Ambisi Gila Membangun Pembangkit Listrik di Luar Angkasa

Jumat, 30 Januari 2026 - 07:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bumi butuh energi, dan jawabannya mungkin ada di langit. Satelit raksasa berbentuk tenda siap memancarkan listrik nirkabel ke bumi, menembus malam dan cuaca buruk. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bumi butuh energi, dan jawabannya mungkin ada di langit. Satelit raksasa berbentuk tenda siap memancarkan listrik nirkabel ke bumi, menembus malam dan cuaca buruk. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan sebuah pembangkit listrik yang tidak pernah tidur. Tidak peduli malam hari, musim dingin, atau badai salju, ia terus memproduksi energi bersih tanpa henti. Ini bukan fiksi ilmiah, melainkan konsep nyata yang sedang badan antariksa dunia kejar: Space-Based Solar Power (SBSP).

SBSP adalah sistem yang memanen sinar matahari langsung di luar angkasa, mengubahnya menjadi energi listrik, dan memancarkannya ke penerima (rectenna) di zona khatulistiwa Bumi.

Mengapa harus ke luar angkasa? Jawabannya adalah efisiensi. Atmosfer, malam hari, dan cuaca menghambat panel surya di bumi. Sebaliknya, di orbit rendah 1.100 km di atas bumi, satelit bisa mengumpulkan 144% lebih banyak tenaga surya. Di sana, pengumpulan energi bisa terjadi 24 jam sehari.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tenda Raksasa di Orbit

Desain prototipe SBSP tampak futuristik. Bayangkan sebuah struktur “tenda raksasa” yang melayang di angkasa. Kerangka segitiganya ringan namun masif, dengan panjang 336 meter.

Baca Juga :  Hilirisasi Nikel: Antara Mimpi Raja Baterai Dunia dan Kerusakan Lingkungan

Kolektor surya melapisi sisi-sisinya. Di lantai “tenda”, terdapat konverter surya dan antena pemancar. Antena ini mengirimkan gelombang mikro (microwave) ke Bumi.

Tenang saja, fisikawan menjamin ini bukan “sinar kematian” (death ray) ala film alien. Gelombang ini bersifat non-ionisasi, tidak merusak DNA, dan aman bagi satwa liar maupun manusia. Gelombang ini menembus atmosfer dengan kehilangan energi minimal, dan ladang antena oval raksasa di bumi akan menerimanya.

Jepang Memimpin Perlombaan

Meskipun ilmuwan AS Dr. Peter Glaser telah mematenkan konsep ini pada 1973, Jepang-lah yang kini memimpin perlombaan menuju realisasi.

Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) telah terlibat serius sejak 1998. Berkat dukungan raksasa industri seperti Mitsubishi dan IHI Corporation, JAXA memprediksi satelit SBSP pertama mereka akan mengorbit pada tahun 2030.

Mereka fokus pada enam area krusial, mulai dari konfigurasi umum hingga sistem transmisi daya nirkabel. Meski pengujian masih berjalan, ambisi Jepang adalah yang paling konkret di dunia saat ini.

Baca Juga :  1.000 Hari Penentu Masa Depan: Studi Raksasa Selandia Baru Ungkap Fakta Mengejutkan tentang Bayi Modern

Tantangan: Biaya dan Sampah Antariksa

Tentu, jalan menuju energi tak terbatas ini terjal. Hambatan teknis terbesar adalah peluncuran. Mengirim material ke orbit rendah—apalagi orbit tinggi 36.000 km—membutuhkan biaya selangit. Belum ada agensi yang berpengalaman membangun struktur sebesar itu di angkasa.

Masalah kedua adalah transmisi nirkabel. Pada 2009, peneliti AS dan Jepang sukses mengirim energi microwave sejauh 145 km antar-pulau di Hawaii. Namun, mereplikasi kesuksesan ini dari luar angkasa adalah tantangan berbeda.

Kritikus juga menyoroti risiko tabrakan dengan sampah antariksa (space junk) atau meteor kecil. Selain itu, teknisi akan sangat sulit memperbaiki struktur tanpa awak yang rusak di orbit.

Banyak pihak skeptis berpendapat bahwa mengembangkan tenaga surya di bumi—seperti di Gurun Arizona atau Afrika Utara—masih lima kali lebih hemat biaya daripada SBSP.

Namun, seiring kebutuhan energi dunia yang melonjak dan krisis nuklir atau minyak yang terus menghantui, memanen matahari langsung dari sumbernya mungkin adalah satu-satunya jalan keluar di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB