MIMIKA, POSNEWS.CO.ID – Situasi keamanan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kembali mengkhawatirkan.
Sembilan warga sipil, seluruhnya perempuan, dilaporkan disandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Yang membuat kasus ini semakin memprihatinkan, sebagian besar korban masih berusia anak-anak dan remaja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan informasi awal kepolisian, usia para korban berkisar 13 hingga 18 tahun. Salah seorang di antaranya, Nemerina Wamang (17), dilaporkan sedang hamil muda.
Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak membenarkan laporan penyanderaan tersebut. Informasi awal diperoleh anggota Polsek Jila dari keluarga para korban.
“Sudah ada nama-nama yang disandera berdasarkan informasi dari keluarga korban. Ada sembilan orang. Rata-rata korban berusia 13 sampai 17 tahun,” ujar Alredo di Timika, Rabu (19/8/2026).
Sembilan Perempuan Jadi Korban
Polisi mencatat sembilan warga yang dilaporkan disandera, yakni:
- Nemerina Wamang (17), dilaporkan sedang hamil muda.
- Alin Mesawarol, siswi kelas VI SD.
- Nopi Aim, siswi kelas IV SD.
- Opinte Meswaro, siswi kelas III SD.
- Yonita Senawatme (18).
- Meria Nibilingame (15).
- Wena Katagame (18).
- Ilimin Onawame (18).
- Miante Nibilingame (13).
Kondisi tersebut menambah keprihatinan karena terdapat sejumlah anak di bawah umur dalam daftar korban yang dilaporkan.
Namun, kepolisian masih melakukan verifikasi dan pendalaman terhadap seluruh informasi yang diterima dari lapangan.
Status para korban serta kronologi lengkap kejadian juga masih dalam proses penyelidikan.
Polisi Tambah Kekuatan
Menghadapi situasi tersebut, Polres Mimika menyiapkan langkah pengamanan dan penyelidikan.
Polisi akan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memperkuat personel di Polsek Jila.
Polres Mimika juga meminta dukungan Brimob Batalyon B untuk membantu personel yang berada di Jila.
“Langkah berikutnya dengan melakukan olah TKP. Kami meminta bantuan dari Brimob Batalyon B untuk mem-backup rekan-rekan kami di Polsek Jila,” kata Alredo.
Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan keselamatan warga sekaligus memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai dugaan penyanderaan.
Situasi Jila Memang Mengkhawatirkan
Distrik Jila bukan wilayah yang asing dengan persoalan keamanan.
Sebelumnya, warga setempat juga pernah menyuarakan kekhawatiran terkait kondisi keamanan dan meminta perhatian lebih serius terhadap keselamatan masyarakat sipil.
Dalam salah satu aksi warga, masyarakat bahkan mendesak adanya perlindungan terhadap perempuan dan anak serta meminta Komnas HAM ikut memantau kondisi di Jila.
Karena itu, laporan dugaan penyanderaan sembilan perempuan ini kembali menjadi alarm keras.
Warga sipil, terlebih anak-anak dan perempuan, harus mendapatkan perlindungan maksimal dari ancaman kekerasan.
Jangan Biarkan Anak Jadi Korban Konflik
Kasus ini bukan sekadar persoalan keamanan. Ada sisi kemanusiaan yang jauh lebih besar.
Jika laporan tersebut terbukti, sembilan perempuan yang sebagian masih anak-anak tengah menghadapi situasi yang sangat rentan.
Terlebih, salah satu korban dilaporkan sedang hamil muda. Aparat keamanan kini dituntut bertindak cepat, tetapi tetap mengutamakan keselamatan para korban.
Setiap langkah penyelamatan harus dilakukan secara terukur agar tidak menambah risiko terhadap warga yang diduga berada dalam penyanderaan.
Konflik bersenjata tidak boleh menjadikan warga sipil sebagai korban. Anak-anak seharusnya berada di sekolah, bukan berada dalam ancaman kekerasan.
Masyarakat yang mengetahui informasi mengenai keberadaan para korban diharapkan segera menyampaikannya kepada aparat berwenang dan tidak mengambil tindakan sendiri.
Keselamatan sembilan perempuan tersebut kini menjadi prioritas. Kepastian tentang kondisi mereka harus segera diperoleh dan seluruh fakta kasus ini wajib diungkap secara terang. **
Editor : Hadwan














