Inovasi Rumah Kaca Air Laut Charlie Paton Hijaukan Gurun

Jumat, 15 Mei 2026 - 08:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Alarm ekologi global. Suhu permukaan laut dunia merangkak naik menuju rekor tertinggi baru saat pola cuaca El Niño mulai terbentuk, memicu kekhawatiran bahwa tahun 2027 akan melampaui rekor tahun terpanas sepanjang sejarah. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Alarm ekologi global. Suhu permukaan laut dunia merangkak naik menuju rekor tertinggi baru saat pola cuaca El Niño mulai terbentuk, memicu kekhawatiran bahwa tahun 2027 akan melampaui rekor tahun terpanas sepanjang sejarah. Dok: Istimewa.

ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Ide cemerlang terkadang muncul dari momen yang tidak terduga. Bagi Charlie Paton, inspirasi itu datang dari tetesan air di jendela bus saat ia melintasi gurun Maroko di tengah hujan.

Kejadian tersebut memicu rasa ingin tahunya. Mengapa jendela bus bisa begitu basah di tengah lingkungan yang kering? Jawabannya adalah kondensasi. Sekembalinya ke London, Paton mulai merancang peralatan yang mampu meniru proses alam tersebut guna memproduksi air tawar di wilayah pesisir yang gersang.

Cara Kerja “Mesin Embun” Raksasa

Satu dekade kemudian, mimpi Paton terwujud dalam bentuk rumah kaca raksasa di Abu Dhabi. Para ilmuwan lokal bekerja sama dengan Paton untuk menanam sayuran di tempat yang pada dasarnya adalah mesin pembuat embun raksasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sistem ini terdiri dari tiga bagian utama yang berfungsi mendinginkan suhu sekaligus menyediakan air irigasi:

  1. Dinding Depan Lembap: Udara gurun yang panas melewati dinding karton berlubang tempat pompa terus mengalirkan air laut. Proses ini mendinginkan dan melembapkan udara sehingga tanaman tumbuh lebih cepat dengan penguapan minimal.
  2. Atap Dua Lapis: Atap polietilen khusus membiarkan cahaya tampak masuk untuk fotosintesis, namun memantulkan radiasi inframerah yang panas. Teknologi ini menjaga suhu di sekitar tanaman tetap sejuk.
  3. Unit Kondensasi: Di bagian belakang, udara yang sangat lembap menyentuh permukaan logam dingin hasil aliran air laut. Hal ini menciptakan tetesan air murni yang kemudian mengalir menuju tangki penyimpanan untuk menyiram tanaman.
Baca Juga :  Hujan Deras Soekarno-Hatta, 16 Pesawat Terpaksa Dialihkan ke Bandara Alternatif

Efisiensi Tinggi dan Kemandirian Energi

Rumah kaca di Abu Dhabi ini hampir sepenuhnya berjalan secara otomatis. Sensor canggih mengatur aliran udara dan air laut berdasarkan perubahan suhu serta sinar matahari sepanjang hari. Menariknya, seluruh operasi ini hanya memerlukan daya setara dengan satu colokan listrik 13 ampere.

“Di masa depan, kami bisa membuatnya sepenuhnya independen dari jaringan listrik dengan menggunakan tenaga beberapa panel surya,” ujar Paton dengan optimis. Meskipun biaya konstruksi awalnya tergolong tinggi, efisiensi operasionalnya sangat mengesankan. Sistem ini mampu mendinginkan ruangan seefektif AC 500 kilowatt dengan penggunaan listrik kurang dari 3 kilowatt.

Baca Juga :  Arab Saudi dan Sekutu Desak Trump Batalkan Serangan ke Iran

Solusi Ekonomi dan Lingkungan

Para kritikus sempat menyoroti biaya pembangunan sebesar $4 per kaki persegi. Namun, Paton membuktikan bahwa biaya efektif air hasil proses ini hanya seperempat dari biaya desalinasi standar. Selain itu, tanaman di rumah kaca ini hanya membutuhkan seperdelapan dari volume air pada pertanian konvensional.

Oleh karena itu, inovasi ini menawarkan cara yang ramah lingkungan untuk menyediakan ketahanan pangan di daerah pesisir yang kekurangan air. Marco Goldschmied, Presiden Royal Institute of British Architects, menyebutnya sebagai ide orisinal yang berpotensi mengubah hidup jutaan orang di seluruh dunia.

Menatap Masa Depan Pertanian Pesisir

Keberhasilan proyek di Abu Dhabi ini menjadi tonggak sejarah bagi teknologi hijau di tahun 2026. Di tengah ancaman krisis iklim dan kelangkaan air global, “Rumah Kaca Air Laut” memberikan bukti nyata bahwa manusia bisa bekerja sama dengan alam, bukan melawannya.

Singkatnya, inovasi Paton mengubah air laut yang melimpah menjadi oksigen dan makanan bagi penduduk gurun. Masyarakat internasional kini menanti adopsi skala besar dari teknologi ini untuk menghijaukan kembali wilayah-wilayah gersang di berbagai belahan dunia lainnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan
Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai
Puluhan Negara Desak Solusi Dua Negara demi Akhiri Konflik
Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump
Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan
AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP
Tanah Longsor Sapu Tujuh Persen Populasi Orangutan
Putri Bajrakitiyabha Wafat pada Usia 47 Tahun

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:15 WIB

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:00 WIB

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:05 WIB

Pentagon Rilis 72 Dokumen Rahasia UFO Era Trump

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:02 WIB

Uni Eropa Sepakat Memulai Negosiasi Keanggotaan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 12:21 WIB

AOC Resmi Luncurkan Monitor Gaming AGP277QKP

Berita Terbaru

Gebrakan besar di perbatasan. Otoritas Hong Kong menyita ratusan ribu barang palsu termasuk jersi Piala Dunia siap ekspor senilai dua puluh juta dolar AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Sabtu, 13 Jun 2026 - 18:15 WIB

Terobosan besar diplomasi global. Amerika Serikat dan Iran mendekati kesepakatan damai akhir untuk mengakhiri perang tiga bulan dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Sabtu, 13 Jun 2026 - 16:00 WIB