POSNEWS.CO.ID, RIYADH — Arab Saudi menghadapi krisis pasokan rudal pencegat di tengah pertempuran sengit melawan milisi Houthi. Pemerintah kerajaan telah meminta bantuan pertahanan udara dari sejumlah sekutu regional dan Barat.
Krisis Stok Amunisi dan Bantuan Sekutu
Dua pejabat kawasan mengonfirmasi bahwa Arab Saudi mengajukan bantuan kepada Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir. Bantuan tersebut mencakup penempatan sistem pertahanan udara untuk menepis ancaman rudal serta drone.
Pemasok utama persenjataan Arab Saudi, Amerika Serikat, juga mengalami kelangkaan amunisi rudal pencegat. Pasokan militer AS menyusut signifikan akibat keterlibatan dalam konflik bersenjata melawan Iran. Oleh karena itu, Riyadh berupaya memperkuat lini pertahanan udara melalui dukungan negara sekutu lainnya.
Percobaan Serangan ke Makkah dan Ancaman Energi
Pasukan keamanan Arab Saudi mengonfirmasi penembakan jatuh sebuah drone milik milisi Houthi pada Rabu. Pemerintah mengklaim drone tersebut mengarah ke kota suci Makkah. Pihak Houthi membantah tuduhan penyerangan target wilayah suci tersebut.
Sementara itu, krisis pasokan minyak global semakin meningkat akibat kerusakan infrastruktur vital. Serangan milisi melumpuhkan operasional jalur pipa minyak utama East-West Pipeline selama beberapa pekan. Selain itu, kelompok Houthi menguasai sejumlah pulau strategis di Selat Bab el-Mandeb. Harga minyak dunia bertahan di atas $100$ Dolar AS per barel.
Diplomasi Regional dan Pembatasan Rantai Pasok
Pemerintah Arab Saudi mengutamakan langkah diplomasi untuk meredakan ketegangan pertempuran di Yaman. Oman dan Mesir memimpin upaya negosiasi antarfaksi demi mencapai kesepakatan damai.
Selain itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan komitmen dukungan penuh bagi Arab Saudi. Pihak Tiongkok turut mendesak pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz secara aman. Dengan demikian, stabilitas pasokan energi dunia sangat bergantung pada penyelesaian krisis di kawasan Teluk.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














