Inovasi Rumah Kaca Air Laut Charlie Paton Hijaukan Gurun

Jumat, 15 Mei 2026 - 08:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Badai ganda mengancam kawasan. Fenomena El Nino ekstrem berpadu dengan krisis pupuk global siap melambungkan harga pangan di Asia Tenggara. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Badai ganda mengancam kawasan. Fenomena El Nino ekstrem berpadu dengan krisis pupuk global siap melambungkan harga pangan di Asia Tenggara. Dok: Istimewa.

ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Ide cemerlang terkadang muncul dari momen yang tidak terduga. Bagi Charlie Paton, inspirasi itu datang dari tetesan air di jendela bus saat ia melintasi gurun Maroko di tengah hujan.

Kejadian tersebut memicu rasa ingin tahunya. Mengapa jendela bus bisa begitu basah di tengah lingkungan yang kering? Jawabannya adalah kondensasi. Sekembalinya ke London, Paton mulai merancang peralatan yang mampu meniru proses alam tersebut guna memproduksi air tawar di wilayah pesisir yang gersang.

Cara Kerja “Mesin Embun” Raksasa

Satu dekade kemudian, mimpi Paton terwujud dalam bentuk rumah kaca raksasa di Abu Dhabi. Para ilmuwan lokal bekerja sama dengan Paton untuk menanam sayuran di tempat yang pada dasarnya adalah mesin pembuat embun raksasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sistem ini terdiri dari tiga bagian utama yang berfungsi mendinginkan suhu sekaligus menyediakan air irigasi:

  1. Dinding Depan Lembap: Udara gurun yang panas melewati dinding karton berlubang tempat pompa terus mengalirkan air laut. Proses ini mendinginkan dan melembapkan udara sehingga tanaman tumbuh lebih cepat dengan penguapan minimal.
  2. Atap Dua Lapis: Atap polietilen khusus membiarkan cahaya tampak masuk untuk fotosintesis, namun memantulkan radiasi inframerah yang panas. Teknologi ini menjaga suhu di sekitar tanaman tetap sejuk.
  3. Unit Kondensasi: Di bagian belakang, udara yang sangat lembap menyentuh permukaan logam dingin hasil aliran air laut. Hal ini menciptakan tetesan air murni yang kemudian mengalir menuju tangki penyimpanan untuk menyiram tanaman.
Baca Juga :  LDP Jepang Sepakati Draf Revisi Dokumen Keamanan Nasional

Efisiensi Tinggi dan Kemandirian Energi

Rumah kaca di Abu Dhabi ini hampir sepenuhnya berjalan secara otomatis. Sensor canggih mengatur aliran udara dan air laut berdasarkan perubahan suhu serta sinar matahari sepanjang hari. Menariknya, seluruh operasi ini hanya memerlukan daya setara dengan satu colokan listrik 13 ampere.

“Di masa depan, kami bisa membuatnya sepenuhnya independen dari jaringan listrik dengan menggunakan tenaga beberapa panel surya,” ujar Paton dengan optimis. Meskipun biaya konstruksi awalnya tergolong tinggi, efisiensi operasionalnya sangat mengesankan. Sistem ini mampu mendinginkan ruangan seefektif AC 500 kilowatt dengan penggunaan listrik kurang dari 3 kilowatt.

Baca Juga :  Industri Tekstil RI Tancap Gas, Ekspor Tembus USD 11,98 Miliar di 2025

Solusi Ekonomi dan Lingkungan

Para kritikus sempat menyoroti biaya pembangunan sebesar $4 per kaki persegi. Namun, Paton membuktikan bahwa biaya efektif air hasil proses ini hanya seperempat dari biaya desalinasi standar. Selain itu, tanaman di rumah kaca ini hanya membutuhkan seperdelapan dari volume air pada pertanian konvensional.

Oleh karena itu, inovasi ini menawarkan cara yang ramah lingkungan untuk menyediakan ketahanan pangan di daerah pesisir yang kekurangan air. Marco Goldschmied, Presiden Royal Institute of British Architects, menyebutnya sebagai ide orisinal yang berpotensi mengubah hidup jutaan orang di seluruh dunia.

Menatap Masa Depan Pertanian Pesisir

Keberhasilan proyek di Abu Dhabi ini menjadi tonggak sejarah bagi teknologi hijau di tahun 2026. Di tengah ancaman krisis iklim dan kelangkaan air global, “Rumah Kaca Air Laut” memberikan bukti nyata bahwa manusia bisa bekerja sama dengan alam, bukan melawannya.

Singkatnya, inovasi Paton mengubah air laut yang melimpah menjadi oksigen dan makanan bagi penduduk gurun. Masyarakat internasional kini menanti adopsi skala besar dari teknologi ini untuk menghijaukan kembali wilayah-wilayah gersang di berbagai belahan dunia lainnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan
Menteri Lingkungan Mundur, Parlemen Sahkan Aturan Pestisida
Dua Tanker Minyak Saudi Putar Balik di Laut Merah
Arab Saudi dan UEA Kompak Tegaskan Persaudaraan
Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros
Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris
Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan
Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:57 WIB

Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:41 WIB

Menteri Lingkungan Mundur, Parlemen Sahkan Aturan Pestisida

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:29 WIB

Dua Tanker Minyak Saudi Putar Balik di Laut Merah

Rabu, 22 Juli 2026 - 10:00 WIB

Arab Saudi dan UEA Kompak Tegaskan Persaudaraan

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:29 WIB

Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros

Berita Terbaru