ERBIL, POSNEWS.CO.ID – Gempuran udara masif kini melumpuhkan pusat komando Teheran. Kondisi ini memicu munculnya front pertempuran darat baru di wilayah barat Iran. Milisi Kurdi Iran yang berbasis di Irak mulai memobilisasi ribuan pejuang. Mereka berencana meluncurkan serangan lintas perbatasan dalam waktu dekat.
Rencana serangan darat ini menarik perhatian dunia. Hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump memberikan sinyal hijau secara eksplisit. Dalam wawancara bersama Reuters, Trump menyebut rencana penyeberangan perbatasan itu sebagai hal “luar biasa”. Pasukan Kurdi ingin memanfaatkan momentum ini untuk menantang rezim Iran yang sedang terdesak.
Dukungan Intelijen dan Strategi Israel
Sumber internal mengungkapkan bahwa keterlibatan asing dalam rencana ini sudah berlangsung lama. Israel kabarnya telah mengadakan pembicaraan rahasia dengan kelompok pembangkang Kurdi selama satu tahun terakhir.
Tujuan utama dukungan ini bukanlah untuk menggulingkan pemerintah Iran secara langsung. Sebaliknya, Tel Aviv dan Washington berharap pemberontakan ini mampu mengikis kendali Teheran. Langkah tersebut juga bertujuan mengalihkan konsentrasi Garda Revolusi (IRGC) dari pertahanan udara. Selain itu, warga Kurdi di Iran mulai aktif memberikan intelijen penargetan kepada militer AS dan Israel. Informasi ini membantu pelaksanaan serangan udara yang lebih presisi di area perbatasan.
Aliansi Lima Faksi dan Kekuatan Militer
Analis memprediksi ofensif ini akan pecah dalam sepekan ke depan. Lima faksi oposisi Kurdi di Irak telah resmi membentuk aliansi militer. Koalisi ini mencakup:
- Kurdistan Free Life Party (PJAK)
- Democratic Party of Iranian Kurdistan (PDKI)
- Kurdistan Freedom Party (PAK)
Lembaga intelijen independen memperkirakan kekuatan mereka mencapai 5.000 hingga 8.000 pejuang. Milisi ini awalnya hanya memiliki senjata ringan. Namun, mereka kini meminta bantuan alutsista berat seperti drone dan artileri kepada Washington. Fokus operasi awal mereka adalah merebut kota strategis seperti Oshnavieh dan Piranshahr.
Hambatan Diplomatik dan Risiko “Pengkhianatan”
Meskipun mendapatkan dorongan AS, rencana ini menghadapi perlawanan internal. Otoritas di Erbil membantah rencana pengiriman pejuang secara publik. Mereka khawatir Teheran akan meluncurkan serangan balasan langsung ke wilayah Kurdistan Irak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, para pemimpin milisi masih menyimpan keraguan mendalam terhadap komitmen Amerika Serikat. Mereka mengkhawatirkan risiko “pengkhianatan” serupa yang menimpa kelompok Kurdi di Suriah Utara. “Kami membutuhkan jaminan tertulis agar tidak ditinggalkan nantinya,” ujar salah satu sumber milisi.
Analis seperti Danny Citrinowicz memperingatkan risiko besar dari dukungan ini. Langkah tersebut justru dapat memicu semangat nasionalisme warga Iran untuk bersatu membela negara. Hal ini juga mengkhawatirkan Turki dan Irak yang menghadapi tantangan separatisme serupa. Perang darat di barat Iran kini menjadi variabel tidak menentu bagi stabilitas kawasan sepanjang tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















