The Great Depression 1929: Runtuhnya Wall Street dan Bangkitnya Hitler

Rabu, 3 Desember 2025 - 18:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari pesta saham ke medan perang. Runtuhnya Wall Street 1929 bukan cuma bikin miskin, tapi membuka jalan bagi Hitler. Simak sejarah kelam ini. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dari pesta saham ke medan perang. Runtuhnya Wall Street 1929 bukan cuma bikin miskin, tapi membuka jalan bagi Hitler. Simak sejarah kelam ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Amerika Serikat menikmati pesta pora yang memabukkan pada dekade 1920-an. Orang sering menyebut era ini sebagai “Roaring Twenties”. Musik jazz menggema di setiap sudut, mobil mewah memadati jalanan, dan harga saham terus meroket tajam.

Masyarakat mabuk oleh spekulasi saham yang berlebihan. Mereka meminjam uang untuk membeli saham dengan harapan cepat kaya. Sayangnya, kemewahan itu berdiri di atas pondasi utang yang sangat rapuh. Pesta itu harus berakhir dengan cara yang paling brutal.

Black Tuesday: Awal Mimpi Buruk

Mimpi buruk itu datang pada 29 Oktober 1929, hari yang kita kenal sebagai “Black Tuesday”. Pasar saham Wall Street runtuh seketika. Investor panik dan menjual saham mereka secara massal tanpa berpikir panjang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibatnya, kekayaan senilai miliaran dolar lenyap dalam hitungan jam. Kepanikan ini memicu gelombang bank run. Nasabah menyerbu bank untuk menarik uang tunai mereka. Nahasnya, bank tidak memiliki uang tunai yang cukup dan akhirnya bangkrut satu per satu.

Baca Juga :  Daftar 10 Korban Tewas KRL vs Argo Bromo Terungkap, Semua Perempuan - Ini Identitasnya

Roda ekonomi Amerika Serikat macet total. Pabrik-pabrik tutup dan jutaan orang kehilangan pekerjaan dalam semalam. Antrean panjang pencari sup gratis menjadi pemandangan umum di kota-kota besar.

Efek Domino Menghantam Eropa

Gelombang kejut ini tidak berhenti di New York. Sebaliknya, ia menjalar cepat ke seluruh dunia lewat jalur keuangan. Bank-bank Amerika segera menarik kembali pinjaman mereka dari Eropa untuk menutupi kerugian di dalam negeri.

Lantas, Jerman menjadi korban yang paling menderita akibat penarikan dana mendadak ini. Republik Weimar, pemerintahan Jerman saat itu, sangat bergantung pada pinjaman AS untuk membayar pampasan Perang Dunia I.

Ekonomi Jerman langsung terjun bebas. Industri mereka lumpuh total. Faktanya, angka pengangguran di Jerman melonjak drastis hingga mencapai 6 juta orang pada tahun 1932.

Keputusasaan Membuka Jalan bagi Ekstremis

Rakyat Jerman hidup dalam kemiskinan dan kelaparan yang akut. Mereka kehilangan kepercayaan pada pemerintah demokratis yang tampak lemah dan tidak berdaya. Di tengah keputusasaan inilah, Adolf Hitler dan Partai Nazi melihat peluang emas.

Baca Juga :  BPBD DKI Peringatkan Warga Pesisir Jakarta Waspada Rob 8–15 Oktober 2025

Hitler tidak menawarkan solusi ekonomi yang rumit. Justru, ia memainkan retorika emosional yang membakar semangat. Ia menyalahkan pihak asing dan kaum Yahudi sebagai biang keladi penderitaan rakyat Jerman.

Ia menjanjikan pekerjaan, roti, dan pemulihan harga diri bangsa. Tentu saja, janji manis ini terdengar sangat menggoda bagi perut yang lapar. Rakyat yang putus asa akhirnya memberikan suara mereka kepada partai ekstremis tersebut.

Stabilitas Ekonomi Kunci Perdamaian

Pada akhirnya, Hitler berhasil naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 1933, menunggangi gelombang krisis ekonomi tersebut. Sisanya adalah sejarah kelam tentang perang dan genosida.

Peristiwa “The Great Depression” mengajarkan kita satu hukum sejarah yang vital. Stabilitas ekonomi memiliki hubungan darah dengan stabilitas politik.

Jika ekonomi hancur, demokrasi menjadi rapuh. Maka, menjaga kesejahteraan rakyat bukan sekadar tugas ekonomi, melainkan benteng pertahanan utama untuk mencegah bangkitnya tirani dan peperangan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis
Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya
14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis
Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 16:21 WIB

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:14 WIB

Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:30 WIB

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Berita Terbaru

Putusan panggung hukum Buffalo. Juri federal menyatakan Hadi Matar bersalah atas aksi terorisme internasional terkait penikaman novelis Salman Rushdie. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis

Jumat, 31 Jul 2026 - 16:21 WIB

Tragedi kematian massal satwa liar. Otoritas Kenya mencurigai racun sianida pada buah tomat di perbatasan Taman Nasional Amboseli sebagai pemicu kematian 15 gajah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya

Jumat, 31 Jul 2026 - 15:14 WIB

Langkah taktis raksasa semikonduktor. Intel mengonfirmasi kembalinya fitur Hyper-Threading mulai prosesor server Xeon 8 Coral Rapids. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Intel Resmi Menghidupkan Kembali Teknologi Hyper-Threading

Jumat, 31 Jul 2026 - 15:00 WIB