Mengapa Kita Mudah Menghancurkan Bangunan Bersejarah?

Rabu, 17 Desember 2025 - 07:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Mall baru lagi? Sayangnya, sejarah sering kalah lawan beton. Simak mengapa kita mudah meratakan gedung tua dan solusi Adaptive Reuse yang menyelamatkan kenangan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Mall baru lagi? Sayangnya, sejarah sering kalah lawan beton. Simak mengapa kita mudah meratakan gedung tua dan solusi Adaptive Reuse yang menyelamatkan kenangan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Deru mesin ekskavator sering kali menjadi lonceng kematian bagi saksi bisu sejarah. Satu per satu, gedung tua yang menyimpan memori kolektif kota runtuh rata dengan tanah.

Tak lama kemudian, bangunan kaca modern seperti pusat perbelanjaan atau apartemen mewah berdiri menggantikannya. Fenomena ini terjadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia.

Kita seolah terobsesi dengan kebaruan dan membenci masa lalu. Padahal, setiap bata yang hancur membawa serta cerita yang tak tergantikan. Pertarungan antara beton dan kenangan ini terus berlangsung, dan sayangnya, kenangan sering kali kalah telak.

Amnesia Sejarah dan Identitas Kota

Penghancuran bangunan bersejarah bukan sekadar hilangnya benda fisik. Lebih dari itu, hal ini memicu risiko “amnesia sejarah”.

Kota tanpa bangunan tua ibarat manusia tanpa ingatan. Ia kehilangan jiwanya. Warga kota menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri karena jejak masa lalu telah terhapus bersih.

Baca Juga :  Diduga Keracunan, Satu Keluarga Tewas di Tanjung Priok, Mulut Korban Berbusa

Akibatnya, identitas kota menjadi seragam dan membosankan. Jakarta, Surabaya, atau Medan perlahan terlihat sama saja: hutan beton yang dingin tanpa karakter unik yang membedakannya.

Dilema: Mahal Dirawat, Menggoda Dijual

Mengapa kita begitu tega? Tentu saja, faktor ekonomi menjadi biang kerok utamanya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Merawat gedung tua membutuhkan biaya yang sangat mahal dan keahlian khusus. Sementara itu, lahan di pusat kota memiliki nilai komersial yang fantastis.

Pemilik properti dan pengembang sering kali berpikir pragmatis. Bagi mereka, meruntuhkan gedung tua dan membangun ruko baru jauh lebih menguntungkan secara finansial daripada melestarikan tumpukan batu bata kuno yang “tidak produktif”.

Solusi Cerdas: “Adaptive Reuse”

Meskipun demikian, secercah harapan mulai muncul. Generasi baru mulai menyadari bahwa masa lalu bisa menjadi modal masa depan. Solusi tersebut bernama Adaptive Reuse atau penggunaan kembali secara adaptif.

Konsep ini tidak memuseumkan gedung tua menjadi tempat sunyi. Sebaliknya, konsep ini menghidupkan kembali bangunan tersebut dengan fungsi baru yang relevan dengan zaman.

Baca Juga :  Teori Perdamaian Demokratis: Mitos atau Fakta

Lihat saja kesuksesan M Bloc Space atau Pos Bloc di Jakarta. Bekas rumah dinas dan gedung pos yang dulu terbengkalai, kini berubah menjadi tempat nongkrong kekinian yang hits.

Pengembang mempertahankan arsitektur aslinya, tetapi mengubah isinya menjadi kafe, ruang konser, dan toko kreatif. Hasilnya, nilai ekonomi tercapai tanpa harus mengubur nilai sejarah.

Membangun di Atas Fondasi, Bukan Kuburan

Pada akhirnya, pembangunan kota tidak harus identik dengan penghancuran. Modernitas dan sejarah bisa berjalan beriringan.

Kita bisa membangun masa depan di atas fondasi masa lalu yang kokoh, bukan di atas kuburannya. Maka, hargailah setiap gedung tua yang tersisa. Jangan biarkan mereka kalah melawan beton. Ingatlah, kota yang maju adalah kota yang mampu merawat kenangannya, bukan yang melupakannya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengenal Metaverse di Tahun 2026: Masihkah Relevan atau Hanya Sekadar Tren?
5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam
49 Siswa MTs di Cilegon Keracunan Usai Menyantap MBG, Polisi Selidiki Dapur SPPG
Panduan Membangun Smart Home Budget Minimalis: Mulai dari Mana?
Suami Bunuh Istri 17 Tahun di Minahasa Tenggara, Cemburu Berujung Maut
Banjir Jakarta 17 April 2026, 21 RT Terendam Akibat Luapan Kali Ciliwung
Rumah Terkunci Jadi Petaka, 5 Orang Sekeluarga Tewas Terbakar – Api dari Tiang Listrik
Digital Detox 101: Cara Memutus Kecanduan Gadget

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 12:40 WIB

Mengenal Metaverse di Tahun 2026: Masihkah Relevan atau Hanya Sekadar Tren?

Jumat, 17 April 2026 - 11:32 WIB

5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam

Jumat, 17 April 2026 - 10:27 WIB

49 Siswa MTs di Cilegon Keracunan Usai Menyantap MBG, Polisi Selidiki Dapur SPPG

Jumat, 17 April 2026 - 10:25 WIB

Panduan Membangun Smart Home Budget Minimalis: Mulai dari Mana?

Jumat, 17 April 2026 - 10:05 WIB

Suami Bunuh Istri 17 Tahun di Minahasa Tenggara, Cemburu Berujung Maut

Berita Terbaru

Ilustrasi, Benteng digital yang retak. Di tahun 2026, metode peretasan telah berevolusi menggunakan kecerdasan buatan, membuat kebiasaan lama kita tidak lagi cukup untuk melindungi identitas dan aset finansial di ruang siber. Dok: Istimewa.

NETIZEN

5 Kebiasaan Buruk yang Membuat Data Pribadi Anda Terancam

Jumat, 17 Apr 2026 - 11:32 WIB