Perang Candu: Ketika Narkoba Menjadi Solusi Neraca Dagang Inggris

Rabu, 3 Desember 2025 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Demi teh dan perak, Inggris rela jual narkoba. Simak sejarah kelam Perang Candu yang memaksa China menyerahkan Hong Kong dan memicu

Demi teh dan perak, Inggris rela jual narkoba. Simak sejarah kelam Perang Candu yang memaksa China menyerahkan Hong Kong dan memicu "Abad Penghinaan". Dok: Istimewa.

Teh, sutra, dan porselen China menjadi primadona di Inggris pada abad ke-19. Masyarakat Inggris sangat memuja komoditas tersebut. Namun, obsesi ini menciptakan masalah ekonomi serius bagi Kerajaan Inggris.

China memiliki posisi tawar yang kuat. Mereka hanya mau menerima pembayaran dalam bentuk perak murni. Sebaliknya, mereka tidak tertarik membeli barang-barang manufaktur buatan Inggris.

Akibatnya, Inggris mengalami defisit neraca dagang yang parah. Cadangan perak mereka mengalir deras keluar menuju Beijing. Lantas, Inggris mencari cara licik untuk membalikkan keadaan. Mereka menemukan solusi pada satu komoditas terlarang: Opium.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Solusi Amoral Korporasi Dagang

Perusahaan dagang raksasa Inggris, East India Company (EIC), memegang peran kunci dalam skema ini. Mereka mulai menanam opium secara massal di koloni mereka, India.

Selanjutnya, EIC menyelundupkan narkoba tersebut ke pesisir China. Strategi jahat ini berhasil luar biasa. Seketika, jutaan rakyat China menjadi pecandu berat. Permintaan akan candu meledak tak terkendali.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Hadiri Sidang Umum PBB ke-80, Angkat Isu Palestina dan Serangan Qatar

Arus perak pun berbalik arah. Uang China kini mengalir kembali ke kantong pedagang Inggris. Narkoba menjadi penyelamat neraca pembayaran Inggris, meski harus menghancurkan tatanan sosial masyarakat Tiongkok.

Pemusnahan Opium dan Agresi Militer

Kaisar China tentu tidak tinggal diam melihat rakyatnya hancur. Ia mengutus pejabat tegas bernama Lin Zexu ke Kanton pada tahun 1839.

Lin bertindak tanpa kompromi. Ia menyita dan memusnahkan lebih dari 1.000 ton opium milik pedagang Inggris. Ia membuang racun itu ke laut. Merespons hal ini, Inggris justru marah besar.

Pemerintah Inggris menganggap tindakan Lin sebagai pelanggaran terhadap hak milik dan perdagangan. Atas nama “perdagangan bebas”, Inggris mengirim armada kapal perang canggih mereka.

Meriam kapal Inggris dengan mudah menghancurkan pertahanan pesisir China yang masih tradisional. Faktanya, ini adalah perang pemaksaan agar China mau menerima impor narkoba secara legal.

Perjanjian Nanking dan Abad Penghinaan

Kekalahan telak memaksa China menandatangani Perjanjian Nanking pada 1842. Perjanjian ini sangat berat sebelah. Pertama, China harus membayar ganti rugi perang yang besar.

Baca Juga :  150 Massa Bertopeng Bikin Ricuh May Day Bandung, Polisi Buru Pelaku

Kedua, mereka wajib membuka lima pelabuhan untuk pedagang asing. Ketiga, dan yang paling menyakitkan, China harus menyerahkan Pulau Hong Kong kepada Inggris.

Peristiwa ini menandai awal dari apa yang rakyat China sebut sebagai “Abad Penghinaan” (Century of Humiliation). Kedaulatan mereka terinjak-injak oleh kekuatan asing selama seratus tahun berikutnya.

Akar Sentimen Anti-Barat

Pada akhirnya, Perang Candu bukan sekadar catatan sejarah usang. Peristiwa ini membentuk mentalitas geopolitik Asia modern.

China hari ini memandang sejarah tersebut sebagai pelajaran pahit. Oleh karena itu, Partai Komunis China menanamkan narasi bahwa negara harus kuat secara militer dan ekonomi agar tidak lagi dipermalukan oleh Barat.

Ingatlah, ketegangan antara Beijing dan Washington hari ini memiliki akar yang dalam. Trauma masa lalu tentang kapal perang asing yang memaksa kehendak masih menghantui memori kolektif bangsa tersebut hingga kini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gedung Putih Ungkap Kerugian Pajak Rp310-425 Triliun
USS George Washington Menuju Timur Tengah di Tengah
Lebih dari 110.000 Warga Kanada Tanda Tangani Petisi
Iran Klaim Kendali Penuh atas Selat Hormuz, Bantah Klaim Trump
Korea Utara Ancam Gunakan Hak Bela Diri, Kecam Latihan Militer
Nigel Farage Menang Kembali Kursi Parlemen
2,4 Juta Anak Perempuan Afghanistan Kehilangan Pendidikan
Count Binface, Kandidat Tong Sampah yang Curi Perhatian

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Gedung Putih Ungkap Kerugian Pajak Rp310-425 Triliun

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:00 WIB

USS George Washington Menuju Timur Tengah di Tengah

Jumat, 14 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Iran Klaim Kendali Penuh atas Selat Hormuz, Bantah Klaim Trump

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:35 WIB

Korea Utara Ancam Gunakan Hak Bela Diri, Kecam Latihan Militer

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:02 WIB

Nigel Farage Menang Kembali Kursi Parlemen

Berita Terbaru

Pemerintahan Trump merilis laporan yang mengungkap sejumlah negara mengalihkan ekspor mereka lewat negara ketiga untuk menghindari tarif AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gedung Putih Ungkap Kerugian Pajak Rp310-425 Triliun

Jumat, 14 Agu 2026 - 17:30 WIB

Kapal induk USS George Washington mulai bergerak menuju Timur Tengah menggantikan USS Abraham Lincoln. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

USS George Washington Menuju Timur Tengah di Tengah

Jumat, 14 Agu 2026 - 17:00 WIB