Beli Steak dengan Kredit 25 Tahun? Satir Menohok

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Puasa tetap produktif. Kunci stamina selama bulan Ramadan terletak pada pilihan menu sahur yang tepat, fokus pada karbohidrat kompleks, protein tinggi, dan hidrasi yang terjaga. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Puasa tetap produktif. Kunci stamina selama bulan Ramadan terletak pada pilihan menu sahur yang tepat, fokus pada karbohidrat kompleks, protein tinggi, dan hidrasi yang terjaga. Dok: Istimewa.

LUANDA, POSNEWS.CO.ID – Urbanisasi yang pesat telah mengubah wajah demografi dunia; kini lebih banyak orang tinggal di kota daripada di pedesaan, dan angka ini terus merangkak naik. Namun, kenyamanan kota datang dengan harga mahal.

Tahun ini Tokyo mungkin memegang rekor biaya hidup tertinggi, tahun depan giliran Moskow. Pada 2014, Luanda, ibu kota Angola, menyabet gelar meragukan tersebut. Bagi warga lokal, harga real estat menembus atap, dan harga makanan menjadi tidak masuk akal—mangga lokal saja bisa seharga $5 per kilo.

Apa yang bisa dilakukan warga kota untuk meringankan beban ini? Diet? Bertani di balkon apartemen? Atau mengemis subsidi? Beberapa ekonom mengajukan proposal radikal: membeli “kontrak arus pangan” (food stream contracts) abadi.

Hipotek untuk Sepotong Daging

Konsepnya sederhana namun absurd. Bayangkan Anda membeli hak untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi setiap minggu seumur hidup, mulai hari ini hingga Anda meninggal. Pada dasarnya, ini mirip dengan pembelian rumah—jaminan keamanan tak terbatas atas satu komoditas.

Seperti halnya membeli rumah, Anda mungkin memerlukan pinjaman dari lembaga keuangan untuk kontrak daging sapi ini, bahkan jika itu hanya untuk daging biasa, bukan Wagyu Jepang. Kontrak ini juga bisa diperjualbelikan dengan harga pasar saat ini jika pemiliknya pindah ke luar jangkauan pengiriman atau tiba-tiba memutuskan menjadi vegetarian.

Demi menjaga nilai investasi mereka, para pemilik kontrak kemungkinan besar akan mendukung kebijakan nasional dan internasional yang membatasi produksi pangan. Ini terdengar seperti ide yang “cerdas” di dunia di mana 40% makanan terbuang sia-sia, bukan?

Baca Juga :  27 Kecelakaan Akibat Jalan Berlubang, Bekasi Dominasi Korban Awal 2026

Spekulan Vegetarian dan Kebangkrutan

Mari berimajinasi lebih jauh dalam sistem ini. Seorang konsumen membeli kontrak daging sapi bertenor 25 tahun, yang seiring waktu nilainya berlipat ganda. Tentu saja, saat menjualnya, pemilik akan meraup untung besar. Sebaliknya, jika wabah penyakit sapi gila meletus dan tidak ada yang berani makan daging, penjual akan menderita. Jika seseorang membeli sepuluh kontrak daging sapi sebagai investasi, ia bisa bangkrut dalam skenario ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bayangkan juga orang-orang membeli kontrak untuk barang yang tidak berniat mereka konsumsi. Kaum sadar kesehatan mungkin membeli kontrak lemak jenuh, namun menghindarinya. Vegetarian yang cerdik namun amoral mungkin berspekulasi di pasar daging sapi, sama seperti mereka membeli saham di perusahaan agribisnis multinasional atau menabung di bank yang memutar uang di sektor tersebut.

Perilaku spekulatif ini sangat mungkin memicu pemanasan pasar arus pangan (overheating). Negara mungkin mencoba mendinginkan suasana atau justru membiarkannya. Pemerintah yang mengusulkan pajak capital gains pada kontrak pangan mungkin akan digulingkan demi pemimpin yang percaya pada pasar bebas (laissez-faire).

Lagi pula, kontrak investasi ini bisa menjadi cara untuk merealisasikan kekayaan saat opsi lain terbatas, terutama di negara berkembang seperti Angola di mana pasar saham bergejolak. Spekulasi pangan bisa menjadi hak istimewa kelas menengah, yang bahkan dinikmati oleh para pembuat undang-undang itu sendiri.

Baca Juga :  Pegawai Ditjen Pajak Korban Eksibisionis di Benhil, Pelaku Ojek 62 Tahun Ditangkap

Realitas Pahit di Balik Satir

Semoga Anda menyadari bahwa esai ini adalah sebuah satir. Namun, pasar arus pangan yang fantastis ini sangat mirip dengan pasar perumahan global. Kepemilikan rumah dan spekulasi properti telah menjadi hak istimewa segelintir orang dengan biaya besar bagi banyak orang, yang tidak bisa berpartisipasi atau harus “menandatangani” hidup mereka kepada bank.

Banyak orang menganggap rumah lebih nyata daripada sepotong steak, dan identitas mereka terikat dengan gagasan kuat tentang hak milik dan kemandirian. Namun, logika ini sering kali mengabaikan dampak ekonominya.

Meskipun kepemilikan rumah menawarkan keamanan dan kebebasan berkreasi, ada argumen kuat untuk lebih memilih menyewa daripada membeli. Tujuannya? Menurunkan harga properti dan mendorong investasi di sektor ekonomi lain.

Ekonom Moretti dan Chang-Tai Hsieh dari Universitas Chicago memperkirakan bahwa output AS antara 1999 dan 2009 sebenarnya 13% lebih rendah dari potensi maksimalnya. Penyebabnya adalah tingginya biaya perumahan yang memaksa banyak orang pindah atau tidak bisa bekerja di pusat produktivitas. Pendapatan yang terkunci dalam semen dan batu bata seharusnya bisa dibelanjakan untuk bisnis lokal, seperti restoran atau pusat kebugaran, yang pada gilirannya akan menciptakan lapangan kerja.

Jadi, saat Anda memanggang steak di akhir pekan nanti, renungkanlah: haruskah kita memperlakukan makanan seperti kita memperlakukan perumahan, atau sebaliknya, memperlakukan perumahan seperti kita memperlakukan makanan?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto
Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional
Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut
Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional
Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz
Gubernur Jakarta Minta Warga Tak Iming-imingi Kerabat Datang ke Ibu Kota
Napi Kabur Lapas Wamena Ditangkap di Yahukimo, Terafiliasi KKB dan Pembunuh Polisi

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:03 WIB

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:53 WIB

Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:40 WIB

Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:35 WIB

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:37 WIB

Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional

Berita Terbaru

Menyeimbangkan energi dan konstitusi. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat serta negara-negara Teluk guna menjamin keselamatan navigasi tanpa melanggar prinsip pasifisme Jepang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Mar 2026 - 14:35 WIB