Trump Hubungi Putin Saat AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Minyak Rusia

Selasa, 10 Maret 2026 - 16:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sengketa intelijen di Capitol Hill. Undang-Undang pengawasan asing Seksi 702 terancam kedaluwarsa setelah kelompok bipartisan menolak penunjukan Bill Pulte oleh Presiden Trump. Dok: Istimewa.

Sengketa intelijen di Capitol Hill. Undang-Undang pengawasan asing Seksi 702 terancam kedaluwarsa setelah kelompok bipartisan menolak penunjukan Bill Pulte oleh Presiden Trump. Dok: Istimewa.

FLORIDA, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi membuka jalur komunikasi langsung dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Pembicaraan ini berlangsung di tengah guncangan hebat pada pasar energi dunia akibat eskalasi militer di Timur Tengah.

Trump mengonfirmasi percakapan tersebut saat memberikan keterangan pers di klub golf miliknya di Florida. Oleh karena itu, pertemuan virtual ini menandai upaya serius Washington untuk mencari penyeimbang pasokan energi setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu krisis distribusi minyak di Teluk.

Perang Iran dan Kelumpuhan Selat Hormuz

Pemicu utama diplomasi ini adalah lonjakan harga minyak mentah yang mencapai rekor tertinggi sejak tahun 2022. Pasalnya, penutupan Selat Hormuz telah memaksa para produsen di wilayah Teluk untuk memangkas output secara drastis.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam pernyataan resminya, Vladimir Putin memperingatkan bahwa perang udara di Iran telah memicu krisis ekonomi dunia yang nyata. Putin mengisyaratkan bahwa produksi minyak yang bergantung pada Selat Hormuz bisa terhenti sepenuhnya dalam waktu dekat. Namun demikian, Rusia menyatakan kesiapannya untuk kembali bekerja sama dengan pelanggan di Eropa jika mereka bersedia memulihkan hubungan jangka panjang.

Baca Juga :  Trump Undang Putin ke KTT G20 Miami guna Akhiri Isolasi Rusia

Rencana Pengurangan Sanksi Minyak Rusia

Laporan internal mengungkapkan bahwa administrasi Trump kini sedang mengkaji kebijakan yang sangat sensitif. Amerika Serikat mempertimbangkan untuk mengurangi sanksi minyak terhadap Rusia guna membanjiri pasar dengan pasokan tambahan.

Selanjutnya, kebijakan ini mencakup opsi keringanan tarif bagi negara-negara seperti India agar dapat membeli minyak Rusia tanpa hukuman finansial dari AS. Pekan lalu, Washington bahkan telah memberikan izin sementara bagi India untuk mengimpor minyak mentah Rusia yang sudah berada di laut. Langkah pragmatis ini bertujuan untuk meredam inflasi bensin di Amerika Serikat, meskipun dapat memperumit upaya isolasi ekonomi terhadap Moskow.

Masa Depan Konflik Ukraina

Selain masalah energi, Trump juga mendesak Putin untuk berperan lebih aktif dalam mengakhiri perang di Ukraina. “Putin ingin membantu dalam isu Iran, tapi saya katakan padanya bahwa akan lebih membantu jika perang Ukraina-Rusia segera berakhir,” ujar Trump.

Baca Juga :  Perjuangan Bir Medis: Kisah John Davin dan Pembangkangan

Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menilai diskusi tersebut berjalan sangat substantif. Menurut Ushakov, Trump memandang penghentian segera konflik Ukraina melalui gencatan senjata sebagai kepentingan nasional Amerika. Pihak Rusia menambahkan bahwa kemajuan militer mereka di lapangan seharusnya mendorong Kyiv untuk segera datang ke meja perundingan guna mencapai penyelesaian jangka panjang.

Pada akhirnya, pertemuan telepon ini membuktikan bahwa krisis energi global mampu mengubah peta aliansi geopolitik secara instan. Dunia kini menanti pengumuman resmi mengenai pelonggaran sanksi Rusia yang petugas prediksi akan terbit pada Senin malam waktu setempat. Langkah ini akan menjadi ujian berat bagi integritas sanksi Barat di tengah kebutuhan mendesak akan stabilitas ekonomi di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Uni Eropa Paksa Meta Buka Akses WhatsApp untuk ChatGPT
Viral Pelajar Dibacok di Palmerah Jakarta Barat, Korban Alami 7 Jahitan
Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru
Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga
Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius
Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:14 WIB

Uni Eropa Paksa Meta Buka Akses WhatsApp untuk ChatGPT

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:30 WIB

Viral Pelajar Dibacok di Palmerah Jakarta Barat, Korban Alami 7 Jahitan

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:12 WIB

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:07 WIB

Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga

Kamis, 11 Juni 2026 - 05:35 WIB

Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius

Berita Terbaru

Ilustrasi, Kebijakan monopoli digital digoyang. Uni Eropa memerintahkan Meta memberikan akses WhatsApp gratis bagi chatbot AI pesaing guna menjaga iklim kompetisi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Uni Eropa Paksa Meta Buka Akses WhatsApp untuk ChatGPT

Kamis, 11 Jun 2026 - 07:14 WIB

Mengamankan jalur energi regional. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan PM Malaysia Anwar Ibrahim memperkuat kemitraan maritim serta jaminan pasokan LNG di tengah krisis Timur Tengah. (David Mareuil/Pool Photo via AP)

INTERNASIONAL

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Jun 2026 - 06:12 WIB