Nasib Gorila dan Ekonomi Rakyat di Ujung Batang Bambu

Minggu, 11 Januari 2026 - 14:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dianggap gulma invasif di Barat, namun penyambung nyawa di Afrika dan Asia. Laporan PBB mengungkap ketidaktahuan kita tentang tanaman tercepat di dunia ini. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dianggap gulma invasif di Barat, namun penyambung nyawa di Afrika dan Asia. Laporan PBB mengungkap ketidaktahuan kita tentang tanaman tercepat di dunia ini. Dok: Istimewa.

NAIROBI, POSNEWS.CO.ID – Setiap musim hujan, gorila gunung di Afrika tengah melakukan ritual migrasi penting. Mereka turun ke lereng Pegunungan Virunga untuk berpesta pucuk bambu. Bagi 650 ekor gorila yang tersisa di alam liar, tanaman ini bukan sekadar camilan, melainkan sumber makanan vital.

Ian Redmond, ketua Ape Alliance, memperingatkan bahwa tanpa bambu, peluang bertahan hidup primata besar ini akan anjlok signifikan. Namun, gorila bukan satu-satunya yang bergantung pada tanaman ini. Penduduk lokal, dan bahkan ekonomi global, sangat membutuhkan “emas hijau” ini.

Sayangnya, dalam 100 tahun terakhir, tekanan populasi dan pembukaan lahan perkebunan komersial telah membabat habis hutan bambu. Tren ini terjadi di seluruh dunia, membahayakan manusia dan hewan yang bergantung padanya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketidaktahuan Global yang Mengkhawatirkan

Meskipun bambu sangat penting, pengetahuan kita tentangnya ternyata sangat minim. Laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Jaringan Internasional untuk Bambu dan Rotan (INBAR) menyingkap fakta mengejutkan: dunia masih “buta” mengenai konservasi sumber daya bambu global.

Baca Juga :  Menjaga Mata dan Mental dari Paparan Blue Light yang Mengintai

Ada sekitar 1.200 varietas bambu berkayu yang kita kenal. Akan tetapi, hanya 38 spesies “prioritas” yang bernilai komersial yang pernah diteliti secara ilmiah. Dr. Valerie Kapos, salah satu penulis laporan, menyebut sains penilaian status konservasi tanaman ini masih “bayi” dibandingkan riset hewan.

Superplant: Tumbuh Semeter Sehari

Bambu adalah juara lari di dunia tanaman. Beberapa spesies bisa tumbuh lebih dari satu meter hanya dalam satu hari. Lebih dari itu, peran ekologisnya sangat krusial. Sistem akarnya (rizoma) menjalar di lapisan tanah atas, bertindak sebagai jaring alami pencegah erosi tanah.

Bahkan, bambu mengatur dinamika hutan dengan cara unik. Pola kematian massal bambu meninggalkan biomassa kering yang memicu kebakaran hutan alami. Ternyata, kebakaran ini menciptakan celah terbuka (gaps) di kanopi hutan yang justru penting bagi regenerasi spesies tanaman tertentu.

Tulang Punggung Ekonomi Rakyat

Nilai ekonomi bambu tak kalah fantastis. Secara global, perdagangan produk bambu lokal bernilai sekitar US$4,5 miliar per tahun. Di India, 25 persen kertas yang diproduksi berasal dari serat bambu.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Sejarah Bondi Beach: Dari Tanah Adat Eora Menuju Ikon Wisata Global

Chris Stapleton dari Royal Botanic Gardens Inggris menyoroti peran sosialnya. “Bambu sering kali menjadi satu-satunya bahan baku yang tersedia bagi masyarakat di negara berkembang,” ujarnya. Tanpa perlu mesin mahal, warga bisa mengolahnya menjadi rumah atau kerajinan, menjadikannya alat ampuh pengentasan kemiskinan.

Paradoks: Invasif tapi Terancam?

Para pekebun di Barat mungkin bingung. Di taman mereka, bambu sering dianggap gulma invasif yang sulit mati. Lantas, bagaimana mungkin tanaman “bandel” ini terancam punah?

Ray Townsend, manajer arboretum di Royal Botanic Gardens, menjelaskan kesalahpahaman ini. Masalahnya bukan pada kekuatan tanaman itu sendiri—bambu sangat tangguh. Masalah utamanya adalah hilangnya habitat.

“Ketika hutan hilang dan dikonversi menjadi sesuatu yang lain, maka tidak ada lagi tempat bagi tanaman hutan seperti bambu untuk tumbuh,” jelas Townsend.

Laporan UNEP-INBAR ini diharapkan menjadi titik balik. Selama ini, dunia konservasi memandang bambu sebagai “warga kelas dua” di bawah pohon kayu keras. Kini, saatnya kita melindungi bambu liar demi gorila, lingkungan, dan masa depan ekonomi kita sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB