Batik: Antara Filosofi Sakral dan Sekadar Seragam Kantor

Rabu, 17 Desember 2025 - 07:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih dari sekadar kain, batik adalah doa. Namun, industri massal dan batik printing mengancam matinya jiwa di balik motif sakral ini. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lebih dari sekadar kain, batik adalah doa. Namun, industri massal dan batik printing mengancam matinya jiwa di balik motif sakral ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia internasional menundukkan kepala hormat pada keindahan wastra Nusantara. UNESCO resmi menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Takbenda pada 2009. Seketika, rasa bangga membuncah di dada setiap warga negara.

Namun, ironi besar terjadi di tanah kelahirannya sendiri. Batik kini hadir di mana-mana, mulai dari pasar tradisional hingga lobi hotel berbintang.

Sayangnya, popularitas masif ini membawa dampak samping. Batik mengalami pergeseran makna yang drastis. Dulu, ia adalah benda seni bernilai spiritual tinggi. Kini, ia sering kali berakhir hanya sebagai seragam kantor wajib yang kita pakai setiap hari Jumat tanpa rasa hormat.

Doa yang Hilang dalam Motif

Nenek moyang kita menciptakan batik bukan sekadar untuk menutup tubuh. Mereka menorehkan doa dan harapan dalam setiap goresan canting. Contohnya, motif “Sido Mukti”. Orang tua memakaikan kain ini pada pengantin dengan harapan agar mereka hidup mukti atau bahagia dan sejahtera.

Begitu pula dengan motif “Parang”. Pada masa lalu, motif ini sangat sakral. Hanya raja dan ksatria yang boleh memakainya. Garis miring yang menyerupai ombak melambangkan semangat yang tak pernah padam dan ketajaman pikiran.

Baca Juga :  Dari Beijing ke Milan: Estafet Semangat dan Inovasi Olimpiade

Faktanya, kita sering melihat penggunaan yang salah kaprah saat ini. Orang memakai motif Parang ke acara pemakaman. Padahal, hal itu tabu secara adat karena Parang melambangkan pertarungan atau semangat menyala, bukan kedukaan. Kita memakai simbol tanpa memahami konteks filosofisnya.

Ancaman “Batik” Palsu

Tantangan terbesar bagi kelestarian batik sejati datang dari mesin pabrik. Pasar kita kebanjiran produk tekstil bermotif batik atau batik printing.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara teknis, benda ini bukanlah batik. Batik harus menggunakan malam (lilin panas) sebagai perintang warna. Sebaliknya, kain printing hanyalah kain biasa yang dicetak mesin dengan gambar motif batik.

Akibatnya, harga kain printing jauh lebih murah. Konsumen yang kurang paham lebih memilih membeli produk pabrikan ini. Lantas, pengrajin batik tulis dan cap tradisional menjerit. Mereka kalah bersaing secara harga dan perlahan gulung tikar.

Baca Juga :  Otak Lebih Tajam dan Tunda Pikun: Inilah Keajaiban Menjadi Bilingual Menurut Sains

Krisis Generasi Pembatik

Dampak ekonomi ini merembet pada masalah regenerasi. Sentra-sentra batik di Pekalongan, Solo, atau Cirebon mulai sepi dari anak muda.

Generasi Z enggan meneruskan profesi orang tua mereka sebagai pembatik. Alasannya sangat pragmatis. Membatik membutuhkan ketelatenan tinggi, memakan waktu lama, namun penghasilannya tidak menentu.

Mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau merantau ke kota besar. Oleh karena itu, ilmu membatik yang rumit terancam putus di tengah jalan. Kita mungkin masih memiliki kainnya, tetapi kita kehilangan maestronya.

Mengembalikan “Roh” Batik

Pada akhirnya, kita menghadapi tugas berat. Memakai batik saja tidak cukup. Kita harus mulai mengedukasi diri tentang nilai di baliknya.

Hargailah proses rumit di balik selembar kain batik tulis. Maka, jangan samakan karya seni tangan dengan cetakan mesin. Ingatlah, batik sejati bukan sekadar kain bermotif indah. Ia adalah medium doa, sejarah, dan “roh” budaya yang harus kita jaga kemurniannya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku
Imigrasi Soetta Gagalkan 23 Calon Haji Nonprosedural ke Jeddah, Total 42 Orang Dicegah
Trump Sebut Angkatan Laut AS Bertindak Seperti Bajak Laut
Cuaca Jabodetabek Minggu 3 Mei 2026, Hujan Lebat Guyur Sejumlah Wilayah

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:54 WIB

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:24 WIB

Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:11 WIB

Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terbaru

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Ketegangan di jantung Eropa. Pentagon resmi mengumumkan penarikan sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman sebagai balasan atas kritik keras Kanselir Friedrich Merz terhadap kepemimpinan Donald Trump dalam perang Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:54 WIB