Senjata Sanksi Ekonomi: Efektifkah Mengisolasi Negara Sekuat Rusia?

Minggu, 30 November 2025 - 18:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Dunia menahan napas saat tank-tank Rusia melintasi perbatasan Ukraina. Seketika, Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa merespons dengan senjata andalan mereka: sanksi ekonomi masif.

Mereka membekukan cadangan devisa Bank Sentral Rusia senilai ratusan miliar dolar. Tak cukup di situ, mereka mendepak bank-bank Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT.

Tujuannya jelas, Barat ingin meruntuhkan ekonomi “Beruang Merah” dalam semalam. Mereka berharap rubel akan menjadi debu dan mesin perang Kremlin akan mogok kehabisan dana. Namun, realitas hari ini menunjukkan cerita yang sangat berbeda.

Guncangan Awal vs Adaptasi Cepat

Awalnya, strategi “bom nuklir ekonomi” ini tampak berhasil. Nilai tukar mata uang Rubel jatuh bebas ke titik terendah. Kepanikan melanda pasar saham Moskow.

Akan tetapi, prediksi kebangkrutan total ternyata meleset jauh. Pemerintah Rusia melakukan manuver adaptasi dengan kecepatan yang mengejutkan. Bank Sentral Rusia menaikkan suku bunga secara agresif untuk menyelamatkan mata uang.

Selanjutnya, Moskow memutar haluan dagang mereka. Pintu Barat tertutup rapat, maka mereka membuka jendela lebar-lebar ke Timur. China dan India menyambut pasokan minyak dan gas Rusia yang diskon dengan tangan terbuka. Akibatnya, pendapatan ekspor energi Rusia tetap mengalir deras ke kas negara.

Baca Juga :  Jakarta Siaga, BMKG Prediksi Hujan Petir Kepung Ibu Kota Hari Ini

Bumerang Menyakitkan Bagi Barat

Sanksi ini justru berbalik menjadi bumerang yang menghantam pelemparnya. Pasalnya, Eropa sangat bergantung pada pasokan energi murah dari Rusia selama puluhan tahun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemutusan hubungan dagang ini memicu krisis energi parah di Benua Biru. Lantas, harga listrik dan gas untuk pemanas rumah tangga melonjak gila-gilaan. Industri manufaktur di Jerman menjerit karena biaya produksi yang tak lagi kompetitif.

Imbasnya, inflasi global meroket tajam. Masyarakat di seluruh dunia harus membayar lebih mahal untuk makanan dan bahan bakar akibat gangguan rantai pasok ini. Barat ingin menghukum Putin, tetapi rakyat mereka sendiri ikut menanggung deritanya.

Batasan Sanksi di Dunia Multipolar

Fenomena ini mengajarkan satu pelajaran penting bagi para pembuat kebijakan. Sanksi ekonomi memiliki batasan efektivitas yang tegas di dunia yang multipolar.

Baca Juga :  Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Mengenaskan, Polisi Selidiki Dugaan Dianiaya Ibu Tiri

Barat tidak lagi memegang kendali ekonomi mutlak seperti era Perang Dingin. Faktanya, banyak negara “Global South” menolak untuk ikut serta dalam isolasi tersebut. Mereka lebih memprioritaskan kepentingan nasional dan ketahanan energi mereka sendiri.

Oleh karena itu, mengisolasi negara dengan sumber daya alam melimpah seperti Rusia adalah misi yang nyaris mustahil. Komoditas vital akan selalu menemukan jalan menuju pembeli yang membutuhkan.

Ekonomi Sakit, Rezim Tetap Tegak

Pada akhirnya, kita harus mengakui fakta pahit. Sanksi memang mampu menyakiti indikator ekonomi jangka panjang. Akses teknologi Rusia menjadi terbatas dan pertumbuhan mereka melambat.

Kendati demikian, sanksi jarang berhasil mengubah perilaku rezim politik yang kuat. Sebaliknya, tekanan eksternal sering kali justru memperkuat narasi nasionalisme di dalam negeri target. Perang ekonomi ini tampaknya hanya menghasilkan kekacauan global tanpa pemenang yang benar-benar mutlak.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung
Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total
Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya
PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa
Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran
Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar
Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok
Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba via Ojol, Lab Vape Etomidate di Jaktim Digerebek

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 18:20 WIB

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung

Kamis, 16 April 2026 - 17:13 WIB

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 April 2026 - 16:31 WIB

Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya

Kamis, 16 April 2026 - 16:04 WIB

PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa

Kamis, 16 April 2026 - 15:21 WIB

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Berita Terbaru

Runtuhnya era Orban. Partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar meraih kemenangan telak dalam pemilu Hungaria 2026, mengakhiri kekuasaan panjang Viktor Orban dan menjanjikan kembalinya aliansi kuat dengan Uni Eropa serta NATO. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:13 WIB

Mencari kesatuan ekonomi. Para pemimpin keuangan G7 berkumpul di Washington guna menghadapi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global akibat blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Kamis, 16 Apr 2026 - 15:21 WIB