JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Amerika Serikat menikmati pesta pora yang memabukkan pada dekade 1920-an. Orang sering menyebut era ini sebagai “Roaring Twenties”. Musik jazz menggema di setiap sudut, mobil mewah memadati jalanan, dan harga saham terus meroket tajam.
Masyarakat mabuk oleh spekulasi saham yang berlebihan. Mereka meminjam uang untuk membeli saham dengan harapan cepat kaya. Sayangnya, kemewahan itu berdiri di atas pondasi utang yang sangat rapuh. Pesta itu harus berakhir dengan cara yang paling brutal.
Black Tuesday: Awal Mimpi Buruk
Mimpi buruk itu datang pada 29 Oktober 1929, hari yang kita kenal sebagai “Black Tuesday”. Pasar saham Wall Street runtuh seketika. Investor panik dan menjual saham mereka secara massal tanpa berpikir panjang.
Akibatnya, kekayaan senilai miliaran dolar lenyap dalam hitungan jam. Kepanikan ini memicu gelombang bank run. Nasabah menyerbu bank untuk menarik uang tunai mereka. Nahasnya, bank tidak memiliki uang tunai yang cukup dan akhirnya bangkrut satu per satu.
Roda ekonomi Amerika Serikat macet total. Pabrik-pabrik tutup dan jutaan orang kehilangan pekerjaan dalam semalam. Antrean panjang pencari sup gratis menjadi pemandangan umum di kota-kota besar.
Efek Domino Menghantam Eropa
Gelombang kejut ini tidak berhenti di New York. Sebaliknya, ia menjalar cepat ke seluruh dunia lewat jalur keuangan. Bank-bank Amerika segera menarik kembali pinjaman mereka dari Eropa untuk menutupi kerugian di dalam negeri.
Lantas, Jerman menjadi korban yang paling menderita akibat penarikan dana mendadak ini. Republik Weimar, pemerintahan Jerman saat itu, sangat bergantung pada pinjaman AS untuk membayar pampasan Perang Dunia I.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ekonomi Jerman langsung terjun bebas. Industri mereka lumpuh total. Faktanya, angka pengangguran di Jerman melonjak drastis hingga mencapai 6 juta orang pada tahun 1932.
Keputusasaan Membuka Jalan bagi Ekstremis
Rakyat Jerman hidup dalam kemiskinan dan kelaparan yang akut. Mereka kehilangan kepercayaan pada pemerintah demokratis yang tampak lemah dan tidak berdaya. Di tengah keputusasaan inilah, Adolf Hitler dan Partai Nazi melihat peluang emas.
Hitler tidak menawarkan solusi ekonomi yang rumit. Justru, ia memainkan retorika emosional yang membakar semangat. Ia menyalahkan pihak asing dan kaum Yahudi sebagai biang keladi penderitaan rakyat Jerman.
Ia menjanjikan pekerjaan, roti, dan pemulihan harga diri bangsa. Tentu saja, janji manis ini terdengar sangat menggoda bagi perut yang lapar. Rakyat yang putus asa akhirnya memberikan suara mereka kepada partai ekstremis tersebut.
Stabilitas Ekonomi Kunci Perdamaian
Pada akhirnya, Hitler berhasil naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 1933, menunggangi gelombang krisis ekonomi tersebut. Sisanya adalah sejarah kelam tentang perang dan genosida.
Peristiwa “The Great Depression” mengajarkan kita satu hukum sejarah yang vital. Stabilitas ekonomi memiliki hubungan darah dengan stabilitas politik.
Jika ekonomi hancur, demokrasi menjadi rapuh. Maka, menjaga kesejahteraan rakyat bukan sekadar tugas ekonomi, melainkan benteng pertahanan utama untuk mencegah bangkitnya tirani dan peperangan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















