Deindustrialisasi Dini: Mengapa Pabrik Tekstil Bertumbangan di Negeri Sendiri?

Rabu, 26 November 2025 - 05:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pabrik legendaris tutup, ribuan buruh kena PHK. Badai deindustrialisasi dini sedang menghantam sektor tekstil kita. Simak penyebab dan bahayanya bagi ekonomi. Dok: Ilustrasi.

Pabrik legendaris tutup, ribuan buruh kena PHK. Badai deindustrialisasi dini sedang menghantam sektor tekstil kita. Simak penyebab dan bahayanya bagi ekonomi. Dok: Ilustrasi.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kabar buruk datang silih berganti dari kawasan industri dalam beberapa bulan terakhir. Pabrik-pabrik tekstil dan alas kaki legendaris yang telah beroperasi puluhan tahun tiba-tiba gulung tikar.

Ribuan buruh harus menelan pil pahit Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Seketika, mesin-mesin jahit yang dulu berisik kini membisu. Fenomena ini bukan sekadar siklus bisnis biasa.

Para ekonom menyebut kondisi ini sebagai “deindustrialisasi dini”. Artinya, peran sektor manufaktur menyusut sebelum negara mencapai tingkat pendapatan tinggi yang matang. Kita sedang menyaksikan rontoknya tulang punggung ekonomi kerakyatan secara perlahan.

Serangan Produk Impor dan Lesunya Ekspor

Penyebab eksternal memegang peran besar dalam kejatuhan ini. Pertama, pasar domestik kita kebanjiran produk impor murah, terutama dari China.

Praktik predatory pricing atau jual rugi membuat produk lokal kalah bersaing. Bayangkan, baju impor dijual dengan harga di bawah biaya produksi kain lokal. Tentu saja, konsumen lebih memilih barang yang murah meriah.

Baca Juga :  Guru PPPK Ditemukan Tewas Tangan-Kaki Terikat, Polisi Ringkus Tetangga Sendiri

Kedua, permintaan pasar global sedang melemah. Negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat dan Eropa tengah mengalami perlambatan ekonomi. Akibatnya, pesanan garmen dari luar negeri anjlok drastis.

Mesin Tua dan Kebijakan Plin-plan

Namun, kita tidak bisa menyalahkan faktor luar sepenuhnya. Masalah internal juga menjadi benalu yang menggerogoti industri ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Biaya produksi di dalam negeri terus merangkak naik. Tarif listrik dan logistik yang mahal membuat efisiensi sulit tercapai. Selain itu, banyak pabrik masih menggunakan mesin-mesin tua yang boros energi dan lambat.

Parahnya lagi, kebijakan pemerintah sering kali tidak konsisten. Aturan impor bahan baku dan barang jadi kerap berubah-ubah. Oleh karena itu, pengusaha kesulitan membuat rencana bisnis jangka panjang karena ketidakpastian regulasi.

Migrasi ke Sektor Informal

Dampak struktural dari fenomena ini sangat mengkhawatirkan. Lantas, ke mana perginya ribuan buruh yang kehilangan pekerjaan tersebut?

Baca Juga :  Ribuan WNI Dijebak Penipuan Online, Ada yang Jadi Scammer Sadis di Luar Negeri

Mereka tidak berpindah ke pabrik lain yang lebih canggih. Sebaliknya, mereka terlempar ke sektor informal. Banyak dari mereka beralih profesi menjadi pengemudi ojek online (ojol) atau pedagang kaki lima.

Pergeseran ini sepintas terlihat sebagai solusi. Padahal, sektor informal sangat rentan. Pekerja tidak memiliki jaminan sosial, jenjang karier, atau kepastian pendapatan. Kualitas hidup tenaga kerja kita mengalami penurunan kualitas secara massal.

Bahaya Menjadi Negara Konsumen

Pada akhirnya, deindustrialisasi dini adalah sinyal bahaya bagi masa depan bangsa. Jika tren ini berlanjut, Indonesia gagal menjadi negara maju.

Kita akan terjebak menjadi negara konsumen semata tanpa memiliki basis produksi yang kuat. Kita hanya akan menjadi pasar bagi produk negara lain.

Maka, penyelamatan industri padat karya harus menjadi prioritas nasional. Pemerintah perlu turun tangan melindungi pasar domestik dan memberikan insentif peremajaan mesin. Jangan biarkan pabrik-pabrik kita mati dan menyisakan pengangguran di mana-mana.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto
Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional
Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut
Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional
Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz
Gubernur Jakarta Minta Warga Tak Iming-imingi Kerabat Datang ke Ibu Kota
Napi Kabur Lapas Wamena Ditangkap di Yahukimo, Terafiliasi KKB dan Pembunuh Polisi

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:03 WIB

Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:53 WIB

Target Berikutnya: Trump Beri Sinyal Ambil Alih Kuba di Tengah Kolapsnya Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:40 WIB

Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:35 WIB

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:37 WIB

Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional

Berita Terbaru

Menyeimbangkan energi dan konstitusi. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat serta negara-negara Teluk guna menjamin keselamatan navigasi tanpa melanggar prinsip pasifisme Jepang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Mar 2026 - 14:35 WIB