Perang Dagang 2.0: Mengapa Barat Ketakutan dengan Mobil Listrik China?

Kamis, 27 November 2025 - 06:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Revolusi di aspal Nusantara. Indonesia berupaya memimpin pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara, namun tantangan sebaran infrastruktur dan manajemen limbah baterai menjadi ujian krusial bagi kedaulatan energi hijau tahun 2026. Dok: Istimewa.

Revolusi di aspal Nusantara. Indonesia berupaya memimpin pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara, namun tantangan sebaran infrastruktur dan manajemen limbah baterai menjadi ujian krusial bagi kedaulatan energi hijau tahun 2026. Dok: Istimewa.

Dunia otomotif sedang tidak baik-baik saja. Sebuah tembok besar sedang dibangun oleh negara-negara Barat. Bukan tembok beton, melainkan tembok tarif impor yang menjulang tinggi.

Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa kini kompak menabuh genderang perang dagang baru. Sasaran utamanya adalah gelombang mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) buatan China.

Presiden AS menaikkan tarif impor EV China hingga 100 persen. Uni Eropa pun menyusul dengan tarif tambahan yang memberatkan. Seketika, harga mobil China yang murah meriah menjadi mahal di pasar Barat. Barat tampak ketakutan setengah mati.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tudingan Curang dan “Overcapacity”

Mengapa mereka begitu panik? Alasannya, Barat menuding China bermain curang. Mereka mengklaim pemerintah Beijing memberikan subsidi negara yang tidak adil (unfair subsidy) kepada pabrikan lokalnya.

Bantuan dana segar, tanah murah, dan listrik bersubsidi membuat biaya produksi EV China menjadi sangat rendah. Akibatnya, harga jual mereka tidak masuk akal bagi pesaing Barat.

Baca Juga :  Koordinasi Muscat: Iran dan Oman Matangkan Rencana

Selain itu, isu kelebihan kapasitas (overcapacity) menjadi sorotan tajam. China memproduksi mobil jauh melebihi kebutuhan domestik mereka. Lantas, mereka “membuang” kelebihan stok tersebut ke pasar global dengan harga miring.

Matinya Perdagangan Bebas?

Langkah proteksionisme ini memicu perdebatan teoritis yang sengit. Dulu, negara Barat adalah pengkhotbah paling lantang tentang prinsip Perdagangan Bebas (Free Trade).

Kini, mereka justru melanggar prinsip mereka sendiri. Mereka beralih ke “Proteksionisme Strategis”. Pasalnya, mereka memandang industri otomotif bukan sekadar bisnis, tetapi aset strategis nasional.

Mereka takut nasib industri panel surya terulang kembali. Kala itu, produsen panel surya Barat bangkrut massal karena kalah bersaing dengan produk China yang murah. Mereka tidak ingin industri mobil kebanggaan mereka bernasib sama.

Dilema Hijau: Mahal atau Lambat?

Dampak global dari perang dagang ini sangat serius. Risiko fragmentasi pasar otomotif dunia kini di depan mata. Nantinya, dunia mungkin terbelah menjadi blok pasar EV China dan blok pasar Barat.

Baca Juga :  Pemerintah Verifikasi Pendaftar Upacara 17 Agustus di Istana, Kuota Tambahan Segera Diumumkan

Ironisnya, kebijakan ini justru menghambat transisi energi hijau. Dunia butuh mobil listrik murah agar masyarakat mau beralih dari mobil bensin. China menyediakan solusi itu.

Namun, tarif tinggi membuat harga EV tetap mahal di Barat. Oleh karena itu, adopsi kendaraan ramah lingkungan akan berjalan lambat. Target emisi nol bersih (Net Zero) pun terancam gagal tercapai tepat waktu.

Antara Industri dan Iklim

Pada akhirnya, Barat menghadapi dilema buah simalakama. Mereka harus memilih antara dua opsi sulit. Melindungi pabrik dan lapangan kerja lokal, atau menyelamatkan bumi dengan mempercepat adopsi EV murah.

Perang Dagang 2.0 ini bukan hanya soal uang. Sebaliknya, ini adalah pertarungan hegemoni teknologi masa depan. Sayangnya, konsumen dan iklimlah yang berpotensi menjadi korban terbesar dari perseteruan raksasa ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Lai Ching-te Tegaskan Pertahanan Taiwan
Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan Sejarah
Kebakaran Hebat Melanda Sekolah Dasar di Tokyo
90 Persen Pabrik Kelapa Sawit Patuhi Penyesuaian Harga
Bocoran Spesifikasi Xiaomi 18 Mulai Beredar Luas
Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom
Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:19 WIB

Presiden Lai Ching-te Tegaskan Pertahanan Taiwan

Jumat, 19 Juni 2026 - 16:15 WIB

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:13 WIB

Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan Sejarah

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:56 WIB

Kebakaran Hebat Melanda Sekolah Dasar di Tokyo

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:06 WIB

90 Persen Pabrik Kelapa Sawit Patuhi Penyesuaian Harga

Berita Terbaru

Menjaga kedaulatan demokrasi. Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan hak pertahanan negara dan mendesak persetujuan pembelian senjata baru dari AS. Dok: Britannica.

INTERNASIONAL

Presiden Lai Ching-te Tegaskan Pertahanan Taiwan

Jumat, 19 Jun 2026 - 17:19 WIB

Pelebaran sayap di Asia Timur. Anthropic resmi membuka kantor baru di Seoul guna menggarap pasar potensial Korea Selatan pasca-pemblokiran akses model AI canggih oleh pemerintah AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Anthropic Resmi Buka Kantor di Seoul Pascaboikot Model AI

Jumat, 19 Jun 2026 - 16:15 WIB