JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan Anda membuka kulkas dan menemukan sisa makanan dari minggu lalu. Kemungkinan besar, makanan itu sudah berjamur dan bau. Namun, aturan pembusukan ini tampaknya tidak berlaku bagi satu makanan ajaib: madu.
Para arkeolog modern sering mengalami kejadian mencengangkan saat menggali makam-makam Firaun di Mesir. Mereka menemukan guci-guci berisi madu yang telah terkubur selama 3.000 tahun.
Ajaibnya, madu tersebut tidak membusuk. Para peneliti bahkan berani mencicipinya dan rasanya masih manis. Bagaimana mungkin sebuah makanan organik bisa bertahan melintasi milenium tanpa bahan pengawet buatan?
Senjata Rahasia Kimiawi
Jawabannya bukan terletak pada sihir kuno, melainkan pada kimia dasar yang sempurna. Madu memiliki tiga senjata rahasia utama yang membuatnya abadi.
Pertama, madu memiliki kadar air yang sangat rendah. Lebah bekerja keras mengepakkan sayap mereka untuk mengeringkan nektar. Akibatnya, madu bersifat higroskopis.
Artinya, madu menyerap kelembapan dari lingkungan sekitarnya. Bakteri pembusuk membutuhkan air untuk hidup. Seketika bakteri mendarat di madu, cairan tubuh bakteri tersebut akan tersedot keluar hingga mati kekeringan. Madu mencekik kehidupan mikroba jahat.
Perisai Asam dan Hidrogen Peroksida
Kedua, madu memiliki tingkat keasaman (pH) yang unik. Rata-rata pH madu berkisar antara 3 hingga 4,5. Lingkungan asam ini sangat mematikan bagi bakteri seperti Salmonella atau E. coli.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketiga, dan yang paling canggih, adalah peran enzim lebah. Saat memproses nektar, lebah memuntahkan enzim bernama glukosa oksidase ke dalam madu.
Enzim ini memecah gula menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida. Faktanya, hidrogen peroksida adalah zat yang sama yang sering kita gunakan untuk membersihkan luka. Oleh karena itu, madu secara alami memproduksi antiseptik pelindung dirinya sendiri.
Mitos Kristalisasi: Rusak atau Asli?
Banyak konsumen sering salah paham tentang sifat fisik madu. Sering kali, kita melihat madu di dapur berubah menjadi keras, berpasir, atau mengkristal.
Kita lantas panik dan mengira madu itu rusak atau palsu (campuran gula). Padahal, anggapan itu salah besar. Kristalisasi adalah proses alami yang justru menandakan kemurnian madu.
Madu mengandung kadar gula (glukosa dan fruktosa) yang sangat tinggi. Seiring waktu, glukosa akan memisahkan diri dari air dan membentuk kristal.
Jika hal ini terjadi, jangan membuangnya. Cukup rendam botol madu dalam air hangat. Nantinya, madu akan kembali mencair seperti semula tanpa kehilangan nutrisinya.
Satu-satunya Makanan Abadi
Pada akhirnya, madu memegang rekor unik di dunia kuliner. Madu adalah satu-satunya makanan alami yang benar-benar tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.
Syaratnya hanya satu: simpanlah dalam wadah tertutup rapat. Selama uap air dari udara tidak masuk, madu akan tetap aman.
Maka, hargailah setiap tetes cairan emas ini. Di dalamnya terkandung kerja keras ribuan lebah dan keajaiban kimia yang mampu menipu waktu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















