TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata secara sepihak pada hari Selasa. Hal ini terjadi setelah militer AS menyerang beberapa target di Provinsi Hormozgan dekat Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan udara tersebut sebagai pelanggaran sangat serius. Sebaliknya, pihak Washington menegaskan bahwa serangan mereka murni bersifat defensif untuk melindungi jalur pelayaran internasional.
Dampak Serangan terhadap Harga Minyak Dunia
Militer AS mengeklaim serangan tersebut menargetkan situs rudal dan kapal peletak ranjau milik Iran. Namun, Iran membantah keras tuduhan tersebut dan mengancam akan melakukan aksi pembalasan yang setimpal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Garda Revolusi Iran bahkan mengeklaim telah menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak (drone) milik AS. Akibat ketegangan baru ini, harga minyak mentah jenis Brent langsung melonjak sebesar 3,5 persen. Dengan demikian, harga minyak kini bertengger pada level USD 100 per barel di pasar global.
Perang ini telah mengganggu jalur pasokan energi dunia secara drastis sejak Februari 2026. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global.
Negosiasi Dana USD 24 Miliar yang Membeku
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa negosiasi damai masih tetap berjalan di India. Akan tetapi, ia memperkirakan proses kesepakatan awal ini membutuhkan waktu beberapa hari lagi.
Di sisi lain, negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, telah kembali dari pertemuan di Qatar. Oleh karena itu, ia kini fokus mendesak pencairan aset keuangan Iran yang membeku.
Aset Iran sebesar USD 24 miliar tersebut kini menjadi ganjalan utama dalam proses perundingan. Sebab, pihak Tehran menuntut pencairan dana tersebut sebagai syarat mutlak sebelum menandatangani kesepakatan damai.
Kerangka Kerja 30 Hari dan Konflik Regional
Rancangan kesepakatan awal ini akan mengatur penghentian pertempuran secara menyeluruh di semua lini. Selanjutnya, kesepakatan tersebut akan membuka kembali lalu lintas Selat Hormuz secara bertahap selama 30 hari.
Namun, konflik regional di Lebanon masih terus membara antara Israel dan kelompok Hezbollah. Oleh sebab itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan komitmennya untuk terus memperluas operasi militer darat.
Presiden AS Donald Trump juga terus memanfaatkan momentum krisis ini untuk menekan negara Arab. Sebagai contoh, ia mendesak Arab Saudi segera bergabung ke dalam kesepakatan normalisasi Abraham Accords.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












