WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – – Amerika Serikat (AS) sedang bersiap meluncurkan fase baru operasi di Venezuela dalam beberapa hari ke depan. Empat pejabat AS membocorkan rencana tersebut kepada Reuters, Sabtu (22/11/2025).
Langkah ini menandai eskalasi tekanan Pemerintahan Donald Trump terhadap Presiden Nicolas Maduro. Mulanya, Washington akan memprioritaskan operasi rahasia atau covert operations sebagai pembuka.
Sayangnya, Reuters belum bisa memastikan waktu dan lingkup pasti dari operasi tersebut. Meskipun demikian, tanda-tanda intervensi militer sudah terlihat sangat jelas di kawasan Karibia.
Tuduhan Teroris dan Opsi Militer
Strategi AS kali ini menyasar jantung legitimasi Maduro. Rencananya, AS akan menetapkan Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing pada Senin (24/11/2025).
Washington menuduh Maduro memimpin kartel tersebut untuk menyelundupkan narkoba ke AS. Tentu saja, Maduro menyangkal keras tuduhan ini.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memberikan sinyal serius pekan lalu. Menurutnya, penetapan status teroris ini membuka “banyak opsi baru” bagi militer AS.
Artinya, Trump bisa memerintahkan serangan langsung terhadap aset dan infrastruktur Maduro. Bahkan, dua pejabat AS menyebut opsi penggulingan kekuasaan juga masuk dalam pertimbangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Presiden Trump siap menggunakan setiap elemen kekuatan Amerika untuk menghentikan banjir narkoba,” tegas seorang pejabat senior yang enggan menyebut nama.
Kapal Induk Nuklir Merapat
Keseriusan AS terlihat dari pergerakan alutsista mereka. Kapal induk terbesar Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, telah tiba di Karibia sejak 16 November.
Kapal bertenaga nuklir itu tidak datang sendirian. Tercatat, setidaknya tujuh kapal perang lain, satu kapal selam nuklir, dan jet tempur F-35 turut bergabung dalam gugus tempur tersebut.
Faktanya, pasukan AS sudah mulai “pemanasan”. Mereka telah melancarkan setidaknya 21 serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkoba sejak September. Akibatnya, 83 orang tewas dalam operasi tersebut.
Kelompok hak asasi manusia mengecam tindakan ini. Mereka menyebutnya sebagai pembunuhan di luar hukum terhadap warga sipil.
Peringatan FAA dan Respon Maduro
Ketegangan yang memuncak ini berdampak langsung pada penerbangan sipil. Badan Penerbangan Federal AS (FAA) mengeluarkan peringatan bahaya bagi maskapai yang melintasi wilayah udara Venezuela.
Imbasnya, tiga maskapai internasional langsung membatalkan penerbangan dari Venezuela pada Sabtu. Sementara itu, Nicolas Maduro tampak tetap tenang di hadapan publik.
Ia justru muncul di sebuah teater di Caracas pada Sabtu malam. Maduro merayakan ulang tahunnya yang ke-63 sekaligus menghadiri pemutaran perdana serial TV tentang hidupnya.
Walau begitu, militer Venezuela tetap waspada. Mereka telah menyiapkan strategi “perlawanan berkepanjangan”. Kabarnya, mereka akan mengerahkan unit-unit kecil untuk melakukan taktik gerilya dan sabotase jika AS benar-benar melakukan invasi darat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Reuters




















