WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Harapan perdamaian di Timur Tengah kembali memudar. Presiden Donald Trump secara resmi menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “sekarat” (on life support). Ia menolak proposal terbaru dari Teheran karena dianggap tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat.
Sebelumnya, Trump sempat membuat pengakuan mengejutkan kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Selasa. Ia mengaku nyaris menandatangani perintah serangan militer hanya satu jam sebelum akhirnya membatalkannya. Oleh karena itu, ancaman serangan baru kini membayangi negosiasi yang sedang berlangsung.
Proyek “Kebebasan” dan Ketegasan AS
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat siap meluncurkan serangan skala besar jika Iran tidak segera menyepakati syarat damai. Sebagai langkah nyata, Presiden Trump ingin memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Ia juga menuntut pembukaan segera Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal internasional.
Namun, Wakil Presiden JD Vance memberikan nada yang lebih seimbang. Ia mengakui adanya kemajuan dalam perundingan meski mengakui sulitnya bernegosiasi dengan kepemimpinan Iran yang terpecah pasca-kematian Ayatollah Ali Khamenei. Di sisi lain, pemerintah AS tetap menjalankan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang beraliansi dengan Teheran.
Penolakan Proposal: “Daftar Keinginan Amerika”
Pemerintah Iran meluncurkan proposal damai baru melalui mediator Pakistan pada akhir pekan lalu. Akan tetapi, proposal tersebut hanya menawarkan penghentian perang tanpa memberikan konsesi pada isu nuklir. Iran juga menuntut ganti rugi kerusakan perang dan pencabutan sanksi ekonomi secara penuh.
Maka dari itu, Trump menolak draf tersebut dengan nada geram. Ebrahim Azizi, ketua komite keamanan nasional parlemen Iran, membalas ancaman AS melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa militer Iran siap memberikan “respons militer yang menentukan” terhadap segala bentuk agresi. Teheran tetap bersikeras bahwa mereka memiliki hak pengayaan uranium untuk tujuan damai dan sipil.
Insiden Maritim: Penyitaan Kapal Tanker Skywave
Di tengah kebuntuan diplomatik, konfrontasi fisik terus berlanjut di perairan. Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan kembali menyita kapal tanker Skywave di Samudra Hindia pada Selasa malam. Selanjutnya, otoritas AS melumpuhkan kapal tersebut karena diduga membawa minyak mentah Iran yang melanggar blokade.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai balasan, Iran melalui media pemerintah mengutuk keras penyitaan tersebut. Teheran tetap mempertahankan blokade di Selat Hormuz terhadap hampir semua kapal non-Iran. Dengan demikian, gangguan pada jalur vital ini terus memicu ketidakpastian harga energi dunia di tengah pemulihan ekonomi pasca-perang.
Menatap Masa Depan Konflik
Masa depan stabilitas global kini bergantung pada hasil perundingan intensif dalam beberapa hari ke depan. Singkatnya, jika kedua belah pihak gagal menemukan titik temu, Trump mengancam akan memulai kembali kampanye militer.
Dengan demikian, masyarakat internasional terus memantau apakah diplomasi melalui mediator Pakistan mampu memberikan hasil konkret. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, kemampuan Trump dalam menyeimbangkan tekanan domestik dan ambisi militer di Timur Tengah menjadi pertaruhan politik paling besar bagi pemerintahannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












