EDINBURGH, POSNEWS.CO.ID – Selama ini, banyak pihak menganggap gagasan bahwa hewan mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit mereka sendiri sebagai fiksi belaka. Namun, pandangan skeptis tersebut mulai runtuh. Dr. Engel, dosen ilmu lingkungan di Open University Inggris, telah menghabiskan satu dekade terakhir untuk mengumpulkan bukti tak terbantahkan mengenai perilaku pengobatan mandiri pada hewan liar.
Dalam sebuah pembicaraan di Edinburgh Science Festival baru-baru ini, Dr. Engel memaparkan temuan mengejutkan. Semakin banyak ahli perilaku hewan kini meyakini bahwa satwa liar secara aktif menangani kebutuhan medis mereka sendiri dengan kecerdasan yang mengejutkan.
Resep Anti-Parasit ala Simpanse
Salah satu bukti paling awal muncul pada tahun 1987 di Taman Nasional Pegunungan Mahale, Tanzania. Peneliti Michael Huffman dan Mohamedi Seifu mengamati simpanse yang menderita cacing usus dengan sengaja mengonsumsi empulur tanaman Veronia.
Penduduk lokal mengenal tanaman berjuluk “pembunuh kambing” ini karena kandungan bahan kimia beracun bernama terpene. Hebatnya, simpanse tahu persis dosis yang tepat: cukup kuat untuk membunuh parasit di perut, tapi tidak sampai membunuh diri mereka sendiri.
Tidak hanya bahan kimia, simpanse juga menggunakan metode mekanis. Peneliti Richard Wrangham di Cagar Alam Gombe Stream melihat simpanse menelan utuh daun pohon Aspilia dengan cara melipatnya. Ternyata, daun-daun ini memiliki kait mikroskopis di permukaannya. Saat keluar bersama kotoran, kait-kait pada daun tersebut menjerat cacing usus dan membuangnya keluar.
Tanah Liat: Detoks Alami
Bukti lain menunjukkan bahwa banyak spesies hewan memakan tanah atau kotoran, sebuah perilaku yang ilmuwan sebut sebagai geophagy. Awalnya, ilmuwan mengira mereka mencari mineral. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal lain: hewan memakan tanah justru di daerah yang tanahnya miskin mineral.
Eksperimen James Gilardi dari Universitas California pada tahun 1999 terhadap burung makau memberikan jawaban. Burung-burung ini memakan biji-bijian yang mengandung alkaloid beracun. Gilardi menemukan bahwa makau yang memakan tanah liat memiliki kadar racun 60% lebih rendah dalam darah mereka dibandingkan yang tidak. Tanah liat, khususnya lempung, berfungsi mengikat dan menetralkan racun tersebut sebelum tubuh menyerapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gajah juga memperlihatkan perilaku serupa. Mereka menjilati tanah liat sepanjang tahun, kecuali pada bulan September saat mereka berpesta buah-buahan yang aman bagi pencernaan. Bahkan, penambahan tanah liat pada pakan ternak sapi terbukti meningkatkan penyerapan nutrisi hingga 20%.
Pelajaran untuk Manusia
Dr. Engel sangat antusias dengan potensi penerapan pengetahuan ini. Memahami cara hewan menjaga kesehatan mereka bisa membuka jalan untuk meningkatkan kesehatan ternak secara alami.
Manusia pun sebenarnya telah lama meniru kearifan alam ini. Pasar-pasar di Afrika sering menjual tablet tanah liat untuk berbagai keluhan medis. Bahkan, gorila gunung Rwanda memakan jenis tanah liat yang mirip dengan kaolinit—bahan utama obat pencernaan yang banyak beredar di apotek Barat.
Ternyata, ungkapan “sakit” pada hewan mungkin justru menunjukkan proses penyembuhan cerdas yang selama ini luput dari pengamatan manusia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















