TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Ledakan roket memecah kesunyian di kaki Gunung Fuji pada hari Rabu. Korps Marinir Amerika Serikat menembakkan roket dari peluncur bergerak sebagai bagian dari latihan militer gabungan. Latihan ini melibatkan pasukan dari Jepang, Australia, dan Filipina.
Para prajurit menguji sistem High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS). Sistem ini terpasang di atas truk militer sehingga pasukan dapat meluncurkan roket dengan cepat. Selanjutnya, mereka segera berpindah lokasi guna menghindari serangan balik musuh.
Taktik “Shoot and Scoot” di Era Drone
Taktik “tembak dan lari” (shoot and scoot) kini menjadi krusial. Pasalnya, penyebaran drone di medan tempur membuat posisi artileri statis sangat rentan terhadap serangan balik. HIMARS menawarkan mobilitas tinggi karena sistem ini mudah disembunyikan dari pengawasan drone maupun satelit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sersan Kevin Alvarez, kepala bagian baterai Marinir, menjelaskan efektivitas sistem ini. “Waktu pergerakan bergantung pada kru, namun kami bisa melakukannya dalam dua hingga empat menit,” ujar Alvarez. Oleh karena itu, kecepatan menjadi kunci utama dalam operasi modern di Pasifik.
Mengubah Paradigma Pertahanan Pasifik
Euan Graham, analis pertahanan senior dari Australian Strategic Policy Institute, menilai latihan ini sebagai pergeseran taktik militer AS. Washington kini tidak lagi hanya mengandalkan sayap serang berbasis kapal induk seperti masa lalu.
“Amerika Serikat tidak ingin China menginvasi Taiwan,” kata Graham. Namun, mereka kini lebih menekankan penggunaan unit-unit kecil yang lebih fleksibel. Selain itu, konflik baru-baru ini menunjukkan kerentanan pesawat tempur besar terhadap musuh yang memiliki kemampuan teknis mumpuni. Dengan demikian, HIMARS menjadi solusi yang lebih adaptif bagi Washington.
Pengalaman dari Medan Tempur Iran
Sistem ini memiliki peran vital di kawasan Pasifik. AS berharap HIMARS dapat mencegah invasi China ke Taiwan melalui penempatan di pulau-pulau Jepang atau lokasi strategis lainnya. Sebagai buktinya, militer AS baru saja mengonfirmasi efektivitas sistem ini dalam konflik melawan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menggunakan rudal presisi terbaru dari sistem HIMARS untuk menenggelamkan beberapa kapal permukaan Iran serta satu kapal selam di pelabuhan. Maka dari itu, kemampuan sistem ini untuk menjangkau target ratusan mil jauhnya menjadi ancaman nyata bagi setiap rencana blokade maritim di Selat Taiwan.
Membangun Daya Getar Regional
Latihan di Camp Fuji ini melibatkan koordinasi erat dengan pasukan militer Jepang. Pemerintah menutup akses jalan umum di dekat lokasi peluncuran demi keselamatan warga selama latihan berlangsung. Dengan demikian, pihak otoritas memastikan masyarakat tetap aman meski latihan menggunakan senjata berat.
Singkatnya, pengoperasian HIMARS menjadi komponen penting bagi strategi pertahanan Amerika Serikat. Kolaborasi dengan sekutu regional menegaskan komitmen mereka dalam menjaga kebebasan navigasi di kawasan Indo-Pasifik yang kini menjadi titik panas geopolitik dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












