JAKARTA – Lini masa media sosial belakangan ini terasa sangat panas. Kemarahan publik meledak bak gunung berapi. Penyebabnya, perilaku segelintir figur publik yang memamerkan gaya hidup hedonis tanpa sedikit pun rasa empati.
Mereka mengunggah foto duduk manis di dalam jet pribadi mewah. Atau, mereka memamerkan bon pembelian roti seharga gaji bulanan buruh. Padahal, di saat yang sama, mayoritas rakyat sedang menjerit tercekik kenaikan harga bahan pokok dan ancaman PHK.
Ketidakmampuan membaca situasi ini kita kenal sebagai perilaku tone deaf atau tuna nada sosial. Seketika, para pemuja gaya hidup mewah ini berubah menjadi sasaran tembak kritik netizen.
Dari Kekaguman Menjadi “Eat the Rich”
Psikologi massa telah mengalami pergeseran drastis. Dulu, konten pamer kekayaan atau flexing sering mendapat tepuk tangan kekaguman. Netizen menganggapnya sebagai “motivasi sukses”.
Namun, angin kini berembus ke arah sebaliknya. Kekaguman itu berubah menjadi kebencian yang mendalam. Pasalnya, publik merasa muak melihat parade kemewahan di atas penderitaan orang lain.
Akibatnya, sentimen eat the rich atau perlawanan terhadap kaum elit menggema keras di kolom komentar. Masyarakat tidak lagi melihat kekayaan mereka sebagai inspirasi, melainkan sebagai bentuk ketidakadilan sistemik.
Cermin Retak Kesenjangan Sosial
Fenomena ini sebenarnya adalah cermin retak dari realitas bangsa kita. Faktanya, jurang kesenjangan ekonomi semakin melebar tak terkendali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Satu pihak bingung memikirkan cara menghabiskan uang yang tak berseri. Sebaliknya, pihak lain justru bingung mencari uang hanya untuk makan hari ini.
Ketimpangan yang mencolok ini melukai rasa keadilan masyarakat. Pameran kemewahan influencer seolah menampar wajah kelas menengah yang sedang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup.
Tuntutan Empati dan Sensitivitas Sosial
Oleh karena itu, standar etika digital kini berubah. Menjadi kaya raya bukanlah sebuah dosa. Akan tetapi, memamerkannya tanpa sensitivitas sosial (social sensitivity) adalah tindakan yang tuna etika.
Publik menuntut empati nyata dari para pembuat konten. Influencer wajib membaca situasi atau read the room sebelum menekan tombol unggah. Jangan sampai konten mereka justru menambah beban mental pengikutnya.
Bahaya Elit yang Menutup Mata
Pada akhirnya, ketulian sosial ini menyimpan bahaya besar. Jika kaum elit terus menutup mata dan telinga terhadap realitas mayoritas, gejolak sosial hanya tinggal menunggu waktu.
Kita tidak bisa membiarkan empati mati demi algoritma. Hentikan pameran kemewahan yang menyakitkan hati. Mulailah membangun jembatan kepedulian sebelum jurang pemisah ini menelan kita semua.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















