JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia internasional menundukkan kepala hormat pada keindahan wastra Nusantara. UNESCO resmi menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Takbenda pada 2009. Seketika, rasa bangga membuncah di dada setiap warga negara.
Namun, ironi besar terjadi di tanah kelahirannya sendiri. Batik kini hadir di mana-mana, mulai dari pasar tradisional hingga lobi hotel berbintang.
Sayangnya, popularitas masif ini membawa dampak samping. Batik mengalami pergeseran makna yang drastis. Dulu, ia adalah benda seni bernilai spiritual tinggi. Kini, ia sering kali berakhir hanya sebagai seragam kantor wajib yang kita pakai setiap hari Jumat tanpa rasa hormat.
Doa yang Hilang dalam Motif
Nenek moyang kita menciptakan batik bukan sekadar untuk menutup tubuh. Mereka menorehkan doa dan harapan dalam setiap goresan canting. Contohnya, motif “Sido Mukti”. Orang tua memakaikan kain ini pada pengantin dengan harapan agar mereka hidup mukti atau bahagia dan sejahtera.
Begitu pula dengan motif “Parang”. Pada masa lalu, motif ini sangat sakral. Hanya raja dan ksatria yang boleh memakainya. Garis miring yang menyerupai ombak melambangkan semangat yang tak pernah padam dan ketajaman pikiran.
Faktanya, kita sering melihat penggunaan yang salah kaprah saat ini. Orang memakai motif Parang ke acara pemakaman. Padahal, hal itu tabu secara adat karena Parang melambangkan pertarungan atau semangat menyala, bukan kedukaan. Kita memakai simbol tanpa memahami konteks filosofisnya.
Ancaman “Batik” Palsu
Tantangan terbesar bagi kelestarian batik sejati datang dari mesin pabrik. Pasar kita kebanjiran produk tekstil bermotif batik atau batik printing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara teknis, benda ini bukanlah batik. Batik harus menggunakan malam (lilin panas) sebagai perintang warna. Sebaliknya, kain printing hanyalah kain biasa yang dicetak mesin dengan gambar motif batik.
Akibatnya, harga kain printing jauh lebih murah. Konsumen yang kurang paham lebih memilih membeli produk pabrikan ini. Lantas, pengrajin batik tulis dan cap tradisional menjerit. Mereka kalah bersaing secara harga dan perlahan gulung tikar.
Krisis Generasi Pembatik
Dampak ekonomi ini merembet pada masalah regenerasi. Sentra-sentra batik di Pekalongan, Solo, atau Cirebon mulai sepi dari anak muda.
Generasi Z enggan meneruskan profesi orang tua mereka sebagai pembatik. Alasannya sangat pragmatis. Membatik membutuhkan ketelatenan tinggi, memakan waktu lama, namun penghasilannya tidak menentu.
Mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau merantau ke kota besar. Oleh karena itu, ilmu membatik yang rumit terancam putus di tengah jalan. Kita mungkin masih memiliki kainnya, tetapi kita kehilangan maestronya.
Mengembalikan “Roh” Batik
Pada akhirnya, kita menghadapi tugas berat. Memakai batik saja tidak cukup. Kita harus mulai mengedukasi diri tentang nilai di baliknya.
Hargailah proses rumit di balik selembar kain batik tulis. Maka, jangan samakan karya seni tangan dengan cetakan mesin. Ingatlah, batik sejati bukan sekadar kain bermotif indah. Ia adalah medium doa, sejarah, dan “roh” budaya yang harus kita jaga kemurniannya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















