JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Selama puluhan tahun, poros dunia berputar di sekitar negara-negara Barat. Amerika Utara dan Eropa memegang kendali penuh atas arah kebijakan global. Namun, peta kekuatan itu kini sedang digambar ulang.
Istilah “Global South” atau Selatan Global mendadak menjadi buah bibir di setiap forum internasional. Kelompok ini bukan sekadar definisi geografis semata.
Sebaliknya, mereka adalah kekuatan geopolitik baru yang mencakup negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Mereka bangkit dan bersatu menuntut hak yang setara di meja perundingan dunia.
Kritik Keras Lembaga Bretton Woods
Suara ketidakpuasan terdengar nyaring dari blok ini. Sasaran utamanya adalah lembaga keuangan warisan Bretton Woods, yakni Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.
Pasalnya, negara berkembang menilai institusi tersebut sudah usang. Struktur mereka masih mencerminkan tatanan dunia pasca-Perang Dunia II yang sangat bias Barat.
Amerika Serikat dan Eropa masih mendominasi hak suara dan pengambilan keputusan strategis. Akibatnya, kepentingan negara miskin sering kali terabaikan demi agenda politik negara maju. Global South menolak menjadi objek kebijakan belaka.
Ekonomi Baru Salip G7
Kritik ini memiliki dasar yang kuat. Faktanya, neraca kekuatan ekonomi telah bergeser drastis. Pertumbuhan negara-negara seperti India, Indonesia, dan Brasil melesat kencang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan, proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa gabungan Produk Domestik Bruto (PDB) negara berkembang mulai melampaui kelompok negara kaya G7. China dan India kini menjadi motor penggerak pertumbuhan global, bukan lagi Amerika atau Jerman.
Oleh karena itu, kami tidak lagi meminta bantuan. Melainkan, kami menuntut kemitraan yang setara dan saling menguntungkan.
Tuntutan Reformasi dan Keadilan Iklim
Global South mendesak perombakan nyata. Mereka menuntut reformasi hak suara di PBB dan IMF agar lebih representatif. Selain itu, isu keadilan iklim (climate justice) menjadi sorotan tajam.
Negara maju telah mencemari bumi selama ratusan tahun untuk membangun industri mereka. Maka, sangat tidak adil jika mereka menuntut standar lingkungan yang sama beratnya pada negara yang baru mau berkembang.
Lantas, Global South meminta transfer teknologi dan pendanaan iklim sebagai bentuk tanggung jawab sejarah. Mereka menolak dipaksa memilih antara pertumbuhan ekonomi atau pelestarian lingkungan.
Gravitasi Pindah ke Indo-Pasifik
Pada akhirnya, kita sedang menyaksikan momen bersejarah. Pusat gravitasi ekonomi dunia sedang bergeser dari Atlantik menuju Indo-Pasifik.
Kebangkitan Global South adalah realitas yang tak terelakkan. Tentu saja, transisi ini akan memicu gesekan geopolitik. Akan tetapi, dunia harus bersiap menyambut tatanan baru yang lebih majemuk, inklusif, dan adil bagi semua penghuninya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















