MADRID, POSNEWS.CO.ID – Santiago Bernabeu kembali menyajikan drama sepak bola kelas wahid. Namun, kali ini akhir cerita terasa pahit bagi tuan rumah. Real Madrid harus mengakui keunggulan Manchester City dengan skor tipis 1-2, Rabu malam.
Kekalahan ini menempatkan manajer Real Madrid, Xabi Alonso, dalam situasi kritis. Pasalnya, ia baru memenangkan dua dari delapan pertandingan terakhir. Istilah “mayat hidup yang berjalan” (dead man walking) kini mulai menghantui kariernya di ibu kota Spanyol.
Sebaliknya, Pep Guardiola tersenyum lebar. Kemenangan ini menjadi respons manis usai kekalahan mengejutkan dari Bayer Leverkusen sebelumnya.
Awal Menjanjikan yang Semu
Madrid sebenarnya memulai laga dengan percaya diri. Vinicius Junior dan Jude Bellingham tampil cair mengacak-acak pertahanan City. Bahkan, Vinicius nyaris mendapatkan penalti di menit awal. Sayangnya, VAR membatalkan keputusan wasit karena pelanggaran terjadi sedikit di luar kotak penalti.
Gol yang dinanti publik tuan rumah akhirnya tiba. Rodrygo sukses merobek jala Gianluigi Donnarumma lewat penyelesaian akhir yang tajam. Seketika, Bernabeu bergemuruh menyambut keunggulan 1-0.
Alonso tampak lega di pinggir lapangan. Timnya terlihat solid dan berbahaya. Akan tetapi, dominasi itu ternyata rapuh dan tidak bertahan lama.
O’Reilly dan Haaland Bungkam Bernabeu
Babak kedua menjadi milik tim tamu. City perlahan mengambil alih kendali permainan. Lantas, petaka bagi Madrid bermula dari sepak pojok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kiper Thibaut Courtois hanya bisa menepis bola liar ke arah Nico O’Reilly. Pemain muda City itu tidak menyia-nyiakan peluang dan mencetak gol pertamanya di Liga Champions. Skor berubah imbang 1-1.
Momentum berbalik total. Selanjutnya, Antonio Rudiger melakukan kesalahan fatal. Ia panik dan menjatuhkan Erling Haaland di kotak terlarang.
Wasit Clement Turpin menunjuk titik putih setelah meninjau VAR. Haaland maju sebagai eksekutor dan menjalankan tugasnya dengan dingin. Akhirnya, City berbalik unggul 2-1.
Tiang Gawang Penentu Nasib
Madrid mencoba bangkit di sisa waktu. Alonso melakukan perjudian terakhir dengan memasukkan Endrick. Nyaris saja, strategi itu berhasil.
Tandukan Endrick di menit akhir sudah menaklukkan kiper, namun bola justru menghantam mistar gawang. Seketika, peluit panjang berbunyi.
Kekecewaan terpancar jelas di wajah para pemain Madrid. Siulan cemooh dari fans tuan rumah menggema keras. Kini, masa depan Xabi Alonso benar-benar berada di ujung tanduk. Waktu tampaknya tidak lagi berpihak pada pelatih muda tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















