JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jika dunia pernah mengenal ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, maka Timur Tengah memiliki versinya sendiri. Selama lebih dari 45 tahun, Arab Saudi dan Iran terjebak dalam persaingan sistemik yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan global.
Para pakar Hubungan Internasional (HI) melabeli fenomena ini sebagai “Perang Dingin Muslim”. Oleh karena itu, memahami dinamika ini sangat krusial guna memetakan masa depan perdamaian di kawasan yang menjadi jantung energi dunia tersebut.
1. Revolusi 1979: Titik Balik Identitas Politik
Sebelum tahun 1979, Arab Saudi dan Iran (di bawah kekuasaan Shah) sebenarnya merupakan mitra strategis Amerika Serikat di bawah kebijakan “Dua Pilar”. Namun demikian, Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 mengubah segalanya secara radikal.
Runtuhnya monarki di Teheran dan bangkitnya Ayatollah Khomeini menciptakan ancaman baru bagi Riyadh. Iran mulai mempromosikan model teokrasi revolusioner yang menentang sistem monarki di kawasan Teluk. Akibatnya, Riyadh memperkuat identitasnya sebagai pelindung dunia Sunni guna membendung pengaruh ideologi Syiah yang mulai Teheran ekspor. Perubahan persepsi ancaman ini menandai dimulainya perlombaan pengaruh yang tak berujung.
2. Perebutan Pengaruh: Axis of Resistance vs Status Quo
Persaingan ini membelah Timur Tengah menjadi dua blok besar yang saling berhadapan. Di satu sisi, Iran membangun apa yang mereka sebut sebagai Axis of Resistance (Poros Perlawanan).
Selanjutnya, melalui jaringan ini, Teheran memperluas pengaruhnya di Irak, Suriah, Lebanon, hingga Yaman. Sebaliknya, Arab Saudi memimpin blok pro-status quo yang didukung oleh sebagian besar negara Teluk dan Barat. Riyadh menggunakan statusnya sebagai “Pelayan Dua Kota Suci” serta kekuatan finansialnya guna memastikan stabilitas kawasan tetap berada dalam orbit kepemimpinannya. Persaingan ini bukan sekadar soal agama, melainkan tentang siapa yang berhak menentukan aturan main di Timur Tengah.
3. Analisis Perang Proksi: Suriah, Yaman, dan Lebanon
Ketidakmampuan kedua negara untuk bertempur secara langsung melahirkan serangkaian konflik berdarah di negara ketiga. Fenomena ini petugas nilai sebagai perwujudan nyata dari Security Dilemma.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa palagan utama persaingan mereka antara lain:
- Suriah: Teheran mengirimkan dukungan militer masif untuk mempertahankan rezim Bashar al-Assad, sementara Riyadh sempat memberikan dukungan bagi kelompok oposisi guna memutus “jembatan darat” Iran menuju Mediterania.
- Yaman: Konflik antara pemerintah yang didukung koalisi Saudi melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran menjadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di abad ini.
- Lebanon: Persaingan politik antara blok pro-Saudi dengan Hezbollah (proksi Iran) sering kali melumpuhkan fungsi pemerintahan di Beirut selama bertahun-tahun.
Pasalnya, setiap kemajuan kecil yang salah satu pihak capai di wilayah ini akan dipersepsikan sebagai ancaman eksistensial bagi pihak lainnya.
4. Mitos atau Fakta: Agama atau Perebutan Kekuasaan?
Muncul perdebatan besar di kalangan analis: apakah konflik ini murni masalah agama atau murni politik? Melalui lensa Realisme, persaingan ini adalah perebutan kekuasaan regional yang murni pragmatis. Agama hanyalah instrumen mobilisasi massa.
Namun, jika kita menggunakan lensa Konstruktivisme, identitas keagamaan berperan sebagai variabel yang menentukan cara negara mendefinisikan kepentingannya. Faktanya, persaingan ini adalah campuran dari keduanya. Meskipun sentimen Sunni-Syiah seringkali petugas eksploitasi oleh para elit politik, tujuan akhirnya tetaplah pengamanan kepentingan ekonomi, kontrol jalur perdagangan minyak, dan pengakuan sebagai hegemon kawasan.
Kesimpulan: Menuju Rekonsiliasi yang Rapuh
Tahun 2026 menandai periode yang sangat dinamis bagi hubungan Riyadh-Teheran. Melalui mediasi Tiongkok dan Oman, kedua pihak mulai menjajaki de-eskalasi yang hati-hati.
Pada akhirnya, stabilitas Timur Tengah tidak bergantung pada kemenangan salah satu pihak, melainkan pada kemampuan mereka untuk berbagi peran dalam tatanan regional yang baru. Tantangan terbesar bagi kedua pemimpin saat ini adalah bagaimana menurunkan suhu ketegangan di lapangan proksi sembari tetap menjaga martabat nasional masing-masing di hadapan konstituen domestik mereka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















