Ternyata Lebih Berbahaya bagi Mental

Paparan Berita dan Kelambanan Politik

Lalu, mengapa generasi ini merasakannya lebih kuat? Penyebab utamanya adalah paparan informasi yang tanpa henti.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh dengan smartphone. Akibatnya, mereka secara konstan menerima aliran berita, video, dan citra bencana iklim—kebakaran hutan masif, pencairan es di Arktik, banjir bandang, dan laporan ilmiah yang suram.

Di sisi lain, mereka melihat kontras yang tajam. Mereka menyaksikan para pemimpin politik berdebat tanpa henti dalam konferensi iklim (COP). Akan tetapi, mereka melihat kelambanan respons yang sangat mengecewakan dalam implementasi kebijakan. Kesenjangan antara urgensi ilmiah dan kelambanan politik inilah yang menjadi bahan bakar utama eco-anxiety.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mendorong Gaya Hidup dan Aktivisme Gen Z

Namun, eco-anxiety bukan hanya soal keputusasaan; ia juga menjadi motivator yang kuat. Kecemasan ini secara langsung mempengaruhi pilihan hidup Gen Z dalam tiga area utama:

  1. Pilihan Gaya Hidup: Banyak yang mengadopsi gaya hidup rendah karbon. Misalnya, mereka menjadi vegan/vegetarian, menolak fast fashion (industri mode cepat), dan memilih transportasi publik.
  2. Pilihan Karier: Mereka semakin mencari pekerjaan di sektor “hijau” atau energi terbarukan. Sebaliknya, mereka secara aktif menghindari perusahaan (seperti bahan bakar fosil) yang mereka anggap memperburuk krisis.
  3. Aktivisme: Tentu saja, ini mendorong gelombang aktivisme iklim global. Gerakan seperti Fridays for Future (yang Greta Thunberg pelopori) sepenuhnya digerakkan oleh generasi yang mengubah kecemasan mereka menjadi tuntutan politik yang keras dan mendesak.
Baca Juga :  Perubahan Iklim Jadi Pedang Bermata Dua bagi Kupu-Kupu di Inggris

Dari Keputusasaan Individu Menjadi Aksi Kolektif

Pada akhirnya, eco-anxiety adalah respons yang sangat rasional dan logis terhadap krisis yang sangat nyata. Mengabaikan atau meremehkan perasaan ini sebagai “terlalu sensitif” adalah sebuah kesalahan besar.

Akan tetapi, para ahli memperingatkan bahwa berkutat dalam keputusasaan individu tidaklah produktif dan hanya akan melumpuhkan.

Maka, kunci untuk mengelola eco-anxiety adalah mengubahnya. Kita harus mengubah ketakutan individu menjadi aksi kolektif yang bermakna. Baik itu melalui aktivisme politik, mendorong inovasi di tempat kerja, atau membangun komunitas lokal yang tangguh, solusi untuk beban psikologis ini ternyata sama dengan solusi untuk krisis iklim itu sendiri: aksi nyata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB