JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah memberlakukan pencampuran biodiesel 50 persen mulai Rabu kemarin. Langkah strategis ini mengincar target kemandirian energi nasional.
Kebijakan Transisi dan Standar Kualitas Baru
Pemerintah menaikkan kadar campuran sawit menjadi 50 persen. Namun, program ini menghadapi tantangan ekonomi yang berat.
Harga minyak mentah dunia kini terus mengalami penurunan. Sebaliknya, harga minyak sawit mentah bertahan sangat tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyediakan solusi. Pemerintah memberikan masa transisi selama tiga bulan.
Waktu transisi membantu peritel menghabiskan sisa stok B40. Aturan tersebut mengikat peritel sejak pertengahan Juni lalu.
Kini, produsen harus mengirimkan bahan bakar berkualitas tinggi. Formula baru ini menuntut kandungan air sangat rendah.
Bahan bakar B50 juga membutuhkan stabilitas oksidasi tinggi. Kriteria ini melampaui standar kualitas formula B40 sebelumnya.
Tantangan Volume Alokasi untuk Produsen
Pemerintah belum menetapkan volume pasokan untuk masa depan. Padahal, kadar pencampuran baru melonjakkan permintaan pasar secara drastis.
Kementerian ESDM sebelumnya mengalokasikan 15,64 juta kiloliter. Kuota tersebut mencakup kebutuhan pasokan sepanjang tahun 2026.
Wakil Ketua Aprobi Catra De Thouars angkat bicara. Ia mengonfirmasi ketiadaan angka alokasi baru saat ini.
“Pemerintah masih menyiapkan alokasi baru tersebut,” ujar Catra.
Produsen untuk sementara tetap menggunakan kuota alokasi lama. Data Kementerian ESDM menunjukkan penyaluran yang lancar.
Indonesia sukses mendistribusikan 4,61 juta kiloliter hingga April.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












