Kebangkitan Global South: Menuntut Tatanan Ekonomi Dunia yang Lebih Adil

Minggu, 30 November 2025 - 18:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Asia memimpin pemulihan. Laporan tahunan Forum Boao 2026 memproyeksikan Asia tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dunia, di saat negara-negara Barat menghadapi ancaman proteksionisme dan perlambatan pasar. Dok: Istimewa.

Asia memimpin pemulihan. Laporan tahunan Forum Boao 2026 memproyeksikan Asia tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dunia, di saat negara-negara Barat menghadapi ancaman proteksionisme dan perlambatan pasar. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Selama puluhan tahun, poros dunia berputar di sekitar negara-negara Barat. Amerika Utara dan Eropa memegang kendali penuh atas arah kebijakan global. Namun, peta kekuatan itu kini sedang digambar ulang.

Istilah “Global South” atau Selatan Global mendadak menjadi buah bibir di setiap forum internasional. Kelompok ini bukan sekadar definisi geografis semata.

Sebaliknya, mereka adalah kekuatan geopolitik baru yang mencakup negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Mereka bangkit dan bersatu menuntut hak yang setara di meja perundingan dunia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kritik Keras Lembaga Bretton Woods

Suara ketidakpuasan terdengar nyaring dari blok ini. Sasaran utamanya adalah lembaga keuangan warisan Bretton Woods, yakni Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Baca Juga :  Ramadan Digital 2026: Bagaimana AI Membantu Umat Muslim Mengoptimalkan Ibadah

Pasalnya, negara berkembang menilai institusi tersebut sudah usang. Struktur mereka masih mencerminkan tatanan dunia pasca-Perang Dunia II yang sangat bias Barat.

Amerika Serikat dan Eropa masih mendominasi hak suara dan pengambilan keputusan strategis. Akibatnya, kepentingan negara miskin sering kali terabaikan demi agenda politik negara maju. Global South menolak menjadi objek kebijakan belaka.

Ekonomi Baru Salip G7

Kritik ini memiliki dasar yang kuat. Faktanya, neraca kekuatan ekonomi telah bergeser drastis. Pertumbuhan negara-negara seperti India, Indonesia, dan Brasil melesat kencang.

Bahkan, proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa gabungan Produk Domestik Bruto (PDB) negara berkembang mulai melampaui kelompok negara kaya G7. China dan India kini menjadi motor penggerak pertumbuhan global, bukan lagi Amerika atau Jerman.

Oleh karena itu, kami tidak lagi meminta bantuan. Melainkan, kami menuntut kemitraan yang setara dan saling menguntungkan.

Tuntutan Reformasi dan Keadilan Iklim

Global South mendesak perombakan nyata. Mereka menuntut reformasi hak suara di PBB dan IMF agar lebih representatif. Selain itu, isu keadilan iklim (climate justice) menjadi sorotan tajam.

Baca Juga :  Kolonialisme Hijau? Dampak Pajak Karbon bagi Negara Berkembang

Negara maju telah mencemari bumi selama ratusan tahun untuk membangun industri mereka. Maka, sangat tidak adil jika mereka menuntut standar lingkungan yang sama beratnya pada negara yang baru mau berkembang.

Lantas, Global South meminta transfer teknologi dan pendanaan iklim sebagai bentuk tanggung jawab sejarah. Mereka menolak dipaksa memilih antara pertumbuhan ekonomi atau pelestarian lingkungan.

Gravitasi Pindah ke Indo-Pasifik

Pada akhirnya, kita sedang menyaksikan momen bersejarah. Pusat gravitasi ekonomi dunia sedang bergeser dari Atlantik menuju Indo-Pasifik.

Kebangkitan Global South adalah realitas yang tak terelakkan. Tentu saja, transisi ini akan memicu gesekan geopolitik. Akan tetapi, dunia harus bersiap menyambut tatanan baru yang lebih majemuk, inklusif, dan adil bagi semua penghuninya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom
Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit
Indonesia dan Belarus Percepat Kerja Sama Industri
Ancaman El Niño 2026: Cuaca Kering Ekstrem Siap Memangkas
Danantara: DSI Batal Jadi Eksportir Tunggal Komoditas
Presiden Lai Ching-te Tegaskan Pertahanan Taiwan
Tecno POVA 8 Resmi Meluncur dengan Alive Matrix Display
Presiden Brazil Lula da Silva Peringatkan Donald Trump

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:22 WIB

Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:39 WIB

Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:44 WIB

Indonesia dan Belarus Percepat Kerja Sama Industri

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:30 WIB

Ancaman El Niño 2026: Cuaca Kering Ekstrem Siap Memangkas

Jumat, 19 Juni 2026 - 07:17 WIB

Danantara: DSI Batal Jadi Eksportir Tunggal Komoditas

Berita Terbaru

Revolusi perang asimetris. Ukraina bersiap memperluas penggunaan drone otonom berbasis kecerdasan buatan guna mengimbangi keunggulan jumlah pasukan militer Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ukraina Siap Perluas Penggunaan Drone AI Otonom

Jumat, 19 Jun 2026 - 12:22 WIB

Solusi hijau di tengah krisis energi. Pemerintah Malaysia menaikkan kadar campuran kelapa sawit menjadi B15 guna menghemat stok bahan bakar solar nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit

Jumat, 19 Jun 2026 - 11:39 WIB

Ekspansi kemitraan di kawasan Eurasia. Kementerian Perindustrian memperluas kerja sama dengan Belarus guna memperkuat rantai pasok industri dan menarik investasi baru. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Indonesia dan Belarus Percepat Kerja Sama Industri

Jumat, 19 Jun 2026 - 10:44 WIB