Netanyahu Temui Trump Akhir Desember: Bahas Fase Sulit Gencatan Senjata dan Pelucutan Senjata Hamas

Selasa, 9 Desember 2025 - 06:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Jalan terjal menuju damai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara mengejutkan mengincar perundingan langsung dengan Beirut guna meredakan perang, saat sekutu Barat memberikan tekanan hebat untuk menjaga gencatan senjata AS-Iran. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Jalan terjal menuju damai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara mengejutkan mengincar perundingan langsung dengan Beirut guna meredakan perang, saat sekutu Barat memberikan tekanan hebat untuk menjaga gencatan senjata AS-Iran. Dok: Istimewa.

YERUSALEM, POSNEWS.CO.ID  Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersiap menghadapi babak diplomasi yang berat. Ia mengumumkan rencana perjalanannya untuk bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada akhir Desember nanti.

Pengumuman ini ia sampaikan pada hari Minggu (08/12/2025) saat menerima kunjungan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, di Yerusalem. Fokus utamanya adalah membahas peluang perdamaian dan transisi menuju fase kedua inisiatif gencatan senjata AS.

“Kami berharap dapat segera melangkah ke fase kedua, yang jauh lebih sulit,” ujar Netanyahu kepada media.

Saat ini, gencatan senjata yang ditengahi AS telah berjalan sejak 10 Oktober lalu. Meskipun demikian, ketenangan komprehensif belum benar-benar tercipta di lapangan. Kedua belah pihak masih saling tuduh melakukan pelanggaran.

Tantangan Fase Kedua: Senjata dan Pasukan

Fase kedua ini menyimpan tantangan teknis dan politis yang besar. Menurut proposal AS, tahap ini akan menangani isu-isu paling sensitif.

Baca Juga :  Kuasa Emansipasi: Menakar Ulang Keamanan Global Lewat Kacamata Feminisme HI

Agenda krusial tersebut meliputi penegakan pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel lebih lanjut, dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional.

Kanselir Jerman Friedrich Merz memberikan dukungan penuh terhadap proses ini. “Fase dua harus dilakukan sekarang,” tegasnya. Selain itu, Merz menekankan kembali dukungan Jerman terhadap solusi dua negara sebagai jalan keluar konflik jangka panjang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada tahap pertama sebelumnya, militan Palestina telah membebaskan 47 sandera Israel yang tersisa, baik yang hidup maupun meninggal. Hanya satu jenazah perwira polisi Israel yang belum dikembalikan.

Syarat Berat Hamas: Akhiri Pendudukan Dulu

Di sisi lain, Hamas memberikan sinyal perlawanan terhadap syarat pelucutan senjata. Kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, menegaskan posisi kelompoknya pada Sabtu lalu.

Ia menyatakan bahwa Hamas hanya akan menyerahkan senjata jika pendudukan Israel berakhir total.

“Senjata kami terkait dengan keberadaan pendudukan dan agresi. Jika pendudukan berakhir, senjata ini akan ditempatkan di bawah otoritas negara,” kata al-Hayya dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa kesepakatan tersebut masih dalam tahap awal dan diskusi alot dengan para mediator masih berlangsung. Padahal, Israel bersikeras menjadikan pelucutan senjata Hamas sebagai syarat mati dalam fase kedua ini.

Baca Juga :  Xi Jinping Surati Veteran Perang Zimbabwe

Korban Masih Berjatuhan

Sementara itu, realitas di Gaza masih memprihatinkan. Walaupun gencatan senjata berlaku, kekerasan belum sepenuhnya berhenti.

Otoritas kesehatan setempat melaporkan lebih dari 360 warga Palestina tewas selama periode jeda ini. Akibatnya, total korban jiwa Palestina kini menembus angka 70.360 orang. Di pihak Israel, tiga tentara juga dilaporkan tewas dalam insiden terpisah.

Kini, pertemuan Netanyahu dan Trump di penghujung tahun akan menjadi momen penentu. Apakah diplomasi tingkat tinggi mampu memecahkan kebuntuan “garis merah” soal senjata, atau justru memicu eskalasi baru di tahun mendatang?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan
Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC
Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI
Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar
Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik
Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih
Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut
KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:22 WIB

ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:45 WIB

Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:41 WIB

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Berita Terbaru

Konfrontasi hukum internasional. Senator Ronald

INTERNASIONAL

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Konfrontasi para titan. CEO OpenAI Sam Altman memberikan kesaksian panas di pengadilan, mengungkap ambisi kontrol absolut Elon Musk yang menjadi pemicu keretakan hubungan di raksasa kecerdasan buatan tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:45 WIB

Sidang darurat anggaran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menghadapi tekanan dari kedua partai terkait pembengkakan biaya perang di Iran dan dampaknya terhadap kesiapan militer AS dalam menghadapi potensi konflik global lainnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:41 WIB

Guncangan otoritas kesehatan. Kepala FDA Marty Makary mengundurkan diri setelah setahun menjabat, meninggalkan lembaga tersebut dalam ketidakpastian di tengah perselisihan mengenai kebijakan rokok elektrik dan tinjauan obat-obatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB