WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menghadapi hari yang berat di hadapan Kongres. Secara khusus, ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial mengenai strategi akhir perang Iran, biaya konflik yang melonjak, serta kekhawatiran atas berkurangnya stok senjata Amerika Serikat.
Penampilan Hegseth kali ini menunjukkan nada yang lebih lunak daripada sidang dua pekan lalu. Meskipun demikian, ia tetap menerima perlawanan keras, terutama dari anggota partainya sendiri, Republik. Bahkan, mereka secara terbuka mempertanyakan kritik tajam Presiden Donald Trump terhadap sekutu tradisional yang menolak terlibat dalam konflik tersebut.
Pembengkakan Biaya: $29 Miliar dalam Dua Bulan
Selanjutnya, pejabat Pentagon memberikan rincian terbaru yang mengejutkan kepada para legislator. Ternyata, biaya perang Iran kini telah menyentuh angka $29 miliar. Jumlah tersebut meningkat signifikan dari estimasi $25 miliar yang pengawas keuangan Pentagon ungkapkan sebelumnya.
Rincian pengeluaran tersebut meliputi:
- $24 Miliar: Penggantian amunisi dan perbaikan peralatan militer yang rusak.
- Biaya Operasional: Pemeliharaan pasukan di garda depan.
- Catatan: Angka ini belum mencakup biaya pembangunan kembali pangkalan militer AS yang terkena serangan di kawasan Teluk.
Oleh karena itu, di tengah pembengkakan ini, pemerintahan Trump tetap mengajukan usulan anggaran militer tahun 2027 sebesar $1,5 triliun. Namun, anggota parlemen mempertanyakan kelayakan angka tersebut saat harga bahan bakar yang tinggi mulai memicu masalah politik menjelang pemilihan paruh waktu.
Perdebatan Stok Senjata: Fakta vs Klaim Pentagon
Terkait kesiapan militer, Hegseth secara tegas membantah laporan bahwa amunisi Amerika Serikat sedang berada di ambang batas kritis. “Saya keberatan dengan karakterisasi bahwa amunisi telah habis. Itu tidak benar,” tegas Hegseth dalam sidang tersebut. Selain itu, ia bersikeras bahwa industri pertahanan sedang memacu produksi guna memenuhi kebutuhan masa depan.
Meskipun begitu, analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyajikan gambaran yang jauh lebih suram. Laporan mereka pada April menunjukkan bahwa pasukan AS telah menghabiskan lebih dari setengah stok awal untuk empat sistem senjata utama. Akibatnya, CSIS memperingatkan bahwa membangun kembali level cadangan untuk potensi perang dengan China akan memakan waktu yang sangat lama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tekanan dari Mitch McConnell dan Isu Aliansi
Sementara itu, kritik paling tajam justru datang dari Senator Mitch McConnell. Ia mengingatkan Hegseth bahwa NATO tetap merupakan aliansi militer paling penting dalam sejarah dunia. Lebih lanjut, McConnell mengkhawatirkan banyak negara Eropa merasa Amerika Serikat sedang mengurangi pengaruhnya dan membiarkan mereka sendirian.
Senada dengan hal tersebut, Tom Cole dari faksi Republik menegaskan bahwa “America First” bukan berarti “American Alone”. Ia berpendapat kekuatan Amerika akan paling efektif jika dilakukan bersama negara-negara sevisi yang berbagi nilai serta kepentingan yang sama. Oleh sebab itu, strategi Trump yang menarik ribuan pasukan dari Jerman dipandang sebagai ancaman bagi kohesi aliansi global tersebut.
Kebuntuan di Selat Hormuz dan Risiko Strategis
Di sisi lain, sengketa panas terjadi saat membahas pembukaan kembali Selat Hormuz yang melayani 20% aliran minyak dunia. Senator Demokrat Chris Coons mempertanyakan bagaimana pemerintah akan membuka jalur tersebut jika militer sudah mengklaim memegang kendali.
“Anda mungkin telah mencapai serangkaian kesuksesan taktis, namun Anda sedang berada di ambang kekalahan strategis,” cetus Coons. Merespons hal itu, Hegseth membalas dengan menyebut Coons mengabaikan keberhasilan luar biasa di medan tempur. Saat ini, blokade maritim yang saling mengunci antara AS dan Iran terus mencekik pasokan energi dunia dan menaikkan harga gas di pompa bensin domestik.
Menanti Kepastian Strategi Keluar
Pada akhirnya, Hegseth menegaskan bahwa militer memiliki rencana untuk melakukan eskalasi atau penarikan mundur jika diperlukan. Singkatnya, masa depan keamanan nasional AS di tahun 2026 bergantung pada kemampuan Pentagon dalam menyeimbangkan pengisian ulang stok senjata dengan upaya diplomasi untuk mengakhiri perang.
Dengan demikian, masyarakat internasional kini menanti apakah anggaran $1,5 triliun yang diusulkan mampu memulihkan posisi tawar Amerika Serikat. Di tengah ketidakpastian geopolitik, keharmonisan dengan sekutu NATO tetap menjadi variabel penentu bagi kemenangan jangka panjang Washington di panggung dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












