PBB Cemas: Gencatan Senjata Gaza Rapuh di Hari ke-100

Rabu, 21 Januari 2026 - 06:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lebih dari 460 nyawa melayang sejak gencatan senjata dimulai. Kini, krisis meluas ke Tepi Barat di mana 25.000 warga Hebron terkurung di rumah mereka tanpa listrik dan roti. Dok: Istimewa.

Lebih dari 460 nyawa melayang sejak gencatan senjata dimulai. Kini, krisis meluas ke Tepi Barat di mana 25.000 warga Hebron terkurung di rumah mereka tanpa listrik dan roti. Dok: Istimewa.

GAZA, POSNEWS.CO.ID – Gencatan senjata di Gaza kini berada di ujung tanduk. Para pekerja kemanusiaan PBB pada hari Senin (20/1) menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai keberlanjutan kesepakatan damai yang dimulai sejak 10 Oktober lalu.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menegaskan urgensi situasi ini. “Semua pihak harus mempertahankan perjanjian gencatan senjata—yang telah melewati batas waktu 100 hari—agar dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa warga sipil,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Namun, realitas di lapangan berkata lain. Berbagai pembatasan dan rintangan birokrasi terus menghambat peningkatan skala kerja kemanusiaan. Situasi makin runyam dengan cuaca musim dingin yang ekstrem, yang memperlambat kemajuan distribusi bantuan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Laporan Situasi Respons Kemanusiaan Gaza terbaru yang OCHA terbitkan pada Jumat melukiskan gambaran suram. Otoritas kesehatan Gaza melaporkan 14 warga Palestina tewas dan 23 lainnya terluka hanya dalam waktu 48 jam.

Baca Juga :  Thailand Dorong Normalisasi Hubungan Myanmar dengan ASEAN

Angka ini menambah daftar panjang korban jiwa. Sejak gencatan senjata bermula, total korban tewas mencapai 463 orang dan 1.269 luka-luka. Data ini membuktikan betapa rapuhnya definisi “damai” di wilayah tersebut.

Koridor Kemanusiaan dan Vaksinasi

Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan betapa labilnya situasi pangan di Gaza. Meskipun badan tersebut berhasil menjangkau lebih dari satu juta orang setiap bulan melalui paket makanan dan roti, tingkat ketidakamanan pangan tetap tinggi.

WFP mendesak pembukaan koridor kemanusiaan tambahan yang aman dari Mesir dan Yordania, serta di sepanjang jalan Salah Ad Din di dalam Gaza, untuk meningkatkan volume bantuan.

Di sektor kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama UNICEF dan UNRWA tidak tinggal diam. Mereka meluncurkan putaran kedua kampanye imunisasi rutin untuk melindungi anak-anak di bawah usia tiga tahun. Pihak berwenang mengerahkan 170 tim medis ke hampir 130 fasilitas kesehatan dan daerah-daerah terpencil hingga hari Kamis.

Hebron Mencekam: Sniper di Atap Rumah

Sementara mata dunia tertuju pada Gaza, krisis baru meletus di Tepi Barat. OCHA melaporkan bahwa pasukan Israel melancarkan operasi besar-besaran di kota Hebron pada hari Senin.

Baca Juga :  Ragunan Besok Dibuka Sampai Malam, Pramono Uji Coba Wisata Malam Jakarta

Dampaknya instan dan melumpuhkan. OCHA memperkirakan 25.000 warga Palestina di wilayah H2 yang Israel kuasai kini hidup di bawah jam malam. Laporan awal menunjukkan pengerahan berat kendaraan militer, penutupan enam jalan internal, dan penempatan penembak jitu (snipers) di atap-atap gedung.

Kehidupan warga lumpuh total. “Akibatnya, empat toko roti harus menghentikan operasi mereka,” lapor OCHA. Toko-toko tempat 4.000 orang biasanya mengambil jatah bantuan PBB juga tutup.

Kegiatan pendidikan pun terhenti. Otoritas setempat menutup lebih dari selusin sekolah, yang berdampak pada ribuan siswa. Pihak berwenang berusaha memfasilitasi sekolah daring, namun pemadaman listrik besar-besaran akibat kerusakan pembangkit listrik lokal membuat hal itu nyaris mustahil.

Keluarga kini terisolasi di rumah mereka. Mereka kesulitan mengakses makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya di tengah kegelapan kota yang terkepung.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB