TAIPEI, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di Selat Taiwan memasuki babak baru melalui jalur diplomasi partai. Ketua Kuomintang (KMT), Cheng Li-wun, secara resmi mengonfirmasi rencana kunjungannya ke Tiongkok daratan bulan depan untuk memenuhi undangan Presiden Xi Jinping pada hari Senin.
Dalam konteks ini, kunjungan tersebut mencakup agenda di provinsi Jiangsu, Shanghai, dan Beijing. Cheng menegaskan bahwa dialog langsung dengan kepemimpinan di Beijing sangat krusial guna memastikan bahwa hubungan kedua belah pihak selat tidak berakhir dengan konfrontasi militer yang merusak.
Membangun Jembatan vs Kritik “Pro-China”
Cheng Li-wun, yang baru menjabat sejak November lalu, bersikap teguh untuk menemui Xi Jinping sebelum ia melakukan kunjungan resmi ke Amerika Serikat. Oleh karena itu, ia menghadapi gelombang kritik dari internal maupun eksternal partai yang menganggap sikapnya terlalu condong ke Beijing.
Meskipun demikian, Cheng memandang pertemuan ini membawa makna simbolis yang sangat signifikan. “Saya tidak percaya satu pertemuan dapat menyelesaikan masalah yang telah menumpuk selama hampir satu abad,” ujar Cheng kepada media asing. Namun, ia berharap langkah ini sukses menjadi fondasi bagi hubungan lintas selat yang lebih stabil di tahun 2026.
Sengketa Anggaran Pertahanan dan Split Internal KMT
Rencana kunjungan ini muncul saat parlemen Taiwan tengah berdebat panas mengenai anggaran pertahanan khusus. Pemerintahan Presiden Lai Ching-te mengusulkan belanja sebesar NT$1,25 triliun ($39 miliar) untuk pembelian senjata dari Amerika Serikat. **Sebaliknya**, KMT secara resmi hanya menyetujui alokasi sebesar NT$380 miliar.
Menariknya, terjadi perpecahan suara di internal partai oposisi tersebut. Wali Kota Taichung, Lu Shiow-yen, yang digadang-gadang sebagai calon kuat presiden 2028, justru mengusulkan angka yang lebih tinggi. Menurutnya, jumlah yang masuk akal bagi pertahanan nasional seharusnya berada di kisaran NT$800 miliar hingga NT$1 triliun. Akibatnya, posisi tawar KMT di parlemen kini menjadi sorotan publik.
Tekanan Washington dan Risiko Politik Domestik
Pengumuman perjalanan Cheng ini bertepatan dengan kedatangan delegasi bipartisan Kongres Amerika Serikat di Taipei. Kehadiran utusan Washington tersebut secara langsung meningkatkan tekanan bagi Taiwan untuk segera memperbesar anggaran militer guna membendung potensi agresi Tiongkok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, muncul kekhawatiran bahwa pertemuan Cheng-Xi dapat memicu reaksi negatif dari pemilih menjelang pemilihan distrik akhir tahun ini. Sebagai hasilnya, Cheng harus mampu membuktikan bahwa diplomasi yang ia jalankan memberikan manfaat nyata bagi keamanan masyarakat, bukan sekadar kompromi politik dengan Beijing. Pada akhirnya, hasil dari kunjungan April mendatang akan menjadi ujian krusial bagi kedaulatan politik KMT di mata rakyat Taiwan tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















