JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sabun menjadi kebutuhan pokok yang hampir setiap orang gunakan setiap hari. Mulai dari mencuci tangan, mencuci pakaian, hingga membersihkan lantai, sabun membantu melarutkan partikel kotoran yang biasanya tidak bisa larut dalam air.
Secara teknis, sabun adalah senyawa ionik yang berasal dari asam lemak. Meskipun detergen sintetik memiliki cara pembuatan yang berbeda, keduanya beroperasi dengan cara yang serupa untuk mengangkat kotoran. Sejak abad ke-17, manfaat sabun mulai menarik perhatian luas masyarakat Eropa, dan sejak saat itu, tradisi menjaga higiene pribadi terus mengalami pertumbuhan pesat.
Jejak Sejarah: Dari Babilonia hingga Legenda Romawi
Bukti konkret pertama mengenai zat mirip sabun berasal dari sekitar tahun 2800 SM. Bangsa Babilonia, Mesopotamia, Mesir, serta Yunani dan Romawi kuno merupakan para pembuat sabun pertama. Masyarakat kuno memproduksi sabun dengan mencampurkan lemak, minyak, dan garam. Menariknya, pada masa itu, mereka tidak menggunakan sabun untuk mandi, melainkan untuk membersihkan peralatan masak atau keperluan medis.
Terdapat legenda Romawi yang menyebutkan bahwa sabun alami pertama kali ditemukan di dekat Gunung ‘Sapo’. Konon, air hujan membasuh lemak hewan kurban dan abu kayu ke Sungai Tiber, sehingga memudahkan para wanita mencuci pakaian di sana. Namun, para sejarawan menilai cerita ini hanyalah mitos karena tidak ada catatan geografis mengenai tempat tersebut.
Revolusi Produksi dan Kimia Saponifikasi
Hingga masa Perang Dunia II, produsen menggunakan metode perebusan ketel untuk membuat sabun dalam jumlah besar. Namun, industri saat ini lebih memilih proses berkelanjutan karena faktor fleksibilitas, kecepatan, dan ekonomi. Proses manufaktur modern dimulai dengan memanaskan bahan baku untuk menghilangkan kotoran.
Tahap selanjutnya adalah saponifikasi. Produsen menambahkan alkali kuat ke bahan baku yang telah dipanaskan. Proses ini melepaskan asam lemak yang menjadi dasar sabun, serta menghasilkan produk sampingan berharga berupa gliserin. Industri kemudian menyuling gliserin tersebut untuk digunakan dalam makanan, kosmetik, hingga obat-obatan. Setelah melalui tahap pengeringan semprot vakum, pelet sabun kering masuk ke jalur penyelesaian untuk dicampur dengan wewangian dan warna sebelum akhirnya dicetak menjadi batangan.
Era Modern: Sabun Cair dan Gel Mandi
Sejarah sabun cair dan gel sebenarnya baru dimulai pada pertengahan abad ke-18. William Shepphard mematenkan sabun cair pada tahun 1865, tetapi popularitas produk ini baru meledak setelah kemunculan sabun Palmolive pada tahun 1898. Kemajuan kimia modern kemudian memungkinkan terciptanya shower gel atau gel mandi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perbedaan utama antara sabun cair dan gel mandi terletak pada kandungan minyaknya. Gel mandi tidak mengandung minyak yang tersaponifikasi, melainkan berbasis petroleum. Keunggulannya, gel ini tidak meninggalkan residu pada kulit atau bak mandi dan memiliki pH yang lebih seimbang sehingga tidak menyebabkan iritasi. Bahkan, banyak produsen kini menambahkan pelembap atau mentol untuk memberikan sensasi kesegaran ekstra bagi penggunanya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















