Konfrontasi Militer Terbuka: Israel dan AS Bombardir Iran

Sabtu, 28 Februari 2026 - 17:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar isu hijau. Perubahan iklim kini memasuki ranah kebijakan pertahanan nasional, di mana militer memandang krisis alam sebagai ancaman kedaulatan yang memerlukan tindakan darurat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan sekadar isu hijau. Perubahan iklim kini memasuki ranah kebijakan pertahanan nasional, di mana militer memandang krisis alam sebagai ancaman kedaulatan yang memerlukan tindakan darurat. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Kawasan Timur Tengah kembali terjerumus ke dalam konfrontasi militer skala penuh. Israel secara resmi mengumumkan peluncuran serangan pre-emptif terhadap Iran pada Sabtu pagi waktu setempat.

Langkah militer ini meruntuhkan harapan diplomatik yang sempat terbangun dalam perundingan Jenewa awal bulan ini. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan kebutuhan mendesak bagi keamanan nasional. “Negara Israel meluncurkan serangan pre-emptif terhadap Iran guna menghilangkan ancaman yang nyata,” ujar Katz dalam pernyataan resminya.

Keterlibatan Militer AS dan Evakuasi Khamenei

Laporan dari The New York Times memperkuat dugaan adanya keterlibatan langsung Washington. Mengutip pejabat AS, media tersebut melaporkan bahwa jet tempur Amerika Serikat turut serta dalam serangan yang sedang berlangsung.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Teheran, situasi dilaporkan sangat mencekam. Suara ledakan hebat terdengar di berbagai penjuru kota sejak fajar menyingsing. Selanjutnya, sumber internal mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sudah tidak berada di kediamannya. Aparat keamanan telah memindahkan sang pemimpin ke lokasi rahasia yang memiliki sistem perlindungan maksimal guna mengantisipasi serangan susulan.

Baca Juga :  Trump Pertimbangkan Gandakan Kuota Pengungsi bagi Warga Kulit Putih

Persiapan Operasi dan Koordinasi Washington

Seorang pejabat pertahanan Israel mengungkapkan bahwa operasi militer ini bukanlah tindakan impulsif. Pasalnya, militer telah merencanakan serangan ini selama berbulan-bulan melalui koordinasi intensif dengan Washington.

Tanggal peluncuran serangan tersebut kabarnya sudah pihak sekutu putuskan sejak beberapa minggu lalu. Insiden ini mengikuti pola ketegangan yang serupa dengan perang udara 12 hari pada Juni tahun lalu. Meskipun demikian, serangan kali ini petugas nilai jauh lebih masif karena menargetkan infrastruktur vital nuklir dan sistem pertahanan udara Iran secara simultan.

Status Darurat Nasional di Israel

Merespons potensi balasan dari Iran, militer Israel segera membunyikan sirene peringatan di seluruh penjuru negeri pada pukul 08.15 waktu setempat. Pemerintah menginstruksikan penutupan sekolah, tempat kerja non-esensial, dan larangan berkumpul di ruang publik.

Baca Juga :  Dana Rp1,7 Miliar Digalang Kementerian Imipas, Fokus Bantu Air Bersih Pascabencana

Selain itu, Otoritas Bandara Israel menutup seluruh wilayah udara bagi penerbangan sipil. Warga diminta untuk tetap berada di dekat perlindungan bom (bomb shelters). Iran sendiri telah memberikan peringatan keras kepada negara-negara tetangga yang menampung pasukan AS. Teheran bersumpah akan menyerang balik pangkalan militer Amerika mana pun jika Washington terbukti memfasilitasi agresi Israel.

Kebuntuan Diplomasi Nuklir

Kegagalan jalur politik di Jenewa menjadi pemicu utama kembalinya mesin perang ke perbatasan. Israel tetap bersikeras bahwa kesepakatan nuklir apa pun harus mencakup penghancuran total infrastruktur nuklir Teheran, bukan sekadar penghentian pengayaan uranium.

Di sisi lain, Iran menolak mentah-mentah tuntutan untuk membatasi program rudal balistiknya. Teheran memandang sistem rudal tersebut sebagai hak kedaulatan untuk pertahanan diri. Kekuatan global kini mengkhawatirkan bahwa konfrontasi terbaru ini akan melumpuhkan pasokan energi dunia serta menyeret negara-negara regional ke dalam perang terbuka yang merusak stabilitas global di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Noel Divonis 4 Tahun 6 Bulan Penjara, Terbukti Korupsi Sertifikasi K3
Gagal Amankan Kursi DK PBB: Sikap Jerman Terhadap Ukraina dan Israel
Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri
Selain Motor Listrik, Kejagung Temukan Mark Up Sepatu – Tablet dan TV Program MBG
Kurir Sabu 510 Gram Ditangkap di Pasar Rebo, Polisi Kejar Bandar dan Penerima
Pesawat Militer AS Tetap Pasok Peralatan Karantina Ebola
Pasokan Air PAM Jaya Terganggu 5-6 Juni, 45 Kelurahan Diminta Siapkan Cadangan
Fortuner Hantam Dua Motor di Kemang Bogor, Satu Pengendara Tewas di Tempat

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:07 WIB

Noel Divonis 4 Tahun 6 Bulan Penjara, Terbukti Korupsi Sertifikasi K3

Kamis, 4 Juni 2026 - 16:06 WIB

Gagal Amankan Kursi DK PBB: Sikap Jerman Terhadap Ukraina dan Israel

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:03 WIB

Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:42 WIB

Selain Motor Listrik, Kejagung Temukan Mark Up Sepatu – Tablet dan TV Program MBG

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:20 WIB

Kurir Sabu 510 Gram Ditangkap di Pasar Rebo, Polisi Kejar Bandar dan Penerima

Berita Terbaru

Penertiban birokrasi federal. Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempermudah pemecatan 8.000 pegawai federal senior bergaji tinggi demi efisiensi kerja. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Teken Aturan Pecat 8.000 Pegawai Negeri

Kamis, 4 Jun 2026 - 15:03 WIB