Milisi Kurdi Siapkan Serangan Darat ke Iran dengan Restu AS dan Israel

Sabtu, 7 Maret 2026 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Membuka front kedua. Kelompok pemberontak Kurdi di Irak bersiap menyeberangi perbatasan guna merebut kota-kota di Iran Barat, memanfaatkan kelumpuhan Teheran akibat kampanye udara AS-Israel. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Membuka front kedua. Kelompok pemberontak Kurdi di Irak bersiap menyeberangi perbatasan guna merebut kota-kota di Iran Barat, memanfaatkan kelumpuhan Teheran akibat kampanye udara AS-Israel. Dok: Istimewa.

ERBIL, POSNEWS.CO.ID – Gempuran udara masif kini melumpuhkan pusat komando Teheran. Kondisi ini memicu munculnya front pertempuran darat baru di wilayah barat Iran. Milisi Kurdi Iran yang berbasis di Irak mulai memobilisasi ribuan pejuang. Mereka berencana meluncurkan serangan lintas perbatasan dalam waktu dekat.

Rencana serangan darat ini menarik perhatian dunia. Hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump memberikan sinyal hijau secara eksplisit. Dalam wawancara bersama Reuters, Trump menyebut rencana penyeberangan perbatasan itu sebagai hal “luar biasa”. Pasukan Kurdi ingin memanfaatkan momentum ini untuk menantang rezim Iran yang sedang terdesak.

Dukungan Intelijen dan Strategi Israel

Sumber internal mengungkapkan bahwa keterlibatan asing dalam rencana ini sudah berlangsung lama. Israel kabarnya telah mengadakan pembicaraan rahasia dengan kelompok pembangkang Kurdi selama satu tahun terakhir.

Tujuan utama dukungan ini bukanlah untuk menggulingkan pemerintah Iran secara langsung. Sebaliknya, Tel Aviv dan Washington berharap pemberontakan ini mampu mengikis kendali Teheran. Langkah tersebut juga bertujuan mengalihkan konsentrasi Garda Revolusi (IRGC) dari pertahanan udara. Selain itu, warga Kurdi di Iran mulai aktif memberikan intelijen penargetan kepada militer AS dan Israel. Informasi ini membantu pelaksanaan serangan udara yang lebih presisi di area perbatasan.

Baca Juga :  Komisi III DPR Minta Kasus Hogi Minaya di Sleman Dihentikan, Jaksa Setuju

Aliansi Lima Faksi dan Kekuatan Militer

Analis memprediksi ofensif ini akan pecah dalam sepekan ke depan. Lima faksi oposisi Kurdi di Irak telah resmi membentuk aliansi militer. Koalisi ini mencakup:

  • Kurdistan Free Life Party (PJAK)
  • Democratic Party of Iranian Kurdistan (PDKI)
  • Kurdistan Freedom Party (PAK)

Lembaga intelijen independen memperkirakan kekuatan mereka mencapai 5.000 hingga 8.000 pejuang. Milisi ini awalnya hanya memiliki senjata ringan. Namun, mereka kini meminta bantuan alutsista berat seperti drone dan artileri kepada Washington. Fokus operasi awal mereka adalah merebut kota strategis seperti Oshnavieh dan Piranshahr.

Baca Juga :  Kasus Bayi Ditelantarkan di Bekasi Selatan, Sejoli Ditangkap di Jakarta Barat dan Pusat

Hambatan Diplomatik dan Risiko “Pengkhianatan”

Meskipun mendapatkan dorongan AS, rencana ini menghadapi perlawanan internal. Otoritas di Erbil membantah rencana pengiriman pejuang secara publik. Mereka khawatir Teheran akan meluncurkan serangan balasan langsung ke wilayah Kurdistan Irak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, para pemimpin milisi masih menyimpan keraguan mendalam terhadap komitmen Amerika Serikat. Mereka mengkhawatirkan risiko “pengkhianatan” serupa yang menimpa kelompok Kurdi di Suriah Utara. “Kami membutuhkan jaminan tertulis agar tidak ditinggalkan nantinya,” ujar salah satu sumber milisi.

Analis seperti Danny Citrinowicz memperingatkan risiko besar dari dukungan ini. Langkah tersebut justru dapat memicu semangat nasionalisme warga Iran untuk bersatu membela negara. Hal ini juga mengkhawatirkan Turki dan Irak yang menghadapi tantangan separatisme serupa. Perang darat di barat Iran kini menjadi variabel tidak menentu bagi stabilitas kawasan sepanjang tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

118 Ribu Warga Mengungsi di Tengah Gempuran Udara Pakistan-Afghanistan
Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka
Jusuf Kalla Minta Pemerintah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis dan Belanja Negara
Perang Iran Lumpuhkan Penerbangan Global dan Picu Rekor Harga Avtur
Industri Musik Berduka, Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun
Ukraina dan Rusia Pulangkan 1.000 Tawanan Perang Melalui Mediasi AS-UEA
Izin SMK IDN Bogor Dicabut Gubernur Dedi Mulyadi, Orang Tua Siswa Datangi KCD Pendidikan
Perombakan Kabinet Keamanan AS: Trump Copot Kristi Noem dan Tunjuk Markwayne Mullin Pimpin DHS

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 22:16 WIB

118 Ribu Warga Mengungsi di Tengah Gempuran Udara Pakistan-Afghanistan

Sabtu, 7 Maret 2026 - 21:11 WIB

Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka

Sabtu, 7 Maret 2026 - 20:36 WIB

Jusuf Kalla Minta Pemerintah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis dan Belanja Negara

Sabtu, 7 Maret 2026 - 20:30 WIB

Milisi Kurdi Siapkan Serangan Darat ke Iran dengan Restu AS dan Israel

Sabtu, 7 Maret 2026 - 19:55 WIB

Perang Iran Lumpuhkan Penerbangan Global dan Picu Rekor Harga Avtur

Berita Terbaru

Konflik melintasi samudra. Kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan frigat terbaru Iran, IRIS Dena, di lepas pantai Sri Lanka. Peristiwa ini menandai eskalasi militer pertama yang melibatkan torpedo sejak Perang Dunia II. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka

Sabtu, 7 Mar 2026 - 21:11 WIB