WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Langkah sepihak Amerika Serikat yang menyerang Venezuela dan menangkap paksa Presiden Nicolás Maduro terus memantik api kemarahan global. Tak hanya di Caracas dan Washington, protes kini meletus di depan kedutaan besar AS di berbagai negara, mulai dari Sri Lanka, Jepang, hingga Indonesia.
Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) segera merespons dengan menggelar pertemuan darurat pada Selasa. Dalam forum tersebut, negara-negara kunci seperti Brazil, Meksiko, dan Kolombia secara tegas mengutuk aksi militer AS.
Perwakilan Meksiko, Alejandro Encinas Rodriguez, mengingatkan peserta rapat akan sejarah kelam kawasan tersebut. “Intervensi tidak pernah membawa stabilitas atau kesejahteraan yang langgeng,” tegasnya. Ia menekankan bahwa hanya rakyat sendirilah yang berhak menentukan masa depan dan mengelola sumber daya alam mereka.
“Serangan Terhadap Kita Semua”
Sekretaris Jenderal OAS, Albert Ramdin, mengambil sikap keras dengan merujuk pada piagam organisasi. Ia menegaskan bahwa setiap agresi terhadap satu negara di benua Amerika adalah agresi terhadap semua negara lainnya.
“Ini bukan saran, tapi kewajiban dan tanggung jawab moral,” ujar Ramdin. Ia menyerukan agar belahan bumi ini bertindak secara kolektif untuk kembali ke norma dan prinsip yang diterima, sebagaimana preseden sejarah yang pernah terjadi.
GNB: Ini Adalah Tindakan Perang
Kecaman juga datang dari Gerakan Non-Blok (GNB). Melalui rilis pemerintah Uganda, GNB melabeli serangan AS sebagai “tindakan perang” yang merusak perdamaian internasional. Kelompok ini menuntut penghentian segera segala permusuhan dan penghormatan penuh terhadap kedaulatan Venezuela.
Senada dengan itu, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menggunakan momen peringatan tahunan Joe Slovo di Johannesburg untuk menyuarakan penolakannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami menolak mentah-mentah tindakan yang telah Amerika Serikat lakukan,” seru Ramaphosa. Ia menuntut pembebasan segera Presiden Maduro beserta istrinya dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bertindak tegas menegakkan hukum internasional.
Rusia dan Pesan Mengerikan untuk Sekutu
Kementerian Luar Negeri Rusia turut mengeluarkan pernyataan yang mendesak de-eskalasi dan penyelesaian masalah melalui dialog konstruktif. Moskow menegaskan bahwa Amerika Latin dan Karibia harus tetap menjadi zona damai di mana pembangunan berdaulat terjamin.
Sementara itu, Iro Sarkka, peneliti senior di Institut Urusan Internasional Finlandia, memberikan analisis yang menohok kepada harian Helsingin Sanomat. Menurutnya, serangan AS ini ilegal menurut hukum internasional, namun tidak mengejutkan.
Sarkka menilai tindakan ini konsisten dengan strategi keamanan AS yang sering kali mengklaim menghormati kedaulatan, namun memperlakukan dirinya sendiri sebagai pengecualian demi kepentingan global.
“Ini adalah pesan yang mengerikan (chilling message) bagi Finlandia dan semua sekutu utama Amerika Serikat,” pungkasnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















