Pasca-Assad Tumbang: Mimpi Buruk Baru Hantui Pengungsi Suriah di Eropa

Kamis, 11 Desember 2025 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rezim Assad jatuh, tapi penderitaan belum usai. Negara Eropa berlomba memulangkan pengungsi Suriah secara paksa. Simak kisah mereka yang terjepit di antara puing kampung halaman dan ancaman deportasi. Dok: Istimewa.

Rezim Assad jatuh, tapi penderitaan belum usai. Negara Eropa berlomba memulangkan pengungsi Suriah secara paksa. Simak kisah mereka yang terjepit di antara puing kampung halaman dan ancaman deportasi. Dok: Istimewa.

WINA – Air mata bahagia sempat membasahi wajah Abdulhkeem Alshater di pusat kota Wina tahun lalu. Ribuan warga Suriah merayakan keajaiban yang mereka tunggu selama lima dekade: jatuhnya rezim brutal Bashar al-Assad.

Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Realitas politik Eropa segera menampar mereka dengan keras. Jatuhnya rezim justru menjadi lampu hijau bagi negara-negara Barat untuk mengubah status mereka dari “pengungsi yang dilindungi” menjadi “pendatang yang harus pulang”.

Alshater, yang telah menghabiskan satu dekade membangun kembali hidupnya di Austria, kini hidup dalam kecemasan. Ia belajar bahasa Jerman, meningkatkan sertifikasi profesional, dan membesarkan keluarga dengan damai. Kini, semua itu terancam sirna.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Austria dan Jerman Memimpin Arus Balik

Pemerintah Austria mengambil langkah agresif. Mereka memerintahkan peninjauan ulang status suaka warga Suriah. Bahkan, Wina sedang mempersiapkan program “repatriasi dan deportasi teratur”.

“Ini mengkhawatirkan dan mengecewakan. Ini adalah pelanggaran kepercayaan, terutama bagi mereka yang sudah membangun kehidupan di sini,” ungkap Alshater, ketua Komunitas Suriah Bebas di Austria.

Baca Juga :  Ribuan Aksi ICE Out for Good Siap Lumpuhkan AS

Di Jerman, rumah bagi diaspora Suriah terbesar di Eropa, situasinya tak kalah pelik. Kanselir Friedrich Merz menyatakan harapannya agar sebagian besar dari 1 juta warga Suriah di sana segera kembali ke tanah airnya.

“Sekarang tidak ada lagi alasan untuk suaka di Jerman. Oleh karena itu, kita bisa memulai repatriasi,” tegas Merz bulan lalu.

Meskipun banyak pengusaha Jerman menolak rencana ini karena peran vital pekerja Suriah dalam mengatasi kekurangan tenaga kerja, retorika politik deportasi terus bergulir kencang.

Pulang ke Puing-Puing?

Anas Alakkad, pengungsi yang menjalankan startup di Jerman, menyebut ancaman deportasi kini mendominasi setiap percakapan komunitas. Akibatnya, banyak warga Suriah merasa frustrasi dan takut untuk melanjutkan integrasi sosial.

“Mereka takut akan dideportasi. Lantas, mereka bertanya-tanya apakah masih layak belajar bahasa atau memulai bisnis,” ujar Alakkad.

Dilema terbesar terletak pada kondisi Suriah itu sendiri. Ahed Festuk, aktivis Suriah di AS, menyebut perasaan ini sangat pahit (bittersweet). “Benar kami mendapatkan rumah kami kembali, tapi kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa rumah kami telah hancur total,” katanya.

Baca Juga :  Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Laporan Bank Dunia memperkirakan biaya rekonstruksi Suriah mencapai lebih dari US$200 miliar. Infrastruktur dasar seperti listrik dan air bersih masih sangat minim. Parahnya lagi, kekerasan sporadis masih kerap terjadi.

Memaksa Pulang Terlalu Dini

Data PBB menunjukkan bahwa 80 persen pengungsi memang berharap untuk pulang suatu hari nanti. Sekitar 500.000 orang bahkan telah kembali dari Turki tahun lalu secara sukarela.

Akan tetapi, para ahli memperingatkan bahaya pemulangan paksa yang prematur. Ryyan Alshebl, Wali Kota Ostelsheim di Jerman yang juga mantan pengungsi Suriah, menawarkan solusi jalan tengah.

Ia mendesak pemerintah untuk membiarkan mereka yang sudah terintegrasi dan bekerja untuk tetap tinggal. Sebaliknya, deportasi bisa menyasar minoritas yang terus bergantung pada bantuan negara.

“Jerman membutuhkan orang-orang ini. Ini bukan tindakan kemurahan hati, tapi kebutuhan ekonomi,” tegas Alshebl.

Pada akhirnya, nasib jutaan nyawa kini bergantung pada kebijakan politik negara tuan rumah. Apakah Eropa akan menghargai kontribusi mereka, atau mengusir mereka kembali ke negeri yang masih tertatih-tatih bangkit dari abu perang?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fakta Baru Kasus YTR, Pelaku Aniaya Korban Berulang Kali sejak 2024
Polri Rotasi 1.121 Perwira, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti
Satgas Mitigasi PHK Resmi Dibentuk, Fokus Cegah Gelombang Pemutusan Kerja
Polda Metro Jaya Ungkap Judol HOT51, Perputaran Uang Capai Rp559,8 Miliar
Bareskrim Sita Rp8,7 Miliar dan Tetapkan 287 WNA Tersangka Judi Online
Meta Resmi Rilis Kacamata Pintar Murah
Rusia Bantah Tekan Belarus: Hubungan Tetap Harmonis
Perancis Batasi Jam Kunjung Wisata dan Polandia Siaga

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 17:00 WIB

Fakta Baru Kasus YTR, Pelaku Aniaya Korban Berulang Kali sejak 2024

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:42 WIB

Polri Rotasi 1.121 Perwira, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:28 WIB

Satgas Mitigasi PHK Resmi Dibentuk, Fokus Cegah Gelombang Pemutusan Kerja

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:16 WIB

Polda Metro Jaya Ungkap Judol HOT51, Perputaran Uang Capai Rp559,8 Miliar

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:59 WIB

Bareskrim Sita Rp8,7 Miliar dan Tetapkan 287 WNA Tersangka Judi Online

Berita Terbaru