JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ekspor sawit terbaru pada hari Rabu. Nilai pengiriman minyak sawit mentah (CPO) melonjak tipis menjadi 9,59 miliar dolar AS.
Kenaikan Ekspor Sawit Belum Cukup
Kenaikan ini tercatat selama lima bulan pertama tahun 2026. Namun, lonjakan ekspor sawit gagal menyelamatkan neraca perdagangan Indonesia.
BPS mencatat nilai ekspor sawit sebesar 8,90 miliar dolar AS pada periode sama tahun lalu. Deputi BPS Ateng Hartono mengumumkan kenaikan ekspor sawit sebesar 7,71 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Volume pengiriman sawit juga tumbuh tipis sebesar 7,41 persen. Indonesia mengekspor sekitar 8,92 juta ton sawit ke pasar global.
Angka ini melampaui volume ekspor tahun lalu sebesar 8,30 juta ton. BPS enggan merinci negara tujuan utama ekspor sawit tersebut.
Namun, India mengimpor minyak nabati senilai hampir 1,2 miliar dolar AS. Minyak sawit mendominasi kategori impor India tersebut.
Transisi Sistem Satu Pintu Danantara
Pemerintah menerapkan sistem ekspor satu pintu untuk semua produk sawit. Kini, pelaku usaha melaporkan dokumen ekspor kepada Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Perusahaan milik negara tersebut mengelola sistem transisi ini sejak awal Juni. Singapura, Mesir, dan Pakistan mendesak pasokan sawit Indonesia tetap stabil.
Saat ini, Indonesia memimpin pasokan sawit untuk pasar global. Ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini mengandalkan sawit untuk menggenjot ekspor.
Rekor Surplus Runtuh Akibat Impor Migas
Namun, kenaikan ekspor sawit belum mampu menyelamatkan neraca perdagangan. Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar 1,61 miar dolar AS pada Mei 2026.
Defisit ini mengakhiri rekor surplus beruntun selama 72 bulan sejak Mei 2020. Ateng menyebut lonjakan impor minyak dan gas (migas) memicu defisit tersebut.
Singapura mendominasi pasokan impor migas Indonesia sebesar 5,1 miliar dolar AS.
Efek Domino Konflik Selat Hormuz
Langkah Iran menutup Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia. Penutupan terjadi pasca serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.
Negara produsen minyak Timur Tengah mengandalkan jalur ini untuk mengirim energi. Blokade militer memaksa harga minyak mentah Brent menembus 100 dolar AS.
Namun, harga minyak Brent turun ke level 73 dolar AS hari Rabu. Penurunan ini terjadi seiring upaya negosiasi damai antara Washington dan Teheran.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












