JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Berbagai pemerintah di Asia Tenggara kini bersiap menghadapi ancaman El Nino ekstrem. Fenomena alam ini berpotensi merusak hasil panen dan memicu lonjakan inflasi pangan.
Kembalinya El Nino “Godzilla” di Tengah Krisis Pupuk
Data meteorologi menunjukkan awal kemunculan El Nino pada tahun ini. Para ilmuwan memproyeksikan fenomena ini akan menguat menjadi El Nino “Godzilla”.
Kekuatan El Nino kali ini berpotensi melampaui rekor terburuk tahun 2015. Kondisi ini mengancam ketahanan pangan negara-negara agraris regional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sektor pertanian menghadapi tekanan yang sangat berat saat ini. Blokade Selat Hormuz sebelumnya menyumbat pengiriman pupuk global sejak awal tahun.
Kelangkaan pasokan pupuk kini melambungkan biaya produksi para petani. Analis Segi Enam Advisors Khor Yu-Leng menyebut perdagangan pupuk merosot 30 persen.
Ancaman Nyata Bagi Komoditas Sawit dan Beras
Suhu panas ekstrem berpotensi mengacaukan pola hujan musiman. Sektor perkebunan kelapa sawit membutuhkan pasokan air yang sangat melimpah.
Penurunan curah hujan akan menekan volume produksi sawit Indonesia dan Malaysia. Penurunan suplai ini otomatis akan mendongkrak harga minyak sawit global.
Pasar beras global juga berada dalam posisi yang sangat rentan. Gangguan cuaca sedikit saja dapat memicu larangan ekspor secara sepihak.
Kondisi tersebut biasanya memicu aksi panic buying dari negara importir. Konsumen akhirnya harus membayar harga pangan yang jauh lebih mahal.
Dampak Makroekonomi dan Tekanan Mandat Biofuel
Sektor pertanian menyumbang sekitar 10 persen dari total ekonomi regional. Pelemahan sektor ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN.
Analis Goldman Sachs memproyeksikan kenaikan inflasi pangan yang cukup signifikan. El Nino berpotensi menambah 2,1 persen inflasi dalam setahun.
Krisis ini juga memaksa pemerintah mengevaluasi kembali kebijakan biofuel. Pemerintah Indonesia kini harus memprioritaskan minyak sawit untuk pangan.
Kebutuhan konsumsi masyarakat harus berada di atas kebutuhan bahan bakar biodiesel.
Membangun Solusi Struktural yang Berkelanjutan
Berbagai negara mulai menyiapkan langkah darurat untuk mengamankan pasokan. Malaysia berjanji akan merilis sistem peringatan dini kekeringan secepatnya.
Indonesia kini berfokus memperkuat sistem irigasi pada lahan persawahan. Namun, para analis menilai langkah darurat saja tidak akan cukup.
Pemerintah harus membangun ketahanan pangan jangka panjang yang kokoh. Solusi utama mencakup pembangunan waduk dan penggunaan benih tahan kekeringan.
Pemerintah juga perlu memanfaatkan teknologi pemantauan cuaca berbasis digital. Pembiayaan bagi petani kecil juga harus menjadi prioritas utama.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












