Korban Hilang Banjir Bandang Himalaya Capai 3.044 Orang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Korban hilang banjir bandang Himalaya capai 3.044 orang dengan 750 tewas, sementara bantuan internasional terus mengalir ke Nepal. Dok: Istimewa.

Korban hilang banjir bandang Himalaya capai 3.044 orang dengan 750 tewas, sementara bantuan internasional terus mengalir ke Nepal. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, KATHMANDU — Tim penyelamat Nepal dan China berjuang menembus lumpur pekat pada Minggu. Mereka menghadapi ancaman banjir susulan saat mencari ribuan korban hilang akibat dinding air dan puing yang menyapu pegunungan Himalaya.

Angka Korban Terkini

Data terbaru kedua negara mencatat 3.044 orang hilang, dengan tambahan 750 kematian terkonfirmasi. Sejumlah laporan bahkan menyebut beberapa jenazah mungkin hanyut hingga sejauh India.

Badan Survei Geologi AS menyatakan bencana yang melanda perbatasan China-Nepal pada Rabu pagi dipicu longsoran gletser. Longsoran tersebut mengirimkan dinding air dan puing ke hilir sungai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Upaya Penyelamatan di Trishuli 3A

Tentara dan insinyur Nepal bekerja pada Minggu untuk menyelamatkan pekerja yang diduga terjebak di terowongan lokasi hidroelektrik Trishuli 3A. Mereka berhasil memasukkan pipa ke dalam lorong tersebut.

Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudan Gurung, menyatakan pihaknya telah mulai mengalirkan udara lewat lubang kecil tersebut. Namun, hujan dan naiknya permukaan sungai menghambat upaya penyelamatan pada Minggu.

Otoritas bencana Nepal mendesak tim penyelamat tetap berhati-hati. Sebanyak 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air termasuk di antara daftar korban hilang di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Spanyol Boikot Militer AS: Tutup Ruang Udara dan Larang Penggunaan Pangkalan untuk Perang Iran

Penyebab Ilmiah Bencana

Kantor berita negara China, Xinhua, melaporkan pada Minggu bahwa para ahli menyebut gletser di lereng selatan Puncak Lirung, Nepal, mengalami keretakan. Keretakan ini memicu longsoran es dan batu.

Aliran deras tersebut membentuk aliran puing masif yang menempuh lebih dari 20 kilometer sebelum menghantam Pelabuhan Gyirong. Kepala iklim PBB, Simon Steill, menyebut longsoran gletser mendadak ini sebagai pengingat mengerikan betapa rapuhnya lingkungan pegunungan tersebut.

Kesaksian Para Penyintas

Para penyintas menghadapi penantian menyakitkan menunggu kabar kerabat mereka yang hilang. Buddhi Ram Dangol, warga Distrik Nuwakot, menceritakan seluruh permukiman dekat sungai tersapu habis tanpa sisa.

Di pangkalan militer yang menjadi pusat penyelamatan di Bidur, kerabat korban berkerumun memeriksa daftar orang yang berhasil diselamatkan. Kalka Sharda mengaku datang mencari anaknya sambil memeriksa daftar tersebut dengan penuh keputusasaan.

Otoritas bencana Nepal melaporkan 589 warga asing tidak dapat dihubungi, termasuk pendaki dan peziarah Hindu menuju Gunung Kailash suci di Tibet. Isha Foundation pimpinan guru India Sadhguru menyatakan 80 anggotanya sedang melakukan perjalanan kelompok di area tersebut.

Bantuan Internasional Mengalir

Amerika Serikat dan Kanada masing-masing menjanjikan bantuan kemanusiaan senilai $3,6 juta untuk Nepal. Inggris menawarkan $6,8 juta, sementara PBB mencairkan dana darurat $2,5 juta.

Baca Juga :  Kisah Jalue Dorje, Remaja Minnesota yang Menjadi Lama Reinkarnasi di Himalaya

Uni Eropa menjanjikan $2,3 juta pada Jumat. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengalokasikan lebih dari $1 juta serta meluncurkan seruan darurat senilai $31 juta.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, memperingatkan biaya rekonstruksi berpotensi mencapai miliaran dolar. Ia meminta bantuan khusus, termasuk drone angkat berat dan teknologi pencarian korban terjebak.

Ancaman Danau Baru dan Kondisi di Tibet

Banjir es dan lumpur menciptakan danau-danau besar, dengan salah satunya kini menjadi risiko banjir susulan. Menteri luar negeri China dan Nepal berbicara pada Sabtu membahas berbagi data satelit dan hidrologi.

Di Tibet, operasi penyelamatan sempat terhenti sementara di Gyirong akibat risiko banjir dari danau yang baru terbentuk. Namun, CCTV melaporkan danau tersebut mengalir secara alami dan hampir sepenuhnya terkuras.

Sebanyak 2.141 petugas penyelamat berada dekat lokasi Gyirong, menurut Xinhua. Nepal melaporkan 734 kematian pada Minggu, sementara di Tibet 16 orang tewas dan 546 masih hilang. India sendiri melaporkan penemuan tujuh jenazah dari sungai yang mengalir dari Nepal.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin
USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan
Takaichi Bantah Revisi UU Rumah Kekaisaran Halangi Suksesi
Petugas Imigrasi AS Didakwa Berbohong soal Penembakan Warga

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 September 2026 - 15:00 WIB

Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition

Minggu, 6 September 2026 - 14:45 WIB

AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Minggu, 6 September 2026 - 14:14 WIB

Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terbaru

Penumpang di stasiun kereta api PT KAI.
(Posnews/Net)

JABODETABEK

Jangan Salah Naik, 12 Perjalanan KRL Dibatalkan 7-30 September

Senin, 7 Sep 2026 - 07:24 WIB

Polisi mengungkap korban  Mozza Axillia dibunuh MDVA setelah cekcok akibat cemburu lalu jasadnya dibuang ke jurang Tol Jangli. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Misteri Mozza Terbongkar, Pelaku Ditangkap Saat Nonton Voli

Senin, 7 Sep 2026 - 06:05 WIB

Ilustrasi, Commuter Line tetap beroperasi di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
(Posnews/KAI)

JABODETABEK

Gunung Anak Krakatau Erupsi, KAI Commuter Merak Tetap Jalan

Senin, 7 Sep 2026 - 05:51 WIB

Ilustrasi, cuaca cerah mendominasi Jabodetabek Senin 7 September 2026 dengan suhu hingga 35 derajat Celsius.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Senin 7 September, Jabodetabek Cerah tapi Suhu Bisa Menyengat

Senin, 7 Sep 2026 - 05:41 WIB