JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jutaan warga Indonesia kini menyandang status baru yang menyedihkan. Mereka adalah “Mantan Kelas Menengah”. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren penurunan jumlah kelas menengah yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Banyak dari mereka “turun kasta” menjadi kelompok “menuju kelas menengah” (aspiring middle class). Bahkan, sebagian lainnya terperosok ke jurang rentan miskin.
Mereka masih terlihat rapi saat pergi ke kantor. Namun, dompet mereka sebenarnya menjerit. Fenomena ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin nyata dari kesulitan ekonomi yang mencekik leher rakyat.
Fenomena “Makan Tabungan”
Indikator paling nyata dari krisis ini adalah fenomena “Makan Tabungan” atau mantab. Istilah ini menggambarkan kondisi keuangan di mana pengeluaran bulanan lebih besar daripada pendapatan.
Akibatnya, masyarakat terpaksa mengambil sisa tabungan mereka untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Faktanya, data survei konsumen Bank Indonesia kerap menunjukkan penurunan porsi tabungan pada kelompok pengeluaran menengah.
Mereka tidak lagi menabung untuk rumah atau dana pensiun. Sebaliknya, mereka mencairkan aset hanya untuk membeli beras, membayar listrik, atau biaya sekolah anak. Lantas, ketahanan finansial keluarga pun menjadi sangat rapuh.
Gaji Stagnan Dihajar Inflasi
Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah ketimpangan antara kenaikan gaji dan laju inflasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Upah minimum dan gaji karyawan cenderung bergerak lambat atau stagnan. Sementara itu, harga kebutuhan pokok terus melesat naik tanpa ampun. Harga beras, telur, hingga biaya energi terus meroket.
Parahnya lagi, kebijakan fiskal pemerintah terkadang justru menambah beban. Rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% pada tahun mendatang menjadi mimpi buruk baru. Kebijakan ini akan langsung memukul daya beli masyarakat.
Ancaman Bagi Ekonomi Nasional
Fenomena turun kasta massal ini bukan hanya masalah pribadi perorangan. Justru, ini adalah ancaman serius bagi makroekonomi nasional.
Kita harus ingat satu hal penting. Konsumsi rumah tangga adalah mesin utama penopang Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Jika kelas menengah berhenti belanja dan sibuk berhemat, roda ekonomi akan melambat.
Sektor ritel, properti, hingga otomotif akan merasakan dampak pukulan terberat. Imbasnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa terjadi di mana-mana karena permintaan pasar lesu.
Perlunya Jaring Pengaman Luas
Pada akhirnya, pemerintah harus membuka mata lebar-lebar. Fokus bantuan sosial selama ini hanya menyasar kelompok miskin ekstrem.
Padahal, kelas menengah adalah kelompok yang paling rentan saat ini. Mereka terlalu kaya untuk menerima Bansos, tetapi terlalu miskin untuk bertahan menghadapi guncangan ekonomi.
Oleh karena itu, perluasan jaring pengaman sosial menjadi sangat mendesak. Pemerintah wajib menjaga daya beli kelas menengah agar mereka tidak jatuh miskin. Menyelamatkan kelas menengah berarti menyelamatkan pondasi ekonomi Indonesia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















