PHILADELPHIA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda berdiri mematung di lorong supermarket, bingung memilih satu dari 273 jenis sereal yang tersedia? Secara logika, kita berpikir bahwa memiliki banyak pilihan akan meningkatkan kualitas hidup. Jika sedikit pilihan itu baik, maka banyak pilihan pasti lebih baik, bukan?
Ternyata, asumsi itu salah besar. Riset psikologi terbaru menunjukkan bahwa kebebasan memilih yang berlebihan justru bisa menjadi bumerang mental. Faktanya, memiliki lebih banyak opsi sering kali membuat kita merasa lebih buruk, bukan lebih baik.
Penelitian membedakan manusia ke dalam dua tipe pengambil keputusan: “Maximizer” dan “Satisficer”. Perbedaan pola pikir kedua tipe ini menjadi kunci untuk memahami mengapa sebagian orang merasa puas dengan hidup mereka, sementara yang lain terus dihantui rasa kurang.
Maximizer vs Satisficer: Siapa Anda?
Siapakah mereka? Maximizer adalah orang yang selalu berambisi membuat pilihan terbaik yang mungkin ada. Mereka tidak akan puas sebelum mengecek semua opsi. Sebaliknya, Satisficer adalah mereka yang menetapkan standar “cukup bagus”. Jika mereka menemukan sesuatu yang memenuhi standar tersebut, mereka berhenti mencari.
Kami menyusun “Skala Maksimisasi” untuk mengukur kecenderungan ini. Hasilnya, individu dengan skor tinggi (Maximizer) terlibat dalam perbandingan produk yang melelahkan. Mereka membaca label, membandingkan harga, dan butuh waktu lama untuk memutuskan.
Namun, ironi terjadi. Meskipun Maximizer mungkin mendapatkan produk yang secara objektif lebih bagus, mereka justru merasa paling tidak bahagia.
“Mereka lebih rentan mengalami penyesalan setelah pembelian,” catat laporan riset tersebut. Jika barang yang mereka beli sedikit saja mengecewakan, butuh waktu lama bagi mereka untuk memulihkan perasaan. Bahkan, Maximizer ekstrem memiliki skor depresi yang berada di ambang batas klinis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hantu Bernama “Biaya Peluang”
Mengapa ini terjadi? Salah satu biang keladinya adalah “biaya peluang” (opportunity costs). Kualitas sebuah pilihan tidak bisa kita nilai secara terisolasi. Setiap kali kita memilih A, kita kehilangan kesempatan menikmati B.
Misalnya, biaya peluang berlibur di pantai adalah kehilangan kesempatan makan di restoran mewah di pegunungan. Masalahnya, Maximizer memikirkan biaya ini jauh lebih dalam daripada Satisficer.
Riset Daniel Kahneman dan Amos Tversky menunjukkan bahwa manusia merespons kerugian jauh lebih kuat daripada keuntungan. Akibatnya, semakin banyak alternatif yang tersedia, semakin dalam rasa “kehilangan” kita atas opsi yang tidak kita pilih, dan semakin berkurang kepuasan kita terhadap keputusan akhir.
Jebakan Biaya Hangus
Selain penyesalan, manusia juga terjebak dalam “biaya hangus” (sunk costs). Dalam sebuah eksperimen klasik, peneliti menawarkan tiket langganan teater dengan harga penuh dan diskon.
Ternyata, pembeli tiket harga penuh lebih rajin datang menonton daripada pembeli tiket diskon. Alasannya, mereka merasa akan mengalami penyesalan lebih besar jika menyia-nyiakan tiket mahal tersebut. Rasa takut rugi ini menyetir perilaku mereka.
Oleh karena itu, resep kebahagiaan sebenarnya sederhana: batasi pilihan Anda. Satisficer menang karena filosofi “cukup bagus” mereka melindungi diri dari pusingnya memikirkan biaya peluang.
Mungkin sudah saatnya kita membuat aturan sederhana: jangan mengunjungi lebih dari dua toko saat membeli baju. Terkadang, membatasi diri adalah bentuk kebebasan yang sesungguhnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















