- Trump Ancam Serangan Lebih Besar
- Ledakan Terdengar di Aqaba, Iran Klaim Balas Serangan
- Iran Janji Balasan “Menghancurkan”
- Sejumlah Fasilitas Sipil Terkena Dampak
- Harga Minyak Melonjak Akibat Eskalasi
- Stok Amunisi AS Menipis di Tengah Perang Tak Populer
- Pezeshkian Sempat Tawarkan Kembali ke Gencatan Senjata
- Kilas Balik Serangan Minggu
POSNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Militer AS menyerang sejumlah target di Iran pada Selasa. Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone. Pertempuran kembali memanas dalam perang intermiten yang sudah berlangsung lebih dari enam bulan. Menurut pejabat setempat, salah satu serangan AS menghantam sebuah rumah yang tengah menggelar pesta pernikahan, menewaskan dua orang dan melukai puluhan lainnya.
Serangan terbaru ini menyusul serangan AS pada Minggu yang tiba-tiba mengakhiri sebulan tanpa aksi militer. Insiden ini pun mengancam menyalakan kembali konflik yang sudah melonjakkan harga minyak dunia dan menyulitkan posisi politik Partai Republik jelang pemilihan paruh waktu November. Padahal, sebelumnya Presiden Donald Trump tampak beralih menekan Iran lewat sanksi ekonomi, bukan aksi militer.
Trump Ancam Serangan Lebih Besar
Trump memperingatkan lewat media sosial bahwa Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih keras jika membalas. Ia menyebut serangan tersebut masih bukan yang terbesar, dan ancaman yang lebih besar masih menanti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Komando Pusat AS menyatakan serangan terbaru merupakan respons atas upaya Teheran menyerang kapal komersial dan pasukan Amerika di Timur Tengah. Sementara itu, Trump memberikan penjelasan tambahan lewat sambungan telepon dengan Fox News. Ia mengeklaim pasukan AS menyerang radar milik Iran karena Teheran mencoba membangunnya kembali.
Ledakan Terdengar di Aqaba, Iran Klaim Balas Serangan
Pada Selasa malam, ledakan terlihat di atas kota selatan Yordania, Aqaba, seiring klaim Iran bahwa pihaknya tengah membalas serangan AS.
Media pemerintah Iran melaporkan AS mengebom sejumlah lokasi sipil di sepanjang pesisir selatan Iran, termasuk sebuah bandara sipil. Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan, Ahmad Nafisi, menyampaikan kepada televisi pemerintah Iran bahwa serangan AS menghantam rumah tempat pesta pernikahan berlangsung di Kuhestak, Iran selatan. Menurutnya, insiden ini menewaskan dua orang dan melukai sedikitnya 50 orang lainnya. Sementara itu, petugas penyelamat Bulan Sabit Merah di provinsi tersebut menyebut jumlah korban tewas naik menjadi empat orang, termasuk seorang anak.
Hingga berita ini diturunkan, Komando Pusat AS belum merespons permintaan konfirmasi atas laporan tersebut.
Iran Janji Balasan “Menghancurkan”
Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran bersama komando militer gabungannya menyatakan pasukan Iran akan memberikan apa yang mereka sebut sebagai pukulan yang menghancurkan terhadap Amerika Serikat. Kantor berita negara IRNA mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran yang menegaskan serangan AS justru memperkuat tekad Republik Islam tersebut, sekaligus mempertegas penutupan efektif Selat Hormuz. Jalur ini sendiri biasanya dilalui 20 persen pasokan minyak dunia.
Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah pesisir selatan Iran, termasuk kota pelabuhan Bandar Abbas yang menjadi basis fasilitas angkatan laut dan udara, serta Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Saksi mata di Bandar Abbas menyampaikan kepada The Associated Press bahwa ledakan kali ini lebih kuat dibanding Minggu lalu. Mereka juga melihat asap membubung dari bagian timur kota yang menghadap selat tersebut.
Sejumlah Fasilitas Sipil Terkena Dampak
Televisi pemerintah Iran menyatakan serangan AS menghantam sebuah pabrik tepung ikan di Pulau Qeshm serta beberapa lokasi sipil lain di Provinsi Hormozgan. Menurut laporan tersebut, sasaran lain mencakup sebuah dermaga nelayan dan menara milik Organisasi Pelabuhan dan Maritim di Sirik.
Televisi pemerintah juga melaporkan militer AS menyerang Bandara Jiroft, sebuah bandara sipil di Provinsi Kerman, Iran tengah. Menurut laporan itu, sebuah proyektil jatuh di luar area landasan pacu dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur bandara.
Selain itu, Tavanir, perusahaan pengelola jaringan listrik Iran, menyatakan sejumlah bagian jaringan listrik di Provinsi Hormozgan turut terkena serangan. Otoritas setempat kini bekerja memulihkan pemadaman listrik akibat insiden tersebut.
Harga Minyak Melonjak Akibat Eskalasi
AS dan Iran sama-sama berupaya menguasai Selat Hormuz, jalur sempit di lepas pantai Iran yang menjadi koridor pengiriman minyak vital. Teheran secara efektif menutup jalur ini sejak perang dimulai.
Harga minyak melonjak tajam pekan ini seiring bentroknya kembali Iran dan Amerika Serikat. Harga minyak mentah, yang sudah naik sekitar 7 persen pekan ini, terus merangkak naik usai serangan pada Selasa.
Sepanjang tahun ini, harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 50 persen dan ikut menyeret harga bensin naik. Menurut AAA, harga bensin reguler di AS kembali naik semalam menjadi USD 4,10 per galon. Sebagai perbandingan, harga bensin pada periode yang sama tahun lalu hanya USD 3,19 per galon.
Stok Amunisi AS Menipis di Tengah Perang Tak Populer
Sebelum aksi militer kembali pecah, pemerintahan Trump sempat berargumen bahwa tekanan ekonomi yang tepat sasaran akan membawa Teheran ke titik jenuhnya. Kini, serangan kembali terjadi meski stok interseptor canggih AS terus menipis. Perang ini sendiri juga tidak populer di kalangan banyak warga Amerika.
Kembalinya konflik terbuka berpotensi berbahaya bagi kawasan tersebut. Sejak perang dimulai, Iran memang sudah menyasar sejumlah pangkalan militer dan infrastruktur AS di negara-negara Teluk.
Pezeshkian Sempat Tawarkan Kembali ke Gencatan Senjata
Sebelum serangan terbaru terjadi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Selasa bahwa Republik Islam siap kembali ke kesepakatan gencatan senjata sementara yang tercapai dengan AS pada Juni, asalkan Washington melakukan hal serupa.
Media pemerintah Iran mengutip pernyataan Pezeshkian di KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kirgistan. Menurutnya, jika AS kembali memenuhi komitmennya dalam nota kesepahaman tersebut, Republik Islam Iran akan segera membalasnya dengan langkah serupa.
Kesepakatan sementara Juni lalu menyerukan gencatan senjata langsung dan membuka masa negosiasi 60 hari demi kesepakatan yang lebih luas. Namun, kesepakatan itu runtuh tidak lama setelahnya.
Kilas Balik Serangan Minggu
Dalam serangan sebelumnya pada Minggu, Komando Pusat AS menyatakan pasukannya menghantam peluncur roket Iran yang akan melepaskan ranjau laut ke selat tersebut.
Iran membalas serangan Minggu dengan meluncurkan rudal ke sejumlah lokasi AS di Yordania, namun pasukan AS berhasil mencegatnya. Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan pihaknya menghentikan sebuah drone Iran di atas perairannya. Trump sendiri mengakui pada Senin bahwa serangan lanjutan mungkin masih diperlukan.
Militer AS belakangan menggambarkan pertempuran yang kembali pecah ini sebagai aksi terbatas. Meski begitu, Trump tetap mengakui kemungkinan serangan tambahan pada Senin lalu.
Komando Pusat AS menyatakan lewat X pada Senin bahwa serangannya terhadap target Iran pada Minggu bersifat sangat terarah. Menurut pernyataan itu, pasukan AS mengambil tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan penambang ranjau Garda Revolusi yang mengancam secara mendesak di Selat Hormuz. Komando itu menambahkan bahwa Iran sendiri yang menciptakan ancaman tersebut, sementara militer AS bertindak untuk melindungi pelaut sipil, pelayaran komersial, dan arus perdagangan global.
Pada Selasa, Komando Pusat AS kembali menegaskan bahwa serangannya merupakan respons atas agresi Iran terhadap kapal komersial dan pasukan Amerika di kawasan tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














