Kebangkitan Global South: Menuntut Tatanan Ekonomi Dunia yang Lebih Adil

Minggu, 30 November 2025 - 18:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menembus tirai kemakmuran semu. Melalui kacamata Marxisme, ketimpangan ekonomi global bukan sekadar nasib, melainkan hasil struktural dari sistem yang melanggengkan dominasi negara maju atas negara berkembang. Dok: Istimewa.

Menembus tirai kemakmuran semu. Melalui kacamata Marxisme, ketimpangan ekonomi global bukan sekadar nasib, melainkan hasil struktural dari sistem yang melanggengkan dominasi negara maju atas negara berkembang. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Selama puluhan tahun, poros dunia berputar di sekitar negara-negara Barat. Amerika Utara dan Eropa memegang kendali penuh atas arah kebijakan global. Namun, peta kekuatan itu kini sedang digambar ulang.

Istilah “Global South” atau Selatan Global mendadak menjadi buah bibir di setiap forum internasional. Kelompok ini bukan sekadar definisi geografis semata.

Sebaliknya, mereka adalah kekuatan geopolitik baru yang mencakup negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Mereka bangkit dan bersatu menuntut hak yang setara di meja perundingan dunia.

Kritik Keras Lembaga Bretton Woods

Suara ketidakpuasan terdengar nyaring dari blok ini. Sasaran utamanya adalah lembaga keuangan warisan Bretton Woods, yakni Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Pasalnya, negara berkembang menilai institusi tersebut sudah usang. Struktur mereka masih mencerminkan tatanan dunia pasca-Perang Dunia II yang sangat bias Barat.

Baca Juga :  Kolonialisme Hijau? Dampak Pajak Karbon bagi Negara Berkembang

Amerika Serikat dan Eropa masih mendominasi hak suara dan pengambilan keputusan strategis. Akibatnya, kepentingan negara miskin sering kali terabaikan demi agenda politik negara maju. Global South menolak menjadi objek kebijakan belaka.

Ekonomi Baru Salip G7

Kritik ini memiliki dasar yang kuat. Faktanya, neraca kekuatan ekonomi telah bergeser drastis. Pertumbuhan negara-negara seperti India, Indonesia, dan Brasil melesat kencang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa gabungan Produk Domestik Bruto (PDB) negara berkembang mulai melampaui kelompok negara kaya G7. China dan India kini menjadi motor penggerak pertumbuhan global, bukan lagi Amerika atau Jerman.

Oleh karena itu, kami tidak lagi meminta bantuan. Melainkan, kami menuntut kemitraan yang setara dan saling menguntungkan.

Tuntutan Reformasi dan Keadilan Iklim

Global South mendesak perombakan nyata. Mereka menuntut reformasi hak suara di PBB dan IMF agar lebih representatif. Selain itu, isu keadilan iklim (climate justice) menjadi sorotan tajam.

Baca Juga :  Sains di Balik Mengapa Kita Menghakimi Karakter Lewat Wajah

Negara maju telah mencemari bumi selama ratusan tahun untuk membangun industri mereka. Maka, sangat tidak adil jika mereka menuntut standar lingkungan yang sama beratnya pada negara yang baru mau berkembang.

Lantas, Global South meminta transfer teknologi dan pendanaan iklim sebagai bentuk tanggung jawab sejarah. Mereka menolak dipaksa memilih antara pertumbuhan ekonomi atau pelestarian lingkungan.

Gravitasi Pindah ke Indo-Pasifik

Pada akhirnya, kita sedang menyaksikan momen bersejarah. Pusat gravitasi ekonomi dunia sedang bergeser dari Atlantik menuju Indo-Pasifik.

Kebangkitan Global South adalah realitas yang tak terelakkan. Tentu saja, transisi ini akan memicu gesekan geopolitik. Akan tetapi, dunia harus bersiap menyambut tatanan baru yang lebih majemuk, inklusif, dan adil bagi semua penghuninya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mudik Lebaran 2026 Lebih Mudah, ASDP Hapus Batas Jarak Pembelian Tiket Kapal
Polisi Sita 14 Ton Daging Domba Kedaluwarsa Impor Australia yang Siap Dijual Saat Lebaran
Cuaca Indonesia Selasa 17 Maret 2026: Jabodetabek Berawan, Hujan Mengintai Sore Hari
Jakarta Gelar Car Free Night dan Pawai Obor Raksasa Saat Malam Takbiran
Polisi Sita 86 CCTV Kasus Aktivis KontraS Andrie Yunus, Ribuan Rekaman Dibedah
Diskotek di Denpasar Jadi Sarang Ekstasi, Bareskrim Polri Amankan Ratusan Pil XTC
Kapolri Cek Kesiapan Arus Mudik di Tol Kalikangkung, Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Nasional
BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Jawa Barat Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 05:13 WIB

Mudik Lebaran 2026 Lebih Mudah, ASDP Hapus Batas Jarak Pembelian Tiket Kapal

Selasa, 17 Maret 2026 - 04:57 WIB

Polisi Sita 14 Ton Daging Domba Kedaluwarsa Impor Australia yang Siap Dijual Saat Lebaran

Selasa, 17 Maret 2026 - 03:59 WIB

Cuaca Indonesia Selasa 17 Maret 2026: Jabodetabek Berawan, Hujan Mengintai Sore Hari

Senin, 16 Maret 2026 - 22:02 WIB

Jakarta Gelar Car Free Night dan Pawai Obor Raksasa Saat Malam Takbiran

Senin, 16 Maret 2026 - 21:47 WIB

Polisi Sita 86 CCTV Kasus Aktivis KontraS Andrie Yunus, Ribuan Rekaman Dibedah

Berita Terbaru