Bule Amerika Dideportasi Imigrasi Ngurah Rai, Gelar Kelas Seksualitas di Seminyak Bali

Sabtu, 20 September 2025 - 07:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Imigrasi Kelas I Khusus Ngirah Rai. Dok-Istimewa

Imigrasi Kelas I Khusus Ngirah Rai. Dok-Istimewa

BALI, POSNEWS.CO.ID Imigrasi Ngurah Rai mendeportasi bule asal Amerika Serikat berinisial JRG (44). Petugas menindak tegas karena wanita itu menyalahgunakan izin tinggal dengan membuka kelas retreat seksualitas di Seminyak, Bali.

Kepala Imigrasi Ngurah Rai, Winarko, menuturkan kasus ini terbongkar setelah warga melapor soal kegiatan mencurigakan di Seminyak. Untuk menindaklanjuti laporan itu, Tim Inteldakim bergerak cepat dengan turun ke lapangan dan melakukan pemantauan siber.

Dari hasil pengawasan, petugas menemukan bukti JRG menggelar kelas Intimacy Mastery Retreat pada 4–8 September 2025 di sebuah vila di Seminyak.

Baca Juga :  Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Melayat Keluarga Pengemudi Ojol Korban Unjuk Rasa

Kelas itu berbayar, berisi praktik hubungan intim, kedekatan emosional, sampai aktivitas seksual dengan alat bantu. Pesertanya campuran, datang dari berbagai negara,” kata Winarko, Jumat (19/9/2025).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak berhenti sampai di situ, petugas kembali bertindak. Mereka menangkap JRG pada 16 September 2025 di Bandara Ngurah Rai saat hendak terbang ke Jakarta. Padahal, JRG hanya memegang Visa on Arrival (VoA) yang berlaku sampai 4 Oktober 2025.

Dia jelas melanggar izin tinggal dengan mengadakan kegiatan komersial yang tak sesuai dengan visa,” tegas Winarko.

Baca Juga :  Trik Ban Kempes Beraksi di KH Mas Mansyur, Pencuri Kabur Bawa Uang Rp24 Juta

Atas pelanggaran itu, Imigrasi menjatuhkan sanksi administratif berupa deportasi dan penangkalan sesuai Pasal 75 ayat (1) UU Keimigrasian

Imigrasi Ngurah Rai mendeportasi JRG pada 18 September 2025 pukul 16.30 WITA menggunakan maskapai EVA Air rute DenpasarTaipe–Los Angeles.

Sebagai penutup, Winarko memastikan pengawasan WNA di Bali akan semakin diperketat. “Semua orang asing wajib taat aturan. Siapa pun yang coba-coba melanggar, pasti kami tindak tegas,” tandasnya.  (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan
Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton
Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global
Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig
Membedah Ekofeminisme dan Krisis Ekologi Global
Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:00 WIB

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB

Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:30 WIB

Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Berita Terbaru

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Mar 2026 - 19:30 WIB

Ilustrasi, Modernisasi vs Tradisi. Kyoto mengkaji rencana pelonggaran batas tinggi bangunan dari 31 meter menjadi 60 meter guna menarik investasi, memicu perdebatan mengenai identitas visual ibu kota kuno Jepang tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Minggu, 29 Mar 2026 - 18:00 WIB

Membongkar narasi perang. Perspektif Keamanan Kritis mengungkap bagaimana konstruksi maskulinitas militeristik mendominasi kebijakan luar negeri dan sering kali mengabaikan kerentanan nyata perempuan di wilayah konflik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Minggu, 29 Mar 2026 - 17:30 WIB