Kebohongan Peta Dunia: Mengapa Greenland Terlihat Sebesar Afrika?

Jumat, 5 Desember 2025 - 06:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Peta dunia di dinding kelas ternyata

Ilustrasi, Peta dunia di dinding kelas ternyata "berbohong"! Greenland terlihat raksasa, padahal Afrika jauh lebih besar. Simak fakta mengejutkan di balik Proyeksi Mercator. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita semua pasti tumbuh besar dengan melihat peta dunia standar yang tergantung di dinding kelas. Gambar benua-benua itu menancap kuat dalam ingatan kita sejak sekolah dasar. Namun, tahukah Anda bahwa peta tersebut sebenarnya “salah”?

Peta itu menyimpan sebuah kebohongan visual yang besar. Contohnya, kita melihat Pulau Greenland tampak sama besarnya dengan Benua Afrika. Padahal, realitasnya sama sekali tidak demikian. Peta yang kita percayai selama ini telah memanipulasi ukuran asli negara-negara di dunia.

Navigasi Pelaut, Bukan Akurasi Wilayah

Biang keladi dari distorsi ini bernama Proyeksi Mercator. Seorang kartografer Flemish bernama Gerardus Mercator menciptakan peta ini pada tahun 1569. Tujuannya jelas, ia ingin memudahkan navigasi para pelaut Eropa pada masa penjelajahan.

Mercator mendesain garis lintang dan bujur menjadi tegak lurus. Akibatnya, para nakhoda bisa menarik garis lurus di atas peta untuk menjaga arah kompas yang konstan.

Oleh karena itu, peta ini sangat berguna untuk berlayar di samudra luas. Sayangnya, Mercator mengorbankan akurasi luas wilayah demi kepentingan navigasi tersebut. Ia tidak pernah berniat membuat peta ini sebagai referensi geografis yang akurat bagi siswa sekolah.

Baca Juga :  Bajak Laut Mediterania Kuno: Teror Laut Ribuan Tahun Sebelum Jack Sparrow

Raksasa Kutub dan Liliput Khatulistiwa

Bagaimana distorsi ini bekerja? Mekanismenya cukup sederhana. Mercator menarik melar wilayah-wilayah yang mendekati kutub (Utara dan Selatan).

Lantas, negara-negara di belahan bumi utara mengalami pembengkakan ukuran yang ekstrem. Rusia, Kanada, dan Eropa terlihat jauh lebih besar dan gagah daripada aslinya. Greenland muncul sebagai raksasa es yang mendominasi peta.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebaliknya, wilayah di garis khatulistiwa justru “tergencet” dan mengecil. Afrika, Indonesia, dan Amerika Selatan tampak kerdil. Imbasnya, kita sering meremehkan luas wilayah negara-negara tropis ini.

Ukuran Asli yang Mengejutkan

Mari kita bedah fakta sebenarnya. Di peta Mercator, Greenland dan Afrika terlihat seimbang. Faktanya, luas Afrika sebenarnya 14 kali lebih besar daripada Greenland.

Baca Juga :  Raksasa Lembut Lautan di Ambang Batas: Kisah Manatee yang Berjuang untuk Bertahan Hidup

Ini adalah perbandingan yang sangat timpang. Bayangkan saja, Benua Afrika memiliki luas sekitar 30,37 juta kilometer persegi.

Wilayah Afrika sanggup memuat Amerika Serikat, China, India, dan sebagian besar Eropa sekaligus di dalamnya. Akan tetapi, peta Mercator menyembunyikan kebesaran ini dan membuat Afrika terlihat setara dengan Greenland yang hanya seluas 2,1 juta kilometer persegi.

Persepsi Politik dan Kekuasaan

Pada akhirnya, peta bukan sekadar gambar mati. Peta memiliki kekuatan untuk memengaruhi persepsi politik dan kekuasaan global.

Proyeksi Mercator secara tidak sadar menanamkan doktrin “Eurosentris”. Artinya, negara-negara Barat (Utara) terlihat lebih dominan, besar, dan penting. Sementara itu, negara-negara berkembang (Selatan) terlihat kecil dan tidak signifikan.

Jadi, mulailah melihat peta dengan kritis. Dunia ternyata tidak seperti apa yang kita lihat di dinding kelas. Kita perlu memahami bahwa realitas geografis sering kali berbeda dengan representasi visual yang kita konsumsi sehari-hari.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas
Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara
Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi
Kunjungan Trump ke Beijing: Diplomasi Dagang di Tengah Pukulan Hukum Mahkamah Agung
Ambisi Militer Takaichi: Jepang Akhiri Era Pasifis dan Perkuat Kapabilitas Serangan Balik
Inggris Pertimbangkan UU untuk Hapus Andrew Mountbatten-Windsor dari Garis Suksesi

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:10 WIB

Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:57 WIB

ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM

Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:37 WIB

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:52 WIB

Menko Polkam Atensi Keamanan Papua, Negara Tak Mundur Hadapi Teror Bandara

Sabtu, 21 Februari 2026 - 14:39 WIB

Ditangkap Saat Sahur, Begal Modus Fitnah Pelecehan Ternyata Sudah 4 Kali Beraksi

Berita Terbaru

Zelensky sedang memberikan pidato pada konferensi beberapa bulan yang lalu. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 15:37 WIB