TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Proses pemungutan suara untuk pemilihan umum majelis rendah Jepang resmi mulai berlangsung pada Minggu pagi. Sebanyak 1.284 kandidat kini bersaing ketat untuk memperebutkan 465 kursi di parlemen.
Fokus utama pemilu kali ini adalah nasib koalisi pemerintahan Partai Demokrat Liberal (LDP). Publik akan menentukan apakah administrasi Perdana Menteri Sanae Takaichi tetap berlanjut atau kekuatan oposisi akan berhasil memblokir langkah tersebut. TPS di seluruh negeri akan tutup pada pukul 20.00 waktu setempat; petugas memprediksi penghitungan suara akan berlangsung hingga larut malam.
Struktur Kursi dan Peta Persaingan
Parlemen Jepang mengalokasikan 465 kursi majelis rendah melalui dua mekanisme berbeda. Sebanyak 289 kursi berasal dari daerah pemilihan tunggal. Sementara itu, sistem representasi proporsional di 11 blok regional akan menentukan 176 kursi lainnya.
Beberapa jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa koalisi LDP masih berpeluang mengamankan mayoritas kursi. Namun, aliansi oposisi baru, Centrist Reform Alliance, mulai menunjukkan perlawanan meskipun kehilangan pijakan dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, tingginya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) membuat publik masih sulit memprediksi hasil akhir pemilu ini.
Skandal Dana Gelap dan Ujian Takaichi
Perdana Menteri Sanae Takaichi mengambil langkah berani dengan membubarkan parlemen pada 23 Januari lalu. Langkah ini menandai pembubaran parlemen pertama di awal sesi reguler dalam 60 tahun terakhir. Bahkan, Takaichi bersumpah akan segera mundur jika koalisinya gagal mempertahankan mayoritas kursi.
Namun, keputusan ini memicu kritik tajam dari berbagai pihak. Para penentang menilai Takaichi lebih mementingkan pertimbangan politik daripada pengesahan anggaran tahun 2026. Selain itu, skandal dana gelap yang terus menghantui LDP menjadi faktor utama ketidakpastian dalam pemilu kali ini. Oleh karena itu, integritas partai penguasa menjadi sorotan utama di bilik suara.
Kendala Cuaca dan Partisipasi Pemilih
Selain isu politik, kendala alam juga membayangi proses demokrasi di Jepang. Ini merupakan pemilihan majelis rendah pertama yang berlangsung pada bulan Februari sejak tahun 1990. Saat ini, salju tebal terus mengguyur wilayah pesisir Laut Jepang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi cuaca ekstrem tersebut memicu kekhawatiran mengenai gangguan transportasi bagi para pemilih. Bahkan, pihak berwenang memperingatkan adanya risiko keselamatan bagi warga yang menuju tempat pemungutan suara. Situasi ini berisiko menekan tingkat partisipasi pemilih (voter turnout) secara nasional. Akibatnya, hasil pemilu mungkin akan sangat bergantung pada mobilisasi basis massa di menit-menit terakhir sebelum petugas menutup pemungutan suara.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















